RadarSitubondo.id– Nasib nahas dialami Bintang Balqis Maulana, 14, santri Pondok Pesantren Tartilul Quran (PPTQ) Al Hanifiyyah, Desa Kranding, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri,
Santri asal Afdeling Kampunganyar, Dusun Kendanglembu, Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, diduga menjadi korban kekerasan rekan-rekannya hingga meninggal dunia.
Jenazah korban diantar ke rumah duka di Kendanglembu pada Minggu (25/2).
Begitu tiba di rumah, keluarga curiga karena pada kain kafan banyak berceceran darah. Karena curiga, keluarga minta kain kafan tersebut dibuka.
Setelah dibuka, di beberapa bagian tubuh korban tampak banyak luka lebam dan bekas sundutan rokok.
”Saya tidak menyangka dia kembali dengan kondisi seperti ini,” ucap kakak korban, Mia Nur Khasanah, 22.
Isak tangis keluarga pecah saat jasad Balqis sampai di rumah.
Pihak keluarga tidak menyangka anak bungsu dari tiga bersaudara itu kembali dalam keadaan tidak bernyawa.
Selama ini, keluarga mendapat informasi korban meninggal akibat jatuh di kamar mandi.
Mendengar kabar itu, Mia dan sang ibu, Suyanti, yang bekerja di Bali langsung kembali ke Banyuwangi.
”Kami kaget ketika mendapat informasi itu,” kata Mia dengan suara bergetar.
Mia mengaku curiga saat melihat kain kafan yang membungkus tubuh adiknya ada bercak darah. Akhirnya, dia meminta kain kafan untuk dibuka.
”Ada ceceran darah yang keluar dari keranda,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Genteng.
Permintaan Mia untuk membuka kain kafan korban, sempat ditentang oleh FTH, sepupu korban yang ikut mengantar jenazah dari Kediri bersama beberapa pengurus pesantren.
Alasannya, jenazah korban sudah suci dan tidak boleh dibuka.
”Dia (FTH) ikut dalam rombongan pesantren yang mengantarkan jenazah,” terangnya.
Mia mengaku tidak peduli. Keluarganya ngotot agar kain kafan dibuka.
Saat dibuka, keluarga tersentak melihat kondisi jenazah yang penuh luka lebam dan berdarah.
”Ada luka jeratan di leher, hidung patah, ada luka sudutan rokok di kaki,” terangnya.
Melihat kondisi jasad adiknya yang tidak wajar itu, Mia bersama keluarganya tidak kuasa menahan tangis.
Dia yakin, luka di tubuh adiknya itu bukan karena jatuh di kamar mandi, tapi akibat dianiaya.
”Banyak luka sundutan rokok di bagian kaki,” ucapnya.
Ibu korban Suyanti, 38, menyampaikan, sebelum meninggal, korban sempat mengirim pesan melalui WhatsApp (WA) minta untuk segera dijemput.
Bahkan, korban masih intens bertukar kabar dengan keluarga.
”Memang minta dijemput, tapi ditanya kenapa minta dijemput tidak pernah menjawab,” katanya.
Suyanti mengaku berusaha ikhlas dengan nasib tragis yang dialami anak bungsunya itu.
Tapi, dia tetap meminta pihak berwajib mengusut tuntas kasus yang menyebabkan anaknya harus meninggal dunia.
”Saya berusaha memaafkan pelaku, saya yakin anak saya mati syahid. Tetapi, proses hukum harus tetap berlanjut dan dihukum seberat-beratnya,” ucap Suyanti.
Yang membuat Suyanti tambah sedih, janjinya untuk membelikan motor pada korban agar lebih semangat dalam menuntut ilmu belum dipenuhi.
Janji itu disampaikan melalui percakapan singkat yang dilakukan bersama korban.
”Saya meminta untuk bersabar hingga Ramadan, tapi memang dia minta untuk segera dijemput,” katanya.
Kapolsek Glenmore AKP Satrio Wibowo mengatakan, keluarga sempat melaporkan ke Polsek Glenmore dan membawa jenazah ke RSUD Blambangan untuk pemeriksaan lebih lanjut. (rei/abi/c1)
Editor : Bayu Saksono