Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Penyair Asia Tenggara Teken Maklumat Lembah Ijen, Siap Hadapi Tantangan AI dan Mengarusutamakan Sastra dalam Pendidikan

Redaksi • Senin, 28 Oktober 2024 | 17:55 WIB
Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Hasan Basri (paling kiri) bersama penyair JSAT 2024 menandatangani Maklumat Lembah Ijen, Sabtu (26/10).
Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Hasan Basri (paling kiri) bersama penyair JSAT 2024 menandatangani Maklumat Lembah Ijen, Sabtu (26/10).

RadarBanyuwangi.id – Tantangan dalam dunia kesusastraan semakin beragam. Kecerdasan buatan (artificial intelligent/AI) menjadi salah satu yang paling berat. Teknologi tersebut mampu membuat karya sastra dengan cukup baik.

Oleh karena itu, sastrawan harus menjelajah ruang-ruang kreativitas baru untuk menghadapinya. Salah satunya adalah tema lokal yang justru sering kali tingkat estetikanya melebihi tema-tema universal.

Hal tersebut yang didiskusikan para penyair dalam Seminar Sastra yang digelar oleh Dewan Kesenian Blambangan (DKB) pada Sabtu (26/10) lalu.

Acara yang menjadi puncak pelaksanaan Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) 2024 tersebut digelar di Kafe Sewarna, kawasan Pantai Boom Marina Banyuwangi.

Tiga pemateri memberikan arahan dengan dipandu moderator sastrawan Tengsoe Tjahjono. Bukan hanya menggelar diskusi, para penyair dari Asia Tenggara juga menyepakati Maklumat Lembah Ijen.

Penyair sekaligus akademisi Universitas Indonesia, Riri Satria menjelaskan, AI memang bisa membuat puisi.

Namun, teknologi ini hanya mengandalkan kosa kata serta sintaksis yang telah ”diajarkan” sebelumnya. AI, kata Riri, tidak memiliki pengetahuan tentang dunia nyata dan imajinasi yang dimiliki manusia.

”Kekakuan inilah yang menjadi kelemahan AI. Puisi bukan hanya sekadar konstruksi bahasa. Melainkan pemberian ruh pada bahasa melalui imajinasi dan pengalaman nyata,” jelas pria yang sudah menerbitkan empat buku antologi puisi tersebut.

Oleh karena itu, imbuh Riri, manusia semestinya tidak tersaingi dengan kehadiran AI. Dia menekankan pentingnya meningkatkan daya kreativitas melalui banyak belajar.

Salah satunya dengan memaksimalkan keterampilan berpikir tingkat tinggi (high order thinking skills/HOTS).

Menurut Riri, terdapat enam jenis kemampuan berpikir, yakni mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta.

Tiga yang pertama adalah keterampilan berpikir tingkat rendah (low order thinking skills/LOTS), sedangkan tiga yang kedua adalah HOTS.

”Teknologi AI hanya punya LOTS, sedangkan kita dikaruniai Tuhan dengan HOTS. Ya semestinya kita bisa memaksimalkan kemampuan ini. Jika hanya terjebak pada LOTS, itu yang membuat kita tersaingi oleh mesin yang bernama AI,” imbuh pria yang juga menjabat Komisaris Utama PT Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) tersebut.

Hal senada juga disampaikan oleh penyair kondang D. Zawawi Imron. Menurutnya, para penyair harus memaksimalkan kemampuan imajinasi dan ”merasa” yang tidak dimiliki oleh AI.

”Puisi semestinya memang ditulis berdasarkan hati nurani. Ini yang menjadi keunggulan manusia,” tutur penyair asal Kabupaten Sumenep tersebut.

Zawawi juga menekankan pentingnya lebih intens menggali tema-tema lokal sebagai landasan berkarya. Bukan hanya dalam tema, bahasa daerah pun juga menjadi hal yang menarik untuk dijadikan karya.

Sebab, kata Zawawi, bahasa daerah memiliki keotentikan tersendiri. Salah satunya, lirik ”mulo titip salam, nong angin lan derese udan” dalam lagu ”Sumebyar” karya Yon’s DD.

”Lirik lagu ini maknanya tidak akan maksimal jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Jadi, memang tema-tema lokal atau bahasa lokal itu lebih menarik ketimbang tema-tema universal. Lebih otentik. Dan, ini juga sulit ditiru oleh AI,” tegas penyair yang pernah meraih penghargaan Penulis Asia Tenggara dari Kerajaan Thailand tersebut.

Sementara itu, penyair sekaligus esais Sofyan R.H. Zaid yang juga menjadi pemateri mengungkapkan bahwa puisi karya penyair JSAT 2024 sudah merepresentasikan upaya menghadapi tantangan AI sekaligus revitalisasi sastra lokal.

Menurutnya, tema dominan dari 200 karya penyair JSAT yang dibukukan adalah sosial-ekonomi. Khususnya, subtema perihal penambang belerang.

”Jadi, para penyair itu banyak yang memotret realitas ini. Terdapat semacam dualitas yang paradoksal. Di tengah keindahan alam Ijen, ada para penambang belerang yang harus menghadapi risiko sangat tinggi,” ungkapnya saat menjelaskan hasil kajiannya terhadap buku ”Ijen Purba: Tanah, Air, dan Batu”.

Setelah acara seminar, para penyair Asia Tenggara menandatangani Maklumat Lembah Ijen sebagai bukti keseriusan mereka untuk nguri-uri dunia kesusastraan.

Seperti diketahui sebelumnya, sebanyak 200 penyair lolos kurasi tingkat Asia Tenggara. Mereka diundang ke Banyuwangi untuk mengikuti rangkaian JSAT 2024 pada Kamis (24/10) hingga Sabtu (26/10).

Salah satu penyair asal Malaysia, Norhayati Ab. Rahman, merasa senang diundang ke JSAT 2024. Menurutnya, gelaran JSAT memberikan banyak manfaat untuk dunia kesusastraan.

”Satu ruang pertemuan yang bisa menumbuhkan ide-ide baru dan membuka jalan silaturahmi sastrawan antardaerah dan negara. Yang jelas, kami berkomitmen untuk bersama-sama memartabatkan sastra,” pungkas penyair yang juga menjadi dosen di Universitas Malaya tersebut. (cw1/aif/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#banyuwangi #dewan kesenian blambangan #Jambore Sastra Asia Tenggara #sastra #sastrawan #artificial intelligent #ai #seniman