Radarsitubondo.id - Hujan turun deras malam itu. Di sebuah desa kecil yang jauh dari keramaian kota, suara air menghantam genteng bercampur dengan bunyi petir yang sesekali membuat jendela bergetar.
Pak Darno duduk sendirian di ruang tengah. Sudah tiga tahun sejak Bayu pergi bekerja ke luar negeri.
Anaknya itu pergi dengan membawa satu koper hitam, beberapa potong pakaian, dan harapan sederhana, mendapatkan uang untuk memperbaiki rumah yang hampir roboh.
Setidaknya, itulah yang Pak Darno ceritakan kepada semua orang. Namun ada satu hal yang tidak pernah ia ceritakan. Bayu sebenarnya tidak pernah mendapatkan pekerjaan. Ia dijual, bukan oleh orang asing. Melainkan oleh ayah kandungnya sendiri.
Baca Juga: Cari Makan Susah dan Merasa Hidup Pas-pasan tapi Masuk Desil 9, Kok Bisa? Ini Penjelasan BPS
Tiga tahun sebelumnya, seorang pria bernama Rudi datang ke rumah Pak Darno. Ia mengaku sebagai agen tenaga kerja. “Bayu bisa kerja di luar negeri,” katanya. “Gajinya besar, dalam beberapa bulan, hidup kalian berubah.”
Pak Darno yang terlilit utang langsung tertarik. “Berapa saya dapat?”, kata Pak Darno. Dan pertanyaan itu membuat Rudi tersenyum.
“Kalau anak Bapak berangkat minggu ini, uang muka bisa langsung saya berikan.” Kata Rudi
Pak Darno menandatangani beberapa dokumen tanpa membaca isinya. Bayu sendiri tidak tahu bahwa perjalanan itu bukan untuk bekerja. Bayu hanya tahu bahwa ayahnya meminta dia percaya.
“Berangkat saja, Yu. Bapak ingin kamu punya masa depan.” Malam sebelum keberangkatan, Bayu sempat menatap ayahnya lama.
“Kalau Bayu sudah sukses, rumah ini kita perbaiki, ya, Pak?” lalu Pak Darno mengangguk. Namun matanya menghindar. “Itu pasti.”
Keesokan paginya Bayu pergi. Dan sejak saat itu, tidak pernah ada kabar lagi. Awalnya Pak Darno masih menerima pesan dari nomor asing.
Bayu sudah sampai.
Kemudian…
Bayu sedang menjalani pelatihan.
Lalu…
Bayu tidak bisa menggunakan telepon untuk sementara.
Baca Juga: 4 Karakter yang Bisa Mengakses Kekuatan Nika di One Piece, Luffy Bukan Satu-satunya
Setelah itu, semuanya berhenti. Ketika Pak Darno bertanya kepada Rudi, pria itu hanya berkata, “Jangan khawatir. Anak Bapak sedang bekerja.”
Tetapi enam bulan kemudian, Rudi menghilang. Nomornya tidak aktif.Alamat kantornya kosong.Dan Bayu seolah tidak pernah ada.
Pak Darno akhirnya mulai takut. Tetapi uang yang diterimanya dari Rudi sudah habis untuk membayar utang. Ia memilih diam. Sampai suatu malam, Bayu pulang.
Jam dinding menunjukkan pukul 02.13 WIB. Pak Darno yang sedang tidur tiba-tiba terbangun.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan terdengar dari pintu depan. Pak Darno mengerutkan dahi.
“Siapa?”
Tidak ada jawaban.
Tok... tok... tok...
Baca Juga: Ketikan Data Kemiskinan Makin Rancu, Desil 1 Auto Jadi 9!
Kali ini lebih keras. Pak Darno turun dari tempat tidur. Kakinya terasa berat. Ia berjalan menuju pintu sambil membawa senter.
“Siapa malam-malam begini?”
Suasana hening, kemudian terdengar suara dari balik pintu. Suara laki-laki, sangat pelan dan serak dan sangat familiar.
“Pak...”
Tubuh Pak Darno langsung membeku. Senter di tangannya hampir terjatuh.
“Bayu?”
Suara itu kembali terdengar.”Pak... bukakan pintu.”
Pak Darno mundur.
“Bayu..?”
Baca Juga: Real Madrid dan Barcelona Paling Agresif, Ini 5 Transfer Termahal LaLiga Musim Panas 2026
Tidak mungkin, Bayu berada ribuan kilometer jauhnya. Atau jangan-jangan sudah tidak berada di dunia ini. Pak Darno menutup mulutnya sendiri agar tidak berteriak.
“Bayu sudah mati...” Bisikan itu keluar tanpa sengaja. Tiba-tiba suara dari balik pintu berubah.
“Kenapa Bapak bilang Bayu mati?”
BRAK!
Pintu bergetar keras. Pak Darno berlari ke kamar. Namun sebelum sempat menutup pintu, ia mendengar suara langkah kaki memasuki rumah.
Srek... srek... srek...
Seperti seseorang berjalan dengan kaki basah. Langkah itu berhenti tepat di depan kamar. Kemudian...
Krek…
Gagang pintu bergerak. Pak Darno memejamkan mata.
“Bayu...”
Baca Juga: Diincar Barcelona, Lautaro Martinez Pastikan Masa Depannya Tetap Bersama Inter Milan
Tidak ada jawaban. Hanya terdengar suara napas yang berat dan dekat, sangat dekat. Lalu sebuah bisikan menyelinap dari celah pintu.
“Bayu tidak pulang untuk menakuti Bapak.” Pak Darno membuka mata. “Bayu pulang karena Bapak menjual Bayu.”
Keesokan paginya, Pak Darno menemukan sesuatu di lantai ruang tengah. Sebuah koper hitam, dan koper yang sama. Koper yang tiga tahun lalu dibawa Bayu saat meninggalkan rumah.
Padahal koper itu seharusnya sudah hilang bersama anaknya. Tangannya gemetar ketika membuka koper tersebut kosong. Tidak ada pakaian, tidak ada barang. Dan hanya ada sebuah foto. Foto Bayu ketika masih kecil. Di bagian belakang foto tertulis dengan tinta merah.
“AKU TAHU SIAPA YANG MENJUALKU.”
Pak Darno langsung membakar foto itu. Tetapi malam berikutnya, foto tersebut kembali berada di atas meja. Kali ini tulisan di belakangnya bertambah.
“AKU TAHU SIAPA YANG MENERIMA UANG.”
Sejak malam itu, rumah Pak Darno berubah. Setiap pukul 02.13 WIB , ketukan terdengar.
Tiga kali.
Selalu tiga kali.
Baca Juga: Suami Meninggal karena Kanker, Fanny Kondoh Justru Hamil, Kisah Nyata di Balik Baby Udon
Tok... tok... tok...
Kadang dari pintu depan. Kadang dari jendela. Kadang dari dinding kamar. Dan yang paling mengerikan. Kadang suara ketukan itu berasal dari bawah lantai. Pak Darno mulai tidak tidur.
Ia menutup semua pintu. Memasang kunci tambahan. Bahkan tidur di rumah tetangga. Namun setiap kali kembali, ia selalu menemukan jejak kaki basah di dalam rumah. Jejak itu bermula dari pintu. Berjalan menuju ruang tengah. Lalu berhenti di depan foto keluarga. Tepat di bagian wajah Pak Darno.
Suatu malam, Pak Darno mendapat telepon. Nomor tidak dikenal.
“Halo?”
Tidak ada jawaban. Kemudian terdengar suara seorang laki-laki. “Pak Darno?”
“Siapa?”, jawab Pak Darno
“Saya pernah bekerja bersama Rudi.” Jantung Pak Darno berdegup kencang.
“Rudi?”
“Anak Bapak tidak pernah bekerja di luar negeri.” Pak Darno terdiam.
“Dia dibawa ke sebuah tempat.”
“Tempat apa?”
“Tempat orang-orang seperti Bayu dikumpulkan.” Napas Pak Darno tercekat.
“Untuk apa?”, jawab Pak Darno
Suara di telepon mendadak mengecil.
“Organ.”
Telepon terputus. Pak Darno menjatuhkan ponselnya. Saat itulah terdengar suara dari belakang.
“Sudah kubilang, Pak.” Pak Darno berbalik. Tidak ada siapa-siapa.
“Bayu tidak pernah menjadi pekerja.” Suara itu terdengar lagi.
Kali ini dari bawah lantai. “Bayu menjadi barang.”
Pak Darno menjerit. Ia berlari keluar rumah. Namun sebelum mencapai halaman, pintu rumah tiba-tiba tertutup sendiri.
Baca Juga: Kredit BRI Tembus Rp1.646 Triliun, Tumbuh 16,2 Persen
BRAK!
Lampu padam dan gelap. Kemudian terdengar suara anak-anak menangis. Bukan satu, bukan dua, bahkan Puluhan. Tangisan itu berasal dari seluruh penjuru rumah. Pak Darno menutup telinganya.
“Pergi!”
Tetapi suara tangisan semakin keras. Lalu satu per satu terdengar suara bisikan.
“Aku dijanjikan pekerjaan”
“Aku dijanjikan uang”
“Aku dibawa jauh dari rumah”
“Aku tidak pernah pulang”
Pak Darno menangis dan Ia baru sadar, Bayu bukan satu-satunya korban.
Baca Juga: Jejak Ponsel Bongkar Aksi Bobol Toko di Panji, Dua Orang Diringkus Polisi
Tiba-tiba lantai ruang tengah berderit. Sebuah papan kayu terangkat. Dari celah gelap di bawahnya muncul tangan pucat. Pak Darno terjatuh. Tangan itu perlahan menunjuk ke sebuah lubang di bawah lantai. Di dalamnya terdapat puluhan benda milik orang-orang yang pernah dibawa Rudi.
Dompet, kartu identitas, foto keluarga, gelang, kalung. Dan sebuah gelang kain biru yang sangat dikenal Pak Darno. Gelang yang ia berikan kepada Bayu ketika anak itu masih kecil. Pak Darno menangis histeris.
“Bayu...”
Sosok laki-laki perlahan muncul di ujung ruangan. Bayu, Wajahnya pucat, dan matanya gelap, serta bajunya yang basah. Dan tubuhnya seperti bayangan yang tidak sepenuhnya berada di dunia manusia. Namun Bayu tidak menyerang ayahnya. Ia hanya berdiri, dan menatap.
“Bayu tidak ingin membunuh Bapak.”
Pak Darno menangis.
“Maafkan Bapak...”, ucap Pak Darno
“Bayu cuma ingin satu hal.”
“Apa?”, Tanya Pak Darno
“Nama Bayu dibersihkan.”
Pak Darno menatapnya.
“Dan semua orang yang melakukan ini harus dihukum.”
Baca Juga: Air Bersih Makin Sulit Saat Kemarau, Pemkab Situbondo Siapkan Solusi Permanen
Bayu menunjuk ke meja. Di sana sudah tergeletak sebuah map cokelat. Dokumen transaksi yaitu nama Rudi, dan beberapa nama orang lain. Dan tanda tangan Pak Darno. Bukti bahwa Bayu memang diserahkan kepada jaringan tersebut.
Pak Darno terisak. “Bagaimana... bagaimana Bayu mendapatkan semua itu?”
Bayu tersenyum tipis. “Bayu tidak mendapatkannya”. Suaranya berubah menjadi bisikan panjang. “Bayu hanya mengambil kembali apa yang dulu Bapak jual.”
Pagi harinya, warga menemukan Pak Darno duduk di depan kantor polisi. Ia membawa satu map penuh dokumen. Ia mengakui semuanya.
Pengakuannya kemudian membuka kasus besar tentang jaringan perdagangan manusia yang selama bertahun-tahun mengincar warga miskin dengan janji pekerjaan di luar negeri.
Rudi akhirnya ditemukan. Beberapa pelaku lain ikut ditangkap. Satu demi satu keluarga korban mendapatkan jawaban tentang orang-orang yang selama ini mereka tunggu kepulangannya.
Tetapi Bayu? tidak pernah ditemukan, tidak ada makam, tidak ada jasad. Tidak ada tempat untuk menaburkan bunga. Hanya ada sebuah foto lama dan gelang kain biru.
Setelah kasus itu terbongkar, rumah Pak Darno kosong. Tidak ada yang berani tinggal di sana. Namun warga sering mendengar suara ketukan dari dalam rumah setiap malam.
Tok... tok... tok...
Baca Juga: Nenek 77 Tahun Terbangun Gara-Gara Teriakan, Rumah di Banyuglugur Ludes
Tiga kali.
Kemudian terdengar suara laki-laki berbisik.
“Jangan percaya orang yang menjual mimpi”
“Jangan biarkan anak-anak pergi tanpa kabar”
“Dan jangan diam ketika seseorang hilang”
Konon, beberapa bulan kemudian, seorang warga menemukan tulisan di dinding rumah itu. Tulisan tersebut muncul setelah hujan deras. Tidak menggunakan cat, dan tidak menggunakan tinta. Melainkan seperti bekas goresan kuku. Hanya ada satu kalimat.
“Aku bukan arwah yang mencari korban.”
Di bawahnya muncul tulisan kedua.
“Aku arwah yang mencari keadilan.”
Dan setiap kali ada keluarga yang kehilangan anggota karena dijanjikan pekerjaan di luar negeri. ketukan itu kembali terdengar.
Tok... tok... tok...
Seolah Bayu masih berjalan dari satu rumah ke rumah lain. Mencari mereka yang belum ditemukan. Dan mencari manusia-manusia yang masih menjadikan nyawa orang lain sebagai barang dagangan.(*)
NOTE : Cerita ini hanya fiktif belaka. Nama dan tempat kejadian hanya rekaan penulis.
Editor : Titin Wulandari