Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Warung Sepi Pembeli, Pedagang di Sempu Banyuwangi Beralih jadi Pengupas Kulit Bawang

Salis Ali Muhyidin • Senin, 20 November 2023 | 18:30 WIB
GUYUB: Warga di Dusun Karangrejo, Desa Karangsari, Kecamatan Sempu, Banyuwangi, mengupas bawang putih di rumah pedagang yang biasa menjual ke Pasar Genteng, Jumat (17/11).
GUYUB: Warga di Dusun Karangrejo, Desa Karangsari, Kecamatan Sempu, Banyuwangi, mengupas bawang putih di rumah pedagang yang biasa menjual ke Pasar Genteng, Jumat (17/11).

BANYUWANGI, RadarSitubondo.id – Meski pandemi Covid-19 sudah melandai, roda ekonomi masyarakat, rupanya belum bisa kembali stabil, tak sedikit warga yang harus beralih pekerjaan demi bisa mendapatkan rupiah.

Itu seperti Titin Sunaryo, 48, dan sejumlah tetangganya di Dusun Karangrejo, Desa Karangsari, Kecamatan Sempu, Banyuwangi, yang sejak pandemi bekerja sebagai buruh kupas bawang, Jumat (17/11).

Pada Jawa Pos Radar Genteng, Titin mengatakan terpaksa menjalani pekerjaan ini karena desakan ekonomi.

Sejak pandemi, ia yang dulunya jualan di warung harus banting setir jadi buruh kupas bawang putih dan bawang werah. “Tidak bisa jualan lagi, karena warung sepi,” dalihnya.

Karena kebutuhan ekonomi, Titin ikut tetangganya yang bekerja sebagai burung kupas bawang. Dengan jasanya itu, para pedagang bawang lebih mudah memasarkan dagangannya di pasar lantaran sudah bersih.

“Ini biasa dibawa ke Pasar Genteng (Pasar Genteng 1, Desa Genteng Kulon),” ungkapnya. 

Sayangnya, upah para pengupas bawang ini terbilang sangat kecil. Untuk satu karung bawang, Titin dan kawan-kawan hanya diberi upah Rp 5.000.

Sedangkan, dalam sehari rata-rata bisa mengupas sekitar lima sampai enam karung bawang. “Sehari rata-rata dapat Rp 30 ribu saja,” ujarnya.

Meski cukup kecil, Titin mengaku tetap bersyukur lantaran di samping bekerja sebagai buruh tani, upah dari mengupas bawang bias dibuat untuk kebutuhan dapur.

“Setiap sore oleh juragannya diambil, dan upahnya langsung dibayar sesuai jumlah karung yang dikupas,” tuturnya.

Sisa kulit bawang yang sudah dikupas oleh para pengupas bawang itu, biasanya dikumpulkan untuk dijadikan pupuk tanaman.

“Dulu dibuang begitu saja, tapi mulai setahun ini saya kumpulkan untuk dijadikan kompos tanaman,” kata pengupas bawang putih lainnya, Saimah, 53.

Menurut Saimah, cara mengubah kulit bawang menjadi pupuk itu dengan cara merendam kulit bawang putih dengan air selama satu hari, atau dengan langsung menaburkan kulit bawang yang sudah dihaluskan ke tanaman.

“Sejak pandemi banyak yang suka merawat bunga, pupuknya dari kulit bawang ini,” pungkasnya. (sas/abi)

Editor : Ali Sodiqin
#banyuwangi #pandemi #pekerjaan #ekonomi #sempu #pengupas bawang #genteng #COVID-19 #warung #sepi