RADARSITUBONDO.ID – Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendikbud) Kabupaten Situbondo mencatat jumlah anak yang tidak melanjutkan sekolah mencapai sekitar 5.828 siswa. Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa siswa yang terancam drop out (DO) di tengah jalan saat ini sudah tidak ada.
Kepala Bidang Pendidikan Masyarakat (Kabid Dikmas) Dispendikbud Situbondo, Imam Sujoko, menjelaskan bahwa angka tersebut merupakan data global dari Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin). “Memang benar angka putus sekolah di Situbondo mencapai lima ribuan, tetapi itu data global dari Pusdatin,” kata Imam.
Menurutnya, kategori putus sekolah terbagi menjadi tiga. Pertama, siswa berhenti karena DO di tengah jalan, biasanya disebabkan faktor ekonomi. Kedua, siswa yang lulus namun tidak melanjutkan ke jenjang berikutnya. Ketiga, anak yang memang tidak bersekolah.
Kata Imam, data tersebut tidak hanya berasal dari Dispendikbud, tetapi juga mencakup data sekolah di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag), baik sekolah negeri maupun swasta seperti MTs dan lainnya. “Kalau putus sekolah karena DO, saat ini sudah nol. Sebab, program beasiswa bagi siswa yang terancam putus sekolah di tengah jalan sudah berjalan,” ujarnya.
Dia menambahkan, secara akumulasi siswa yang putus sekolah di tengah jalan akibat faktor ekonomi kini sudah teratasi berkat program beasiswa yang mulai tersalurkan pada 2025. Jumlah itu akan ditambah penerimanya pada 2026. “Beasiswa bagi siswa yang terancam putus sekolah sudah tersalurkan. Tahun 2026 akan ditambah lagi jumlah penerimanya,” imbuhnya.
Imam menyebut, setelah persoalan DO teratasi, tantangan berikutnya adalah siswa yang lulus namun tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya karena berbagai faktor. “Untuk yang lulus namun tidak melanjutkan dari SD ke SMP atau dari SMP ke SMA, datanya sekitar 633 siswa. Rinciannya, dari jenjang SD ada 352 siswa. Data ini terus bergerak,” jelasnya.
Dia juga menerangkan bahwa data pada sistem Dapodik bersifat dinamis dan terus diperbarui. Jika data residu tidak segera diperbaiki setiap tahun, maka angka putus sekolah karena tidak melanjutkan pendidikan berpotensi terus bertambah. “Kalau residu diperbaiki, angkanya bisa berkurang. Namun jika tidak, tentu akan bertambah. Saat ini yang banyak diperbaiki baru di kelas atas saja,” pungkasnya. (rif/pri)
Editor : Edy Supriyono