RadarSitubondo.id - Pasangan calon presiden dan wakil presiden (capres-cawapres) no urut 02, Prabowo – Gibran (PRAGIB) dipastikan menguasai perolehan suara dukungan di Kabupaten Situbondo dalam pelaksanaan pemilihan umum Rabu (14/02) lalu.
Sejumlah pihak pun mempertanyakan pengaruh tokoh-tokoh kultur dalam perhelatan pesta demokrasi di Kota Santri yang tak mampu memenangkan calon yang didukungnya. Apakah sudah mulai luntur?
Sebagaimana diketahui, dua kekuatan kultur besar di Kabupaten Situbondo, Pesantren Sukorejo dan Wali Songo sama-sama memberikan dukungannya kepada pasangan capres-cawapres 01, Anis Baswedan – Muhaimin Iskandar (AMIN).
Ada juga yang memberikan kepada pasangan 03, Ganjar Pranowo – Mahfudz MD (GaMa). Namun, hasilnya tak mampu banyak menolong.
Data hasil penghitungan cepat yang diterima koran ini, Pasangan PRAGIB di Kabupaten Situbondo mengantongi dukungan 55 persen lebih. Pasangan AMIN 36 persen. Sedangkan Pasangan Ga-Ma hanya 8 persen.
Pasangan PRAGIB unggul di semua kecamatan, termasuk di Kecamatan Panji dan Banyuputih yang menjadi basis dua kekuatan kultur terbesar di Situbondo. Pasangan 02 hanya kalah di Kecamatan Arjasa dan Jangkar.
Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Situbondo, Fathul Bari menerangkan fenomena pilpres 2024 di Kabupaten Situbondo cukup mengejutkan banyak pihak.
“Bayangkan saja, jika diakumulasi sekalipun, perolehan suara capres 01 dengan 03, hasilnya masih kalah dengan perolehan suaran capres no 02,” terangnya kepada koran ini, tadi malam.
Kata Bari, selama ini suara pemilih di Kabupaten Situbondo sangat ditentukan pengaruh Kultur. Capres 01 didukung kekuatan kultur Ponpes Walisongo dkk yang merupakan basis PKB. Itu masih ditambah dukungan dari sebagian keluarga besar ponpes Sukorejo.
“Sebagian lagi (di Pesantren Sukorejo) ada yang bergabung mendukung pasangan capres no urut 03,” ungkapnya.
Mestinya dengan pola dukungan seperti itu, lanjut Bari, pasangan capres no urut 01 menang telak di Kabupaten Situbondo.
Tapi faktanya perolehan suara pemilihan presiden pemilu 2024 di Kabupaten Situbondo di dominasi pasangan capres no urut 02 dengan perolehan suara di atas 50 persen. Padahal, tanpa ada dukungan dari para kiai dan tokoh NU di Kabupaten Situbondo.
“Ini fenomena apa? Apapun hasilnya, tentu ini diterima sebagai hasil pemilu 2024. Terlepas apakah ini murni keinginan nurani rakyat? Atau, rakyat sudah menjual suara dengan uang atau barang lainnya? atau bisa juga adanya gerakan intruksi masif dari pihak tertentu yang mewajibkan untuk memilih capres tertentu? Kita tidak tahu. Atau, mungkin ada intimidasi atau sandera politik sehingga terpaksa memilih salah satu capres, jika tidak mendukung maka kasus hukumnya akan diproses,” papar pengacara tersebut.
Aktivis LSM di Kota Santri, Amirul Mustofa menilai kemenangan pasangan capres-cawapres 02 di basis suara kultur 01 seperti yang terjadi di kabupaten Situbondo, harus menjadi evaluasi bersama. Terutama tokoh-tokoh kultur yang memiliki basis massa besar.
“Jadi, bukan sekedar kecanggihan siasah atau strategi para team pemenangan semata dalam membranding paslon 02 agar mendapat simpati pemilih, namun membuka mata kita semua bahwa adigium ada tiga pihak di dunia ini yang tidak boleh dilawan yaitu, penguasa, orang kaya, dan orang gila benar adanya,” jelas Amir.
Jayadi, salah satu pengacara di Kabupaten Situbondo menerangkan, sudah terjadi pergeseran paradigma berpikir dan prilaku masyarakat di Kabupaten Situbondo.
“Artinya masyarakat mendapatkan berbagai informasi langsung soal capresnya dari medsos. Pada akhirnya pendapat atau pandangan tokoh masyarakat lokal akhirnya tergerus,” terangnya.
Sementara itu, salah satu tokoh masyarakat Kota Santri, Supriyono SH Mhum berpendapat tidak ada yang menyangka jika pasangan PRAGIB akan menang telak di Situbondo. Sebab, basis-basis kultur di Kota Santri memberikan dukungannya pada pasangan AMIN.
“Penyebabnya kompleks. Salah satunya Bisa saja masyarakat Situbondo saat ini sudah mulai logis berpikir sehingga mereka lebih mandiri dalam menentukan siapa pimpinannya di masa yang akan datang,” terangnya kepada Koran ini tadi malam.
Keadaan semacam ini, kata Supriyono, bisa saja terjadi dalam pagelaran persta demokrasi selanjutnya. misalnya pemilihan bupati.
“Dalam konteks Pilpres, bisa saja orang-orang dari partai yang tidak mendukung Pragib mereka mencoblos pragib, sehingga esensi kepatuhan sedikit mulai luntur,” tegasnya. (wan/pri)
Editor : Edy Supriyono