Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Keluarga Curiga Kain Kafan Santri Banyuwangi Meninggal di Kediri Berdarah, Setelah Dibuka Ternyata Penuh Ini

Gareta Yoga Eka Wardani • Selasa, 27 Februari 2024 | 18:09 WIB
Santri BBM semasa hidup yang belajar di Ponpes Al Islahiyah, Desa Kranding, Kecamatan Mojo, Kediri (kiri). Tubuh BBM penuh luka saat diantar pulang ke rumahnya di Glenmore.
Santri BBM semasa hidup yang belajar di Ponpes Al Islahiyah, Desa Kranding, Kecamatan Mojo, Kediri (kiri). Tubuh BBM penuh luka saat diantar pulang ke rumahnya di Glenmore.

RadarSitubondo.id – Nasib naas dialami Bintang Balqis Maulana (BBM), 14. Santri Pondok Pesantren (Ponpes) Al Hanifiyyah, Desa Kranding, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri ini diantar pulang ke rumahnya telah meninggal pada Minggu (25/2).

Rumah BBM berada Afdeling Kampunganyar, Dusun Kandanglembu, Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi,

Saat tiba di rumah itu, keluarga curiga karena pada kain kafan banyak berceceran darah.

Karena curiga, keluarga minta kain warna putih dibuka. Dan ternyata, ditubuhnya banyak luka yang cukup parah.

Di beberapa bagian tubuhnya, banyak luka lebam dan bekas sudutan rokok.

“Saya tidak menyangka dia kembali dengan kondisi seperti ini,” ucap kakak korban, Mia Nur Khasanah, 22.

Isak tangis keluarga pecah saat jasad BBM sampai di rumah.

Pihak keluarga tidak menyangka anak bungsu dari tiga bersaudara itu kembali dalam keadaan tidak bernyawa dengan luka lebam dan berdarah di beberapa bagian tubuh.

“Saya tidak menyangka dia kembali dengan kondisi seperti ini,” ucap kakak korban, Mia Nur Khasanah, 22.

Selama ini, keluarga mendapat informasi korban yang bungsu dari tiga bersaudara itu meninggal akibat jatuh di kamar mandi.

Mendengar kabar itu, Mia dan sang Ibu Suyanti yang bekerja di Bali langsung kembali ke Banyuwangi.

“Kami kaget ketika mendapat informasi itu,” kata Mia dengan suara bergetar.

Baca Juga: Diduga Tidak Mendukung Istri Kades Nyaleg: Astun, Ketua RT di Situbondo Tiba-Tiba Dipecat

Mia mengaku curiga saat melihat kain kafan yang membungkus tubuh adiknya ada bercak darah. Akhirnya, dia meminta kain kafan untuk dibuka.

“Ada ceceran darah yang keluar dari keranda,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Genteng.

Permintaan Mia untuk membuka kain kafan korban, sempat ditentang oleh FTH, sepupu korban yang ikut mengantar jenazah dari Kediri bersama beberapa pengurus pesantren.

Alasannya, jenazah korban sudah suci dan tidak boleh dibuka.

“Dia (FTH) ikut dalam rombongan pesantren yang mengantarkan jenazah,” terangnya.

Mia mengaku tidak peduli. Bersama keluarganya ngotot agar kain kafan dibuka.

Saat dibuka, keluarga tersentak melihat kondisi jenazah yang penuh luka lebam dan berdarah.

“Ada luka jeratan di leher, hidung patah, ada luka sudutan rokok di kaki,” terangnya.

Melihat kondisi jasad adeknya yang tidak wajar itu, Mia bersama keluarganya tidak kuasa menahan tangis.

Dia yakin, luka di tubuh adiknya itu bukan karena jatuh di kamar mandi, tapi luka akibat dianiaya.

“Banyak luka sundutan rokok di bagian kaki,” ucapnya.

Ibu korban Suyanti, 38, menyampaikan sebelum meninggal, korban melalui pesan di WhatsApp (WA) minta untuk segera dijemput.

Bahkan, korban masih intens bertukar kabar dengan keluarga.

“Memang minta dijemput, tapi ditanya kenapa minta dijemput tidak pernah menjawab,” katanya.

Suyanti mengaku berusaha ikhlas dengan nasib tragis yang dialami anak bungsunya itu.

Tapi, ia tetap meminta pihak berwajib mengusut tuntas kasus yang menyebabkan anaknya harus meregang nyawa.

“Saya berusaha memaafkan pelaku, saya yakin mati sahid. Tetapi proses hukum harus tetap berlanjut dan dihukum seberat-beratnya,” ucap Suyanti.

Yang membuat Suyanti tambah sedih, janjinya untuk membelikan motor pada korban agar lebih semangat dalam menuntut ilmu belum dipenuhi.

Janji itu, disampaikan melalui percakapan singkat yang dilakukan bersama korban.

“Saya meminta untuk bersabar hingga Ramadan, tapi memang dia minta untuk segera dijemput,” katanya.

Kapolsek Glenmore AKP Satrio Wibowo mengatakan, kasus ini ditangani Polresta Banyuwangi.

Keluarga sempat melaporkan ke Polsek Glenmore dan membawa jenazah korban ke RSUD Blambangan untuk pemeriksaan lebih lanjut.

“Kasusnya kita limpahkan ke Polresta Banyuwangi,” katanya.

Kasat Reskrim Polresta Banyuwangi Kompol Andrew Vega mengatakan, penanganan kasus ini tetap di Polresta Kediri, karena lokasi kejadiannya berada di wilayah Kediri. Pihaknya hanya membantu dalam proses visum.

“Sekilas memang ditemukan tanda luka-luka, tapi belum bisa menyimpulkan akibat tindak pidana atau lainnya, karena hasil visum belum keluar,” ucapnya ketika dikonfirmasi via telepon pukul 10.27, Senin (26/2). (rei/abi)

Editor : Bayu Saksono
#banyuwangi #kediri #kain kafan #penganiayaan #Penuh Luka #darah #santri #Bintang Balqis Maulana