RadarSitubondo.id - SMKN 2 Situbondo menggelar acara Halal Bihalal di halaman sekolah, sekaligus peresmian Masjid Al-Haddad, kamis (18/4) kemarin. Acara tersebut dihadiri langsung Pengasuh Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo, Kiai Azaim Ibrahimy dan orang tua siswa.
Kepala SMKN 2 Situbondo, Suyitno, S.Pd, bersyukur karena acara halal bihalal berjalan lancar. Baginya, bukan hal yang gampang untuk menghadirkan pengasuh pesantren terbesar di Situbondo tersebut.
“Menghadirkan beliau (Kiai Azaim) memang harapan kami semua. Karena untuk mendatangkan Kiai Azaim bukan hal yang gampang, tapi alhamdulillah Kiai berkenan hadir sekaligus memotong pita peresmian Masjid Al- Haddad, di kawasan sekolah,” ujar Suyitno, kemaarin (18/4).
Kata dia, acara halal bihalal diharapkan bisa memotivasi semua guru agar lebih semangat dan ikhlas dalam mengajar para siswa. Begitu pun para siswa yang sudah mendengar ceramah agama dari Kiai Azaim bisa tambah rajin sekolah.
“Banyak mutiara hikmah yang disampaikan kiai yang bisa dijadikan motivasi bagi kami. Semoga itu semua bisa menjadikan SMKN 2 Situbondo lebih maju dan muridnya berprestasi,” imbuh Suyitno.
Ketua Komite SMKN 2 Situbondo, H. Ali Yatim, mengapresiasi sekolah yang sudah mengundang guru, murid dan wali murid dalam acara halal bihalal. Sebab, dalam satu manusia pasti memiliki salah baik disengaja maupun tidak disengaja.
“Momentum halal bihalal adalah waktu yang paling pas, guru dengan siswa, guru dengan wali murid saling bermaaf-maafan,” ujarnya.
Kata H. Ali Yatim, untuk tahun berikutnya, sekolah diharapkan bisa mengundang kiai yang memiliki kharisma dalam berdakwah. Setidaknya dengan hadirnya banyak kiai ke SMKN 2 Situbondo, bisa membuat sekolah tambah berkah. “Kalau harapan kami, semoga sekolah ini tambah baik, muridnya tambah berprestasi,” tutup Ali Yatim.
Sementara itu, Kiai Azaim Ibrahimy, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo dalam tausyiahnya mengatakan, keutamaan orang yang belajar dan menjadikan Bulan ramadan sebagai contoh kurikulum pendidikan bagi manusia yang ingin mendapat ridha dari Allah.
“Bulan Ramadan dapat dianggap sebagai madrasah, tempat kita bersekolah untuk mendapatkan pendidikan spiritual. Jenjang tingkatnya ada tiga tahap, yaitu, 10 hari pertama sebagai kelas kasih sayang dari Allah. 10 hari pertengahan sebagai kelas ampunan dari Allah. 10 hari terakhir sebagai kemenagan terbebas dari neraka,” ucap Kiai Azaim.
Dengan menjalani kurikulum pendidikan tersebut, diharapkan dapat menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat dan mendapatkan predikat 'Minal Aidhin Wal Faizin', yaitu orang yang kembali pada fitrahnya dan beruntung dengan diterimanya segala amal baik.
“Setelah satu bulan berpuasa lalu melakukan ibadah, maka mendapat hadiah segala amal baik diterima dan mendapat ridha dari allah,” pungkas Kiai Azaim. (hum/pri)
Editor : Edy Supriyono