RadarSitubondo.id - SMAN 2 Situbondo menggelar pengajian akbar di lapangan sekolah, Kamis lalu (17/4). Acara tersebut dihadiri Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah-Syafi’iyah Sukorejo, Kiai Azaim Ibrahimy dan jamiyah Selawat Bhenning Sukorejo. Turut hadir wakil Bupati Situbondo, Mbak Ulfiyah.
Plt. Kepala SMAN `2 Situbondo, Drs. Gatot Dwi Pujihandoko mengaku sangat bersyukur kepada Allah sudah bisa melaksanakan kegiatan pengajian akbar tiap tahun. Terlebih lagi bisa selalu dihadiri oleh Kiai Azaim Ibrahimy.
“Ini adalah suatu kebanggaan bagi kita semua. Dan kami mengucapkan banyak terimakasih kepada Kiai Azaim yang tak terhingga. Semoga acara selanjutnya, kiai Azaim bisa berkenan hadir kembali ke acara-acara SMAN 2 situbondo,” harap Gatot.
Kata dia, kegiatan selawat merupakan bentuk edukasi yang langsung diberikan kepada peserta didik. Tujuannya untuk membentuk karakter mereka gemar berselawat. ”Kegiatan berselawat memberikan edukasi kepada siswa dan siswi untuk pendidikan karakter. Sehingga, anak-anak kami nanti diharapkan meniru atau meneladani akhlak Nabi Muhammad,” imbuh Gatot.
Wakasek Kesiswaan SMAN 2 Situbondo, Jefri Gunawan menambahkan, kegiatan selawat bersama kiai Azaim dan Selawat Bhening akan terus dilaksanakan setiap tahunnya. Bahkan, untuk tahun depan, kegiatan ini sudah terjadwal.
"Pada tanggal 13 April 2025, insya allah akan dilaksanakan kembali. Kami mengajak kepada lapisan masyarakat untuk ikut mendukung suksesnya kegiatan ini. Selamat berjumpa di Smada Prima Berselawat (SPB) III," ungkap Pria yang juga menjabat sekretaris DKS tersebut.
Kiai Azaim Ibrahimy, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo dalam tausyiahnya mengatakan, keutamaan orang yang belajar dan menjadikan Bulan Ramadan sebagai contoh kurikulum pendidikan bagi manusia yang ingin mendapat ridha dari Allah.
“Bulan ramadan dapat dianggap sebagai madrasah, tempat kita bersekolah untuk mendapatkan pendidikan spiritual. Jenjang tingkatnya ada tiga tahap, yaitu, 10 hari pertama sebagai kelas kasih sayang dari Allah. 10 hari pertengahan sebagai kelas ampunan dari Allah. 10 hari terakhir sebagai kemenagan terbebas dari neraka,” ucap Kiai Azaim.
Dengan menjalani kurikulum pendidikan tersebut, diharapkan dapat menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat dan mendapatkan predikat 'Minal Aidhin Wal Faizin', yaitu orang yang kembali pada fitrahnya dan beruntung dengan diterimanya segala amal baik.
“Setelah satu bulan berpuasa lalu melakukan ibadah, maka mendapat hadiah segala amal baik diterima dan mendapat ridha dari allah,” Tutur kiai Azaim.
Dalam madrasah harus memiliki pendidik, dan dalam madrasah kehidupan, para nabi diturunkan untuk mengajar. Maka predikat gelar pengajar adalah tugas kenabian. Sedangkan bagi yang menjadi guru sebenarnya melanjukan tugas nabi dalam meneyebarkan ilmu.
“Mereka yang bertugas menjalankan kebaikan mendapat predikat yang luar biasa dari Allah. Orang yang mengajarkan kebaikan apapun, adalah orang yang baik. Jadi setiap guru mendapat peluang besar mendapat doa dari segala makhluk allah,” pungkas kiai Azaim. (hum/pri)
Editor : Edy Supriyono