Krakatau Meletus, Muncul Fenomena Langit Matahari Bersinar Hijau

Agung Sedana • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 13:32 WIB
Ilustrasi letusan krakatau. (Ilustrasi)
Ilustrasi letusan krakatau. (Ilustrasi)

RADARSITUBONDO.ID - Letusan Krakatau pada Agustus 1883 menjadi salah satu bencana vulkanik paling mematikan dalam sejarah modern. Aktivitas erupsi telah dimulai sejak 20 Mei dan meningkat hingga rangkaian ledakan besar pada 26-27 Agustus. Keruntuhan sebagian tubuh gunung kemudian memicu tsunami yang menerjang pesisir Jawa dan Sumatra.

Menurut Smithsonian Global Volcanism Program, letusan 1883 menghancurkan sebagian besar tubuh Krakatau sebelum pembentukan kaldera. Peristiwa tersebut menghasilkan abu, material piroklastik, dan tsunami dengan dampak luas. Lebih dari 36.000 orang meninggal, sebagian besar akibat tsunami.

Pyroclastic surge juga bergerak melintasi Selat Sunda. Data Smithsonian mencatat material tersebut mencapai sekitar 40 kilometer dan sampai ke pesisir Sumatra. Namun, tsunami menjadi penyebab utama korban jiwa dalam bencana tersebut.

Dampak letusan tidak berhenti di wilayah sekitar Selat Sunda. Material vulkanik yang masuk ke atmosfer menghasilkan berbagai fenomena optik yang kemudian diamati dari berbagai wilayah yang sangat jauh dari Indonesia.

Laporan Matahari Berwarna Hijau Muncul Setelah Letusan

Salah satu fenomena yang tercatat adalah kemunculan Matahari dengan warna tidak biasa.

Di Colombo, Ceylon, yang kini merupakan Sri Lanka, seorang pengamat melaporkan pada 9 September 1883 bahwa Matahari tampak berwarna hijau terang setelah hujan dan awan mulai berlalu. Laporan tersebut kemudian diterbitkan dalam jurnal Nature pada November tahun yang sama.

Pengamat itu menulis bahwa piringan Matahari terlihat jelas dan cahayanya cukup redup untuk diamati secara langsung. Fenomena serupa dilaporkan berlangsung selama beberapa hari.

Laporan semacam itu bukan satu-satunya catatan mengenai perubahan warna langit setelah Krakatau. Royal Society kemudian mengumpulkan kesaksian dari berbagai tempat mengenai Matahari dan Bulan berwarna, kabut atmosfer, serta perubahan warna cahaya senja.

Laporan besar yang diterbitkan Royal Society pada 1888 bahkan memiliki bagian khusus mengenai fenomena optik atmosfer setelah letusan, termasuk coloured suns, coloured moons, dan cahaya senja. Dokumen tersebut terdiri dari hampir 500 halaman beserta berbagai ilustrasi dan laporan pengamatan.

Mengapa Matahari Bisa Tampak Hijau?

Matahari sebenarnya tidak berubah warna akibat letusan Krakatau. Yang berubah adalah cara cahaya Matahari berinteraksi dengan atmosfer yang dipenuhi partikel vulkanik.

Erupsi besar dapat memasukkan material dan gas vulkanik ke lapisan atmosfer tinggi. Partikel aerosol tersebut kemudian memengaruhi perjalanan cahaya Matahari dan menghasilkan warna langit yang tidak biasa.

Fenomena ini telah menjadi objek penelitian ilmiah modern. Studi yang diterbitkan pada 2024 dalam Atmospheric Chemistry and Physics menunjukkan bahwa warna hijau pada senja setelah letusan Krakatau dapat dijelaskan melalui hamburan cahaya oleh aerosol sulfat di stratosfer. Model penelitian tersebut menunjukkan bahwa ukuran dan konsentrasi partikel aerosol tertentu berperan penting dalam munculnya warna hijau.

Dengan demikian, istilah "Matahari hijau" lebih tepat dipahami sebagai fenomena optik atmosfer, bukan perubahan fisik pada Matahari.

Langit Berubah hingga Ribuan Kilometer dari Krakatau

Pengaruh atmosfer Krakatau bahkan diamati di wilayah yang sangat jauh dari sumber letusan.

Royal Society mencatat berbagai laporan mengenai perubahan warna cahaya senja dari sejumlah lokasi di dunia. Salah satu dokumentasi menunjukkan fenomena atmosfer yang diamati di Inggris pada November 1883, beberapa bulan setelah letusan.

Penelitian modern juga mengonfirmasi bahwa aerosol vulkanik dari letusan Krakatau berperan dalam menghasilkan warna senja yang tidak biasa. Fenomena tersebut berbeda dari sekadar "langit merah" setelah matahari terbenam karena interaksi cahaya dengan lapisan aerosol di atmosfer menghasilkan pola warna yang lebih kompleks.

Jadi, meskipun pusat bencana berada di Selat Sunda, konsekuensi atmosferiknya dapat diamati jauh di luar Indonesia.

Tsunami Menjadi Penyebab Utama Korban Jiwa

Besarnya perhatian terhadap fenomena langit tidak boleh mengaburkan dampak paling mematikan dari letusan Krakatau 1883.

Smithsonian Global Volcanism Program mencatat lebih dari 36.000 korban jiwa, dengan sebagian besar kematian disebabkan tsunami yang menerjang pesisir Jawa dan Sumatra.

US Geological Survey mencantumkan angka 36.417 korban dalam daftar letusan gunung berapi paling mematikan sejak 1500. Dalam daftar tersebut, tsunami disebut sebagai penyebab utama kematian pada peristiwa Krakatau 1883.

Catatan sejarah juga menggambarkan kerusakan parah di kawasan pesisir Banten dan Sumatra. BNPB menyebut jumlah korban diperkirakan lebih dari 36.000 jiwa dan mendokumentasikan kehancuran wilayah pesisir akibat bencana tersebut.

Krakatau Mengubah Bentuk Pulau dan Memicu Bencana Berantai

Letusan 1883 bukan sekadar ledakan besar dalam satu waktu. Peristiwa tersebut merupakan rangkaian proses vulkanik yang berujung pada keruntuhan tubuh gunung dan pembentukan kaldera.

Menurut Smithsonian, sebelum letusan terdapat beberapa kerucut vulkanik yang membentuk Pulau Krakatau. Ketika erupsi 1883 berlangsung, sebagian besar bangunan vulkanik tersebut runtuh. Keruntuhan itu menyisakan sebagian dari kerucut Rakata dan membentuk kaldera selebar sekitar 7 kilometer.

Dampaknya kemudian berkembang menjadi bencana berlapis: erupsi eksplosif, jatuhan abu, aliran atau surge piroklastik, keruntuhan tubuh gunung, hingga tsunami.

Kisah Krakatau 1883 karena itu tidak hanya penting sebagai catatan tentang salah satu letusan terbesar dalam sejarah. Peristiwa tersebut juga menjadi contoh bagaimana sebuah erupsi dapat memicu rangkaian bahaya yang saling berkaitan, sementara dampak atmosferiknya bahkan dapat diamati ribuan kilometer dari sumber bencana.

Editor : Agung Sedana
meletus krakatau matahari hijau erupsi