Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Kekalahan Kultur Bisa Berefek di Pilkada Situbondo

Iwan Feriyanto • Sabtu, 17 Februari 2024 | 05:00 WIB
SALURKAN HAK PILIH : Warga Binaan Pemasyarakatan (Rutan) Situbondo mencoblos di TPS Lokasi Khusus Rutan kelas IIB Situbondo.
SALURKAN HAK PILIH : Warga Binaan Pemasyarakatan (Rutan) Situbondo mencoblos di TPS Lokasi Khusus Rutan kelas IIB Situbondo.

RadarSitubondo.id – Kemenangan pasangan Prabowo – Gibran (Pragib) di Kabupaten Situbondo meski tidak didukung oleh kekuatan kultur membuat terkejut banyak pihak.

Tidak sedikit yang mempertanyakan apakah pengaruh kekuatan kultur di Kota Santri sudah mulai luntur?

Menanggapi fenomena tersebut, Ketua Perhimpunan Advokad Indonesia (PERADI) Kabupaten Situbondo, Khairul Anwar tidak setuju jika kemenangan pasangan Pragib kemudian disandingkan dengan kalahnya kekuatan kultur.

“Ya tidak juga, tapi bagi saya kekuatan kultur ini juga harus dievaluasi  apalagi saat berhadapan dengan kekuatan struktural,” terangnya kepada Koran ini tadi malam.

Pelaksanaan pemilu 14 Februari, kata dia, mampu membuka mata semua pihak, ternyata jika kekuatan negara dikerahkan sedemikian rupa, kekuatan kultur sepertinya tidak ada apa-apanya.

“Tidak berdaya juga, karena infrastruktur dan suprastruktur kita tidak mampu menopang gerakan struktural itu,” terang pria yang akrab disapa Aan tersebut.

Selain itu, lanjut Aan, masyarakat Situbondo selama ini melihat bahwa tokoh-tokoh kultur itu lebih kepada wilayah-wilayah spritualitas saja. Bukan dalam urusan politik.

“Pemilih kita itu kadang masih lebih tertarik yang sifatnya emosional, bukan rasional,” terangnya.

Kekalahan kekuatan kultur Situbondo dalam pilpres apakah juga bisa terjadi di pemilihan kepala daerah (pilkada)?.

“Bisa jadi ini juga berefek ke sana. Yang penting, tim berhasil melakukan personal branding terhadap calon. Sesuaikan dengan karakter masyarakat Situbondo yang mengingkan profil pimpinan seperti apa. Sama dengan yang terjadi dengan pasangan Pragib,” tegasnya.

Sementara itu, Dosen Universitas Ibrahimy, Dr Isfitono Fadjri menerangkan masyarakat Situbondo saat ini sudah bergerak menjadi masyarakat yang lebih kompleks.

Bukan lagi masyarakat agraris yang hetrogen seperti dulu.

“Ingat ya masyarakat modern itu basisnya rasionalitas, kemudian saat ini juga sudah ada diferensiasi profesi,” tegasnya.

Masyarakat saat ini mulai mendifisikan kiai hanya sebagai pemimpin spritual. Sehingga, keberadaannya hanya terlegitimasi di bidang itu.

“Kita lihat sendiri bagaimana kalau kiai-kiai mimpin ritual atau acara-acara keagamaan jamaahnya tidak perlu dipertanyakan lagi, tapi kalau urusan lain tunggu dulu. Berbeda dengan dulu yang semua urusan diserahkan kepada Kiai,” papar pria yang baru saja menyandang gelar doktor bidang antropologi tersebut.

Menurut bapak tiga anak ini, masyarakat Situbondo akan terus bergerak berkembang. Semakin hari masyarakat semakin independen.

“Nah indepedensi ini kemudian menghasilkan prilaku yang mandiri termasuk dalam hal memilih pimpinan,” tegasnya.

Di lain sisi, lanjut Isfironi, partai yang menjadi simbol perjuangan Kiai dalam politik saat ini semakin banyak. Padahal, dulu hanya bertumpu di satu partai.

“Sehingga, dulu kalau ditanya pilihan, masyarakat jawab ikut kiai. Karena waktu itu simbol perjuangan kiai di politik hanya PPP, tapi setelah reformasi aspirasi kiai terpecah, menyebar ke banyak partai, semakin kompleks. Bahkan kalau di Situbondo sudah diklasifikasikan, ada kiai barat, kiai timur,” terangnya sambil tertawa. (wan/pri)

Editor : Edy Supriyono
#situbondo #anis baswedan muhaimin iskandar #pilkada #Ganjar Mahfud #Pemilu 2024 #Prabowo Gibran