RADARSITUBONDO.ID – Angka putus sekolah akibat faktor ekonomi keluarga hingga lingkungan masih rentan terjadi, terutama di pedesaan terpencil. Kondisi tersebut menjadi penyebab utama banyak siswa memilih berhenti sekolah sebelum menuntaskan pendidikan dasar maupun menengah.
Kepala Bidang Pendidikan Masyarakat (Kabid Dikmas) Dispendikbud Situbondo, Imam Sujoko, menjelaskan bahwa angka putus sekolah karena tidak melanjutkan pendidikan banyak terjadi di wilayah pedesaan terpencil. Salah satu faktor utamanya adalah pernikahan dini.
“Di pedesaan terpencil itu sudah menjadi tradisi. Ketika baru lulus SD, anak sudah ditunangkan atau dinikahkan, sehingga tidak melanjutkan sekolah,” katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut cukup rentan terjadi dan sulit dicegah apabila keputusan sudah diambil oleh orang tua. Upaya yang bisa dilakukan adalah memberikan pemahaman kepada wali murid mengenai pentingnya pendidikan bagi anak.
“Itu permasalahan yang harus kita tangani bersama, yakni memberikan pengertian kepada wali murid,” tegasnya.
Imam menambahkan, kasus tersebut tidak lepas dari peran orang tua. Dengan pengetahuan yang minim, anak cenderung mengikuti keputusan orang tua, meskipun memiliki riwayat pendidikan yang baik. Akibatnya, sekolah terpaksa ditinggalkan karena harus menikah.
“Dengan memberikan pemahaman kepada orang tua, diharapkan mereka bisa mengizinkan anaknya melanjutkan sekolah dan mengurangi angka putus sekolah akibat pernikahan dini,” jelasnya.
Selain faktor pernikahan dini, kondisi keluarga seperti broken home dan faktor ekonomi juga menjadi penyebab anak tidak melanjutkan pendidikan. Ada anak yang harus membantu orang tua untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga sehingga memilih berhenti sekolah. Ada pula yang merasa malu akibat kondisi keluarga. “Di daerah terpencil ada beberapa faktor, yakni faktor keluarga broken home dan faktor ekonomi, di mana anak usia dini harus membantu orang tuanya memenuhi kebutuhan keluarga,” ujarnya.
Dia juga menekankan pentingnya koordinasi dengan tokoh masyarakat di desa-desa yang memiliki angka putus sekolah tinggi. “Kami akan terus berkomunikasi dengan para tokoh desa, karena ini merupakan tanggung jawab bersama, termasuk kepala desa dan pihak-pihak yang berpengaruh di wilayah tersebut,” katanya.
Selain itu, pendampingan terhadap desa yang memiliki kondisi rawan anak putus sekolah dinilai sangat penting. Dengan pendampingan dan motivasi, anak-anak diharapkan terdorong untuk kembali bersekolah dan menyelesaikan pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi.
“Di desa terpencil, peran tokoh masyarakat maupun tokoh agama sangat penting. Dari merekalah bisa diberikan pencerahan kepada anak-anak agar kembali bersekolah jika sempat berhenti,” pungkasnya. (rif/pri)
Editor : Edy Supriyono