Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

IKG Situbondo Membaik, Tapi Keterwakilan Perempuan di DPRD Masih Minim

Ahmad Rifa'ie • Minggu, 17 Mei 2026 | 20:48 WIB
KANTOR PEJABAT: Kantor DP3AP2KB di Jalan Mawar, lingkungan Mulya Utama, Kelurahan Patokan, Kecamatan Situbondo, Minggu (16/5). (Ahmad Rifa
KANTOR PEJABAT: Kantor DP3AP2KB di Jalan Mawar, lingkungan Mulya Utama, Kelurahan Patokan, Kecamatan Situbondo, Minggu (16/5). (Ahmad Rifa'ie/JPRS)

RADARSITUBONDO.ID – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) mencatat Indeks Ketimpangan Gender (IKG) di Situbondo menunjukkan tren positif. Berdasarkan data terbaru, angka IKG Situbondo mencapai 0,390 atau mendekati nol. Meski demikian, keterwakilan perempuan di parlemen atau DPRD masih tergolong rendah.

Kepala DP3AP2KB Situbondo Imam Hidayat mengatakan, salah satu indikator utama dalam penilaian pemberdayaan adalah keterwakilan perempuan di parlemen. Di Situbondo, jumlah perempuan yang duduk di kursi DPRD masih di bawah 30 persen sehingga turut memengaruhi capaian IKG daerah. “Keterwakilan perempuan di parlemen masih sangat sedikit, kurang dari 30 persen. Ini yang membuat Situbondo belum bisa mencapai angka nol,” katanya.

Imam menjelaskan, untuk meningkatkan partisipasi perempuan di bidang politik, pihaknya telah rutin melakukan sosialisasi dan edukasi kepada berbagai organisasi perempuan agar lebih banyak perempuan tertarik terjun ke dunia politik. Namun, menurutnya, masih terdapat sejumlah faktor yang menjadi kendala, seperti peran perempuan sebagai ibu rumah tangga serta keterikatan dengan urusan keluarga. “Kami rutin melakukan sosialisasi kepada kalangan perempuan di Situbondo agar mereka lebih tertarik terlibat dalam dunia politik,” tambahnya.

Menurut Imam, Indeks Ketimpangan Gender merupakan indikator penting yang digunakan untuk melihat seberapa besar kesenjangan antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai aspek kehidupan. Semakin kecil angka IKG atau semakin mendekati nol, maka kondisi kesetaraan gender di suatu daerah dinilai semakin baik.

Dengan demikian, IKG tidak hanya menggambarkan kondisi kesetaraan gender, tetapi juga menjadi acuan pemerintah dalam menyusun kebijakan pembangunan yang lebih adil dan inklusif bagi masyarakat. “Indeks Ketimpangan Gender adalah indikator yang mengukur ketimpangan antara laki-laki dan perempuan dari berbagai aspek kehidupan, seperti pendidikan, pekerjaan, dan lainnya,” jelasnya.

Imam menambahkan, penurunan angka ketimpangan gender menjadi indikator bahwa akses perempuan terhadap berbagai sektor kehidupan di Situbondo mulai membaik. Meski ketimpangan masih ada, dan angkanya terus menurun dari tahun ke tahun. “Angkanya terus mendekati nol. Meski ketimpangan masih ada, tetapi angkanya terus menurun,” ujarnya.

Imam menjelaskan, penghitungan IKG itu dilakukan secara lintas organisasi perangkat daerah (OPD) karena masing-masing indikator ditangani oleh instansi yang berbeda, namun dalam hal ini, DP3AP2KB berperan pada indikator pemberdayaan, khususnya yang berkaitan dengan peningkatan peran dan partisipasi perempuan dalam berbagai bidang kehidupan. “Kalau DP3AP2KB mendapat bagian pada indikator pemberdayaan,” tutupnya. (rif/pri)

Editor : Edy Supriyono
#IKG #DPRD Situbondo