Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Keluarga Santri Banyuwangi yang Meninggal Dianiaya di Ponpes Kediri Tolak Berdamai

Gareta Yoga Eka Wardani • Rabu, 6 Maret 2024 | 22:00 WIB
TUNTUT KEADILAN: Suyanti menunjukkan foto Bintang Balqis Maulana dengan hadiah lomba hadrah yang diterima di rumahnya di Dusun Kendenglembu, Desa Kajaharjo, Glenmore, Selasa (5/3).
TUNTUT KEADILAN: Suyanti menunjukkan foto Bintang Balqis Maulana dengan hadiah lomba hadrah yang diterima di rumahnya di Dusun Kendenglembu, Desa Kajaharjo, Glenmore, Selasa (5/3).

RadarSitubondo.id – Keluarga Bintang Balqis Maulana, santri yang diduga menjadi korban penganiayaan di Pondok Pesantren Al Hanifiyah Desa Kranding, Kecamatan Mojo, Kediri memenuhi undangan Polres Kediri Kota.

Pada polisi, pihak keluarga menuntut keadilan atas hilangnya nyawa anak kesayangannya.

Ibu korban Suyanti, 38, asal Dusun Kendenglembu, Desa Kajaharjo, Kecamatan Glenmore mengungkapkan, keberangkatan keluarga menuju Kabupaten Kediri itu pada Minggu (3/3) malam, dan sampai di Kediri sekitar pukul 07.00 pada Senin (4/3).

“Selama di Kediri, kita juga datang ke Radio Andika untuk kasus ini,” ujarnya.

Sejumlah poin menjadi pembahasan saat Suyanti datang ke Kabupaten Kediri. Salah satunya berkaitan dengan nomor handphone (HP) pondok yang terakhir berkomunikasi dengannya. “Yang ini masih mau diusut lagi,” katanya.

Sejak kepergian Bintang, terang dia, keluarga sampai kelelahan, terutama perjalanan dari Kabupaten Banyuwangi ke Kabupaten Kediri, dan membuatnya sakit.

“Saya tetap berjuang untuk anak saya, meski kondisi saya sakit,” katanya.

Saat berada di Polres Kota Kediri, kata Suyanti, pihak keluarga bersama kuasa hukum dari Hotman Paris Hutapea melakukan diskusi tertutup dengan pengacara dari tersangka.

Tapi, bukan menerima akhir yang jelas, Suyanti bertambah geram ketika anaknya disalahkan.

“Anak saya sudah korban, dan dirundung, mereka menyalahkan anak saya,” ucapnya.

Pengacara dari para tersangka itu, jelas dia, menyampaikan anaknya melotot ketika diingatkan oleh para tersangka untuk melaksanakan salat.

“Jika tidak mau salat kok sampai seperti itu. Kalau cuma melototi kok sampai seperti itu (meninggal),” sesalnya.

Suyanti terus menuntut pondok pesantren bertanggung jawab atas kematian anaknya.

Dia merasa, pondok telah lalai dalam memantau dan menjaga para santrinya.

“Intinya pihak pondok harus bertanggung jawab karena lalai menjaga santrinya. Bahkan sampai tidak tahu jenazah anak saya dimandikan,” cetusnya.

Suyanti menyampaikan dalam kasus ini proses hukum akan terus berlanjut.

Dia berharap ada keadilan dan kejelasan dalam kasus yang menimpa anaknya.

“Mohon diurus, takutnya anak saya menelfon saya itu karena ada tekanan dari salah satu pihak pondok,” pungkasnya. (rei/abi)

Editor : Ali Sodiqin
#banyuwangi #kediri #tolak berdamai #meninggal dunia #dianiaya #santri