RadarSitubondo.id - Suasana hangat dan penuh semangat menyelimuti SMAN 1 Suboh saat menyambut kunjungan mahasiswa luar negeri yang sedang menempuh studi di Universitas Negeri Malang. Kunjungan ini menjadi momen istimewa yang disambut dengan cara unik oleh para guru SMANIS, yakni dengan memainkan alat musik tradisional “ronjhengan”.
Irama khas yang dimainkan berhasil menciptakan nuansa budaya lokal yang kental, membangun suasana kekeluargaan. Selain itu juga memberikan kesan mendalam bagi para tamu dari berbagai negara. Alunan musik tradisional ini seakan menyambut mereka dengan penuh keramahan khas Indonesia.
Kebersamaan yang terjalin tidak hanya mempererat hubungan antar bangsa, tetapi juga menjadi ajang pelestarian budaya daerah yang membanggakan. Dalam sesi pertemuan, para mahasiswa luar negeri turut berbagi pengalaman serta menyampaikan motivasi kepada siswa-siswi SMAN 1 Suboh. Mereka menekankan pentingnya memiliki semangat belajar tinggi dan keberanian dalam menghadapi tantangan global. Melalui kisah perjuangan mereka menuntut ilmu di luar negeri, para mahasiswa ini memberikan dorongan moral agar para pelajar tidak takut bermimpi besar dan terus berusaha mewujudkannya.
Setelah sesi berbagi pengalaman, rombongan mahasiswa luar negeri melanjutkan kegiatan dengan mengunjungi Museum IPS SMAN 1 Suboh. Museum ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi sekolah, karena menyimpan banyak koleksi yang relevan dengan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Berbagai artefak sejarah, alat musik tradisional, foto-foto Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia serta Bupati Besuki I, II dan III, hingga buku-buku lawas disuguhkan kepada para tamu sebagai wujud konkret dari pembelajaran kontekstual yang kreatif. Kunjungan ini pun disambut antusias oleh para mahasiswa yang tampak kagum melihat kekayaan budaya lokal dalam ruang yang sederhana namun sarat makna.
Salah satu pengunjung perempuan bernama Nadia asal Timor Leste mengungkapkan kekagumannya terhadap penyambutan yang diberikan. “Saya pertama kali ke sini sangat kagum dengan musik tradisional yang ditampilkan oleh Museum IPS SMAN 1 Suboh ini, dan merasa unik karena di sekolah ada museum yang dapat dikunjungi oleh seluruh siswa-siswi SMANIS dan masyarakat” ujarnya dengan penuh antusias. Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran museum di lingkungan sekolah memiliki daya tarik tersendiri, bahkan bagi tamu dari luar negeri.
Pendapat lain juga datang dari seorang mahasiswa perempuan bernama Fatima dari Gambia yang terkesan dengan isi museum meski ruangannya tidak begitu besar. “Walaupun Museum IPS ini ukurannya dominan kecil, tapi memiliki banyak sekali gudang ilmu, terutama di bidang IPS. Saya melihat ada musiknya, ada sejarah, dan banyak sekali hal menarik di tempat ini,” ungkapnya sambil tersenyum. Seorang pengunjung lain bernama Afron dari Thailand menambahkan, “Menurut saya, meskipun secara ruang museum ini kecil, tapi memiliki tempat yang sangat bermanfaat. Saya melihat hal-hal baru tentang presiden, uang kuno Indonesia, dan banyak hal lainnya. Saya juga tertarik dengan alat musik angklung yang dimainkan oleh anak-anak, dan saya akan menceritakan pengalaman ini kepada keluarga saya yang ada di Thailand,” katanya.
Salah satu hal yang paling diapresiasi para tamu adalah semangat para siswa Duta Museum IPS dalam menjelaskan isi museum. “Saya lihat siswa-siswi duta Museum IPS ini sangat percaya diri saat menjelaskan dan memberitahu tentang Museum IPS ini. Meskipun museum ini kecil, tapi ada hal yang sangat istimewa seperti memainkan musik tradisional angklung dan saya mencobanya. Saya juga melihat buku yang umurnya sekitar 70 tahun lebih,” ujar salah satu mahasiswa bernama Tidiani dari Mali (salah satu negara di Afrika Barat) dengan penuh semangat.
Tak hanya itu, seorang pengunjung lain juga memberikan apresiasi tinggi, “Saya sangat mengapresiasi anak-anak yang bisa menjelaskan tentang museum ini dengan percaya diri dan kelancaran Bahasa Inggrisnya. Saya juga melihat-lihat koleksi foto presiden dari presiden pertama hingga sekarang. Sangat menakjubkan” pungkasnya.
‘Sebagai Pembina dari Duta Museum IPS ini saya merasa bangga karena kunjungan mahasiswa luar negeri dari Universitas Negeri Malang dapat menjadi contoh dan motivasi agar anak-anak kedepan memiliki percaya diri untuk selalu mengasah kemampuannya” ujar Yuni Widihastuti. (rif/iyo)
Editor : Edy Supriyono