RadarSitubondo.id – Petani buah naga di Dusun Persen, Desa Kedungasri, Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi, mulai kesulitan air dampak kemarau panjang.
Untuk membuat tanaman buah naga tidak mati, petani terpaksa membeli air dari penyedia sumur bor yang ada di sekitar lahannya.
Salah satu petani buah naga Asmuni, 50, mengungkapkan, kekeringan di kebunnya sudah terjadi sejak tiga bulan lalu. Lahan yang ditanami buah naga, kini kekurangan air.
“Kemarau tahun ini cukup panjang, tanah di tempat kami mudah kering, jadi mengancam tanaman buah naga,” kata petani asal Dusun Persen, Desa Kedungasri itu, Minggu (29/10).
Asmuni menyebut air itu sangat penting dalam pertumbuhan tanaman buah naga. Tanpa air yang cukup, tanaman ini bisa mati.
“Agar tetap bisa berbuah, dipupuk dan diberi air yang cukup,” katanya.
Untuk mengaliri lahannya yang ditanami buah naga itu, Asmuni mengaku membeli dari sumur bor seharga Rp 35 ribu per jam dengan waktu pengairan minimal tujuh jam.
“Sekali sewa jasa pengairan dari sumur bor setidaknya butuh Rp 245 ribu. Itu hampir dua kali dalam sebulan. Jadi totalnya Rp 490 ribu per bulan,” jelasnya.
Bila kondisi lahan yang benar-benar cukup parah kekeringannya, jelas dia, kebutuhan air rendaman bisa jauh lebih lama hingga beberapa hari.
“Kalau lahannya lebih dari seperempat hektare, bisa lebih lama dari punya saya,” cetusnya.
Harga sewa jasa pengairan ini, terang Asmuni, biasanya mengacu kepada ukuran pipa dan daya sedot mesin yang digunakan.
Pipa berukuran besar dengan daya hisap yang cukup kuat, biasanya dibanderol Rp 60 ribu per jam.
Kondisi serupa juga diungkapkan petani buah naga lain, Misiyem, 60. Selama kemarau ini, dia juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk menyewa jasa pengairan dari sumur bor.
“Belinya di petani yang punya sumur bor, sewanya Rp 35 ribu per jam,” ungkapnya.
Selain diperparah dengan adanya biaya tambahan untuk mengairi kebun, Misiyem menyebut petani buah naga saat ini juga dihadapkan ke harga jual yang masih tergolong rendah.
“Harga buah naga di tingkat petani, saat ini hanya Rp 5000 hingga Rp 7000 per kilogram, harga itu kecil sekali,” katanya. (gas/abi)
Editor : Ali Sodiqin