Review Film Harusnya Horror: Hantu Penakut, Komedi AAA Clan, dan Drama yang Tak Disangka

Agung Sedana • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:31 WIB
Review film terbaru, Harusnya Horor.
Review film terbaru, Harusnya Horor.

RADARSITUBONDO.ID - Harusnya Horror menjadi debut Reza Oktovian atau Reza Arap sebagai sutradara film layar lebar. Diproduksi Ess Jay Pictures dan melibatkan sejumlah personel AAA Clan serta Marapthon, film ini memilih jalur yang tidak terlalu serius dalam menghadirkan horor.

Alih-alih mengandalkan teror sebagai kekuatan utama, Harusnya Horror lebih banyak bermain dengan komedi, karakter yang absurd, serta dinamika para kreator konten.

Di tengah cerita tersebut, film ini juga menjadi salah satu karya terakhir mendiang Lula Lahfah. Lula berperan sebagai Gea, salah satu anggota kelompok kreator konten dalam cerita.

Film berdurasi 106 menit ini menggabungkan unsur horor dan komedi dengan cerita tentang sekelompok kreator konten yang bertemu dengan hantu bernama Mas.

Hantunya justru takut menakut-nakuti manusia

Premis Harusnya Horror sudah menunjukkan arah komedinya sejak awal. Mas, karakter yang diperankan Reza Arap, merupakan hantu yang mendapat kesempatan kembali ke dunia manusia. Masalahnya, ia bukan sosok yang mudah membuat orang ketakutan.

Dalam cerita, Mas harus menyelesaikan sebuah misi untuk menakuti 100 ribu manusia. Dalam perjalanannya, ia bertemu kelompok kreator konten yang sedang berusaha mendapatkan uang melalui konten horor.

Pertemuan tersebut kemudian menghasilkan kerja sama yang cukup tidak biasa.

Mas membutuhkan manusia agar bisa menyelesaikan misinya. Sementara para kreator konten membutuhkan materi yang dapat menarik perhatian penonton.

Dari sinilah film membangun sebagian besar komedinya.

Alih-alih manusia yang ketakutan karena hantu, justru muncul situasi ketika hantu membutuhkan bantuan manusia agar bisa terlihat menyeramkan.

Komedi lebih dominan daripada horor

Jika datang dengan harapan mendapatkan film horor yang penuh jumpscare dan suasana mencekam, Harusnya Horror mungkin memberikan pengalaman yang berbeda. Film ini lebih nyaman bermain di wilayah komedi horor.

Karakter Mas menjadi salah satu sumber kelucuan utama. Statusnya sebagai hantu tidak otomatis membuatnya menjadi sosok yang mengintimidasi.

Kondisi tersebut kemudian dipertemukan dengan karakter-karakter kreator konten yang memiliki gaya interaksi dan humor khas komunitas AAA Clan.

Hasilnya adalah cerita yang lebih sering mengajak penonton tertawa daripada membuat mereka berteriak ketakutan.

Pendekatan tersebut juga membuat Harusnya Horror terasa lebih dekat dengan dunia konten digital yang selama ini menjadi ruang bermain para pemainnya.

AAA Clan membawa warna Marapthon ke bioskop

Salah satu daya tarik terbesar film ini berada pada keterlibatan personel AAA Clan dan para kreator yang selama ini dikenal melalui konten digital.

Bagi penonton yang sudah mengikuti Marapthon, dinamika antarpemain akan terasa lebih familiar. Gaya bercanda, celetukan, dan hubungan antarkarakter menjadi elemen yang cukup dominan.

Namun, perpindahan dari konten digital ke film layar lebar tetap menghadirkan tantangan.

Dalam film, candaan tidak bisa berdiri sendiri. Humor harus berjalan bersama karakter, konflik, dan alur cerita.

Harusnya Horror mencoba membawa energi tersebut ke dalam cerita yang lebih terstruktur.

Lembaga Sensor Film sendiri mencatat film ini sebagai proyek Reza Oktovian bersama AAA Clan setelah program Maraphton yang telah berjalan hingga tiga musim.

Jot menjadi salah satu pemain yang menonjol

Di antara personel AAA Clan, karakter Jot yang diperankan Tierison menjadi salah satu yang cukup mencuri perhatian.

Penampilannya tidak hanya bergantung pada kelucuan, tetapi juga memberikan ruang untuk menunjukkan sisi karakter yang berbeda.

Perubahan tersebut menjadi lebih terasa ketika cerita memasuki bagian akhir.

Tanpa membocorkan bagian penting film, terdapat momen yang membuat karakter Jot tidak lagi hanya berfungsi sebagai sumber komedi.

Perubahan nuansa tersebut memberi kesempatan bagi pemain yang sebelumnya lebih dikenal sebagai kreator konten untuk menunjukkan kemampuan akting di luar persona digital mereka.

Hal itu cukup menarik karena sebagian pemain film ini memang datang dari lingkungan kreator dan streamer, bukan dari jalur aktor film konvensional.

Reza Arap tidak hanya duduk di kursi sutradara

Harusnya Horror juga menjadi proyek yang mempertemukan dua peran Reza Arap sekaligus.

Ia menjadi sutradara sekaligus pemeran utama sebagai Mas. LSF mencatat Reza Oktovian sebagai sutradara dan salah satu pemeran utama film tersebut.

Sebelumnya, Reza juga mengatakan bahwa para anggota AAA Clan mendapatkan proses persiapan akting sebelum menjalani syuting. Mereka antara lain mengikuti acting class dan melakukan observasi untuk membantu pendalaman karakter.

Pendekatan tersebut penting karena sebagian pemain membawa persona yang sudah sangat dikenal penonton melalui konten digital.

Tantangannya adalah membuat mereka tidak sekadar tampil sebagai diri sendiri, tetapi tetap berfungsi sebagai karakter dalam sebuah cerita film.

Lula Lahfah memberikan lapisan emosional berbeda

Di balik dominasi komedi, Harusnya Horror memiliki sisi emosional yang semakin terasa ketika dikaitkan dengan kehadiran Lula Lahfah.

Lula memerankan Gea dan film ini menjadi salah satu karya terakhirnya sebelum meninggal dunia pada Januari 2026.

Kehadiran Lula membuat beberapa bagian film memiliki makna berbeda, terutama ketika cerita memasuki bagian yang lebih emosional.

Namun, nilai tersebut sebaiknya tidak membuat film semata-mata dilihat sebagai karya yang menjual kesedihan.

Reza Arap sebelumnya menegaskan bahwa dirinya dan pihak produksi tidak ingin mengeksploitasi kepergian Lula untuk kepentingan promosi. Ia memilih melihat film tersebut sebagai bagian dari karya dan warisan Lula di layar lebar.

Karena itu, aspek emosional Harusnya Horror lebih tepat ditempatkan sebagai bagian dari perjalanan film, bukan sebagai satu-satunya alasan untuk menontonnya.

Ketika komedi mulai memberi ruang untuk drama

Kekuatan film justru muncul ketika cerita tidak terus-menerus memaksakan lelucon.

Menjelang akhir, Harusnya Horror memberikan ruang lebih besar untuk hubungan antarkarakter dan persoalan yang mereka hadapi.

Perubahan tersebut membuat suasana film menjadi lebih seimbang.

Jika bagian awal lebih banyak mengandalkan interaksi kocak dan situasi absurd, bagian akhir mencoba memberikan alasan emosional di balik perjalanan para karakter.

Perubahan ritme semacam ini membuat film tidak berhenti sebagai kumpulan sketsa komedi yang disambungkan menjadi satu cerita.

Cocok untuk penggemar AAA Clan dan Marapthon

Daya tarik terbesar Harusnya Horror kemungkinan berada pada penontonnya sendiri.

Mereka yang sudah mengikuti AAA Clan dan Marapthon memiliki keuntungan karena sudah mengenal karakter, gaya bercanda, serta dinamika sebagian besar pemain.

Bagi penonton yang tidak mengikuti konten mereka, sejumlah humor mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna.

Namun, premis tentang hantu yang harus belajar menakut-nakuti manusia tetap memberikan fondasi cerita yang cukup mudah diikuti.

Film ini juga tidak sepenuhnya bergantung pada referensi internal komunitas kreator. Ada cerita utama yang menjadi pengikat antara Mas dan kelompok konten kreator.

Harusnya Horror lebih tepat disebut komedi dengan bumbu horor

Pada akhirnya, kekuatan Harusnya Horror bukan terletak pada seberapa menyeramkan hantunya.

Justru gagasan tentang hantu yang tidak bisa menakut-nakuti manusia menjadi sumber komedi yang membuat film ini berbeda dari horor konvensional.

Reza Arap juga berhasil membawa lingkungan kreator digital ke dalam format film layar lebar dengan melibatkan AAA Clan dan para pemain yang sudah dikenal dari Marapthon.

Sementara itu, unsur drama di bagian akhir memberikan lapisan tambahan agar film tidak hanya berisi lelucon dari awal sampai akhir.

Bagi penggemar AAA Clan dan Marapthon, film ini menawarkan kesempatan melihat para kreator tersebut dalam format yang berbeda.

Sedangkan bagi penonton umum, Harusnya Horror lebih cocok dipandang sebagai komedi dengan elemen horor, bukan film yang menjadikan teror sebagai menu utama.

Harusnya Horror tayang di bioskop Indonesia mulai 20 Agustus 2026. Film ini berdurasi 106 menit dan diklasifikasikan LSF untuk penonton usia 13 tahun ke atas.

Editor : Agung Sedana
link nonton review Harusnya Horor