RadarSitubondo.id – Program Beasiswa Situbondo Cerdas yang telah bergulir sejak tahun 2013 ternyata masih menyimpan sejumlah catatan penting. Salah satunya adalah belum adanya aplikasi atau wadah resmi untuk memantau perkembangan para penerima beasiswa, baik dari sisi akademik, karier, maupun kontribusi mereka terhadap daerah.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pendidikan Situbondo, Fathor Rakhman, menyampaikan bahwa sejak awal diluncurkan hingga tahun 2025, jumlah penerima Beasiswa Situbondo Cerdas tercatat sebanyak 135 orang. Namun, menurutnya, jurusan yang diambil oleh para penerima beasiswa sebagian besar belum menyentuh bidang-bidang yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh Kabupaten Situbondo.
“Dari sekian banyak penerima, jurusan seperti kesehatan, kedokteran, manajemen pemerintahan, akuntansi, dan hukum masih bisa ditoleransi karena bisa kita tempatkan di pemerintahan daerah,” ujar Fathor pada Sabtu (16/8), usai kegiatan Sosialisasi Penerima Beasiswa Situbondo Cerdas di Pendopo Rakyat Situbondo.
Menurut Fathor, dari 135 penerima beasiswa, hanya 65 orang yang hadir dalam acara sosialisasi tersebut karena sebagian sedang mengikuti kegiatan perkuliahan dan menjalani profesi masing-masing. “Program ini awalnya bernama Situbondo Unggul pada masa kepemimpinan Bupati Dadang dan Wakil Bupati Rahmad. Program tersebut kemudian berlanjut dan berganti nama menjadi Situbondo Cerdas, sebagaimana dikenal sekarang,” ungkapnya.
Selain itu, Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo yang akrab disapa Mas Rio menekankan pentingnya keberadaan wadah yang bisa menyatukan seluruh penerima beasiswa. Ia mencontohkan perlunya membuat aplikasi resmi Situbondo Cerdas agar seluruh aktivitas para penerima beasiswa dapat dipantau.“Harus ada aplikasi atau minimal ada kantornya. Entah nanti akan dibuat berbentuk yayasan Situbondo Cerdas atau bagaimana, yang penting ada wadah yang bisa memantau semua penerima. Mulai dari nilai akademik, proses belajar, hingga perkembangan karier mereka setelah lulus,” tegas Mas Rio.
Lebih lanjut, Mas Rio juga menekankan para penerima beasiswa seharusnya memiliki komitmen untuk kembali dan mengabdi di Situbondo. Menurutnya, investasi daerah melalui program beasiswa ini harus berujung pada kontribusi nyata, bukan sekadar pencapaian pribadi.“Kita perlu memiliki database lulusan-lulusan penerima beasiswa. Dengan begitu, bisa terlihat mereka sekarang bekerja di mana, atau jangan-jangan ada yang belum bekerja. Jaringan ini akan sangat berguna untuk membangun daerah,” tambahnya.
Mas Rio juga menyoroti pentingnya proses screening yang jelas sejak awal seleksi. Menurutnya, pemerintah harus lebih selektif dalam mengarahkan jurusan yang dipilih oleh calon penerima beasiswa agar selaras dengan potensi dan kebutuhan daerah, seperti kepariwisataan, perikanan, dan teknologi pertanian.“Jurusan yang dibutuhkan daerah itu kepariwisataan, perikanan, dan teknologi pertanian karena kita mau fokus pada hilirisasi. Karena itu, saya minta OPD terkait melakukan screening ketat agar jurusan yang dipilih benar-benar sesuai dengan kebutuhan daerah,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu penerima Beasiswa 8Situbondo Cerdas, Nurvita mahasiswi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember (UNEJ) menyampaikan apresiasinya terhadap program ini. Menurutnya, bantuan tersebut sangat meringankan beban keluarga dan membuatnya lebih fokus dalam belajar.“Beasiswa ini sangat membantu, apalagi di bidang kedokteran yang memang membutuhkan biaya besar. Saya berharap setelah lulus bisa kembali memberikan manfaat untuk Situbondo, khususnya di bidang kesehatan,” ujar Nuvita. (rif/pri)
Editor : Edy Supriyono