Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Pengaruh Tokoh Kultur dalam Pemilu, Luntur karena Transaksi Politik Pragmatis

Moh Humaidi Hidayatullah • Kamis, 22 Februari 2024 | 17:32 WIB
Dini Noor Aini, S. Sos, M. Si. Dosen FISIP Universitas Abdurachman Situbondo.
Dini Noor Aini, S. Sos, M. Si. Dosen FISIP Universitas Abdurachman Situbondo.

RadarSitubondo.id - Kota Santri sangat terkenal dengan banyaknya tokoh kultur. Lokal wisdom yang ada di Kabupatan ini memang berbeda dengan kota lain.

Namun, fenomena berbeda terjadi dalam pilpres 2024. Sebab, Masyarakat seolah sudah tidak lagi terpengaruh dengan pilihan tokoh kultur yang mengarahkan dukungannya kepada salah satu calon.

Yang perlu digarisbawahi, pengaruh kultur ini sebenarnya kalau memang dianggap luntur, itu hanya pada konteks politik.

Untuk penentu arah dalam bidang keagamaan, pengaruh kultur tidak perlu diragukan. Mereka tetap menjadi teladan.

Keberadaannya sangat menyejukkan bagi Kota Santri.

Potensi lunturnya pengaruh kultur dalam pelaksanaan pesta demokrasi salah satunya diakibatkan pragmatisme masyarakat.

Sudah tidak menjadi rahasia umum, politik uang saat ini sangat bebas. Masing-masing calon dan tim suksesnya demikian mudah melakukannya.

Yang ironis, masyarakat menganggap pemberian itu bukan hal yang dilarang, tapi sudah dianggap rejeki yang tidak bisa ditolak.

Bahkan, pesta demokrasi menjadi momen yang ditunggu masyarakat karena mereka bisa mendapatkan uang dari calon.

Di sisi lain, calon pemimpin mulai tidak berani melakukan politik yang jujur, Takut kalah, tidak terpilih.

Bahkan, salah satu tokoh di bangsa ini, Faisal Akbar menginginkan Bawaslu ditutup karena dianggap tidak berfungsi. (hum/pri)

Editor : Salis Ali Muhyidin
#tokoh kultur #politik transaksional #luntur #Pemilu 2024