RadarSitubondo.id – Harga cabai rawit yang melambung hingga mencapai Rp 72 ribu per kilogram (kg) di pasaran disambut antusias petani.
Meski begitu, mereka mengaku keuntungan yang diraih tidak sebesar kenaikan harga komoditas berasa pedas tersebut.
Salah satu petani, Holik mengaku, selama musim kemarau ini tanaman miliknya nyaris mati akibat kekurangan pasokan air.
Namun, agar tidak merugi lebih besar dia memutuskan untuk menyiram tanaman cabai miliknya dengan cara menyedot air dari sungai. ”Biaya untuk sewa mesin sedot air juga tidak murah,” ujarnya.
Sehingga saat musim panas kali ini, tanaman cabai miliknya masih bisa panen. Hasil panen dijual dengan harga yang lumayan tinggi.
”Harganya mahal karena banyak tanaman cabai yang gagal panen. Banyak tanaman yang mati kering akibat kemarau dan tidak mendapatkan air,” kata dia.
Karena itu, imbuh Holik, harga jual cabai mahal itu sebanding dengan biaya produksi. ”Sebetulnya bagi kami harga cabai tidak naik. Tetapi memang sudah selayaknya agar petani seperti kami tidak merugi,” ungkap bapak empat anak ini.
Kenaikan harga jual cabai terjadi sejak pertengahan Oktober lalu. Cabai besar yang awalnya dipasarkan di kisaran harga Rp 16 ribu per kilogram (kg) kini naik menjadi Rp 28 ribu per kg.
Harga cabai rawit pun demikian. Beberapa pekan lalu harga cabai rawit masih di kisaran Rp 27 ribu per kg, kini harganya tembus Rp 72 ribu per kg.
”Alhamdulillah, berkah di musim kemarau, tapi sesungguhnya dengan modal yang dikeluarkan juga sebanding,” tandas Holik. (ddy/sgt/c1)
Editor : Ali Sodiqin