RADARSITUBONDO.ID – Anggaran untuk Program Berobat Tanpa Batas (Brantas) Plus guna menunjang layanan kesehatan masyarakat Situbondo kini menipis. Dari anggaran yang tersedia, saat ini hanya tersisa sekitar Rp 7 juta, sehingga berpotensi mengganggu keberlangsungan layanan kesehatan bagi masyarakat.
Ahmad Yulianto, Pj Sekretaris Daerah (Sekda) Situbondo, menerangkan akibat keadaan tersebut, program yang sebelumnya berjalan aktif kini mulai mengalami perlambatan dalam pelaksanaannya. “Anggaran Brantas Plus saat ini memang menipis. Namun, kami sudah menyiapkan kembali anggaran tersebut dan saat ini sudah berada di Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Situbondo,” kata pria yang akrab disapa Yuli tersebut.
Dia menambahkan, pemerintah daerah tengah melakukan evaluasi dan penyesuaian anggaran untuk memastikan program-program prioritas tetap berjalan dengan baik. Ia menegaskan, program yang memiliki manfaat besar bagi masyarakat ini tetap menjadi prioritas meski dalam kondisi anggaran terbatas.
“Dengan adanya penambahan dana dari BPKAD, diharapkan permasalahan keterbatasan anggaran ini dapat segera teratasi sehingga program Brantas Plus tetap berjalan dan berkelanjutan,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Situbondo, Dwi Herman Susilo, membenarkan bahwa anggaran program Brantas Plus saat ini hanya tersisa sekitar Rp 7 juta hingga akhir tahun 2026. Hal ini disebabkan adanya penyesuaian anggaran pada tahun berjalan. “Iya, betul. Namun pelayanan kesehatan akan tetap dilaksanakan sebaik mungkin,” ujarnya.
Terkait besaran anggaran pada tahun sebelumnya, pihaknya belum memberikan penjelasan rinci dan akan terlebih dahulu berkonsultasi dengan Sekda. “Terkait anggaran, saya akan konsultasikan dulu dengan Pak Sekda,” tambahnya.
Selain itu, Wakil Ketua Badan Inovasi dan Percepatan Pembangunan Daerah (BPIPPD), H. Tolak Atin, menyampaikan bahwa keberlanjutan layanan kesehatan gratis, termasuk layanan ambulans rakyat, menjadi bagian penting dari program bupati dan wabup.
Menurutnya menipisnya anggaran terjadi karena realisasi penggunaan anggaran tahun sebelumnya berada di luar prediksi akibat tingginya kebutuhan masyarakat. “Memang realisasi anggaran kemarin di luar dugaan karena kebutuhan masyarakat cukup tinggi. Saat ini dilakukan penyesuaian anggaran, dan memungkinkan adanya penambahan saat Perubahan Anggaran Keuangan (PAK),” ujarnya.
Dia menambahkan, sejak awal pihaknya mendapat mandat langsung dari bupati untuk mengawal ketersediaan anggaran program kesehatan tersebut agar tetap mencukupi hingga akhir tahun. “Kami dipercaya untuk memastikan anggaran Brantas dan Brantas Plus cukup sampai akhir tahun. Jika nanti kurang, mungkin ditambah melalui Perubahan Anggaran Keuangan,” jelasnya. (rif/pri)
Editor : Edy Supriyono