Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Kutip Epos Ramayana, Kiai Azaim Sebut Arti Nama Situbondo di Acara Kenduri Budaya Lesbumi PBNU

Moh Humaidi Hidayatullah • Sabtu, 16 Maret 2024 | 16:43 WIB
KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy (kanan), Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.
KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy (kanan), Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.

RadarSitubondo.id - Kabupaten Situbondo menjadi satu di antara sembilan tempat di Indonesia yang dipercaya untuk menggelar acara Kenduri Budaya Lesbumi PBNU dan Lembaga Daulat Budaya Nusantara, belum lama ini.

Acara yang mengambil tema ‘Mengawal Kemenangan Indonesia’ ini dihadiri Ketua Lesbumi PBNU Kiai Jadul Maula dan Kiai Azaim Ibrahimy.

Pagelaran Kenduri Budaya di Kabupaten Situbondo digelar oleh PC Lesbumi Kabupaten Situbondo di Pendopo Murtajaya-Desa Juglangan, Kecamatan Panji. Rangkaian kegiatannya dibagi sesi sore dan sesi malam.

Sesi sore diisi acara sarasehan budaya dengan narasumber KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo dan Kiai Jadul Maula, Ketua Lesbumi PBNU, serta antropolog Dr. M. Isfironi Fadjri.

Dalam pemaparannya, Kiai Azaim menyampaikan bahwa budaya harus terus dipertahankan. Karena budaya lebih besar dibanding politik atau ekonomi.

Bagi Kiai Azaim, budaya merupakan pembentuk peradaban manusia. “Peradaban budaya Situbondo ini merupakan jembatan peradaban,” terangnya.

Suami Ning Sari ini mengutip kisah dalam Epos Ramayana. Nama Situbondo memiliki arti jembatan.

“Jembatan yang dibangun agar keagungan bisa menaklukkan ego,” kata Kiai yang mengenakan baju dan sorban warna putih tersebut.

Kiai Azaim mencontohkan bagaimana peran Kiai As'ad yang merangkul para bajingan sehingga bisa menjadi Pelopor.

Mereka kemudian bersama-sama bisa menaklukkan ego dan memperjuangkan peradaban yang agung.

“Jadi, melalui kegiatan kenduri budaya ini kita berharap akan menjadi jembatan agar keagungan bisa menang dari ego, sehingga peradaban agung bisa terus berkembang,” tegasnya.

Sementara itu, Kiai Jadul Maula menyampaikan bahwa budaya kenduri atau selamatan adalah budaya luhur Indonesia yang perlu terus dipertahankan dan dikembangkan di masyarakat.

“Kita bisa lihat praktik budaya masyarakat Indonesia yang bisa dipelajari dan dimaknai sebagai kebanggaan bersama,” tegasnya.

Kata dia, Kenduri Budaya mengingatkan semua pihak bahwa ada nilai luhur dalam budaya bangsa Indonesia yang perlu dipertahankan untuk menjaga semangat persatuan dan kesatuan berbangsa dan bernegara.

“Setiap orang yang beragama akan selalu memperkuat silaturahmi dan toleransi,” ucapnya.

Marluti, salah satu panitia acara menerangkan, acara pada sesi malam diawali penampilan kelompok Mamaca Trisno Pandowo.

Mereka membaca manuskrip Mamaca Nurbhuwat oleh pamaos (pembaca manuskrip) dan panegghes (penerjemah).

Manuskrip ini berisi tentang kisah kehidupan Nabi Muhammad dari sejak dalam kandungan sampai wafatnya.

Kemudian masuk ke acara inti yang dibuka sambutan Ketua Daulat Budaya Nusantara, Dr. Ir. Teguh Haryono.

Dia menyampaikan maksud tema kegiatan Meruwat Nusantara dan Mengawal Kemenangan Indonesia.

“Ketahanan budaya Indonesia adalah modal untuk merawat persatuan dan kesatuan bangsa,” ungkapnya. (*)

Editor : Edy Supriyono
#situbondo #jembatan #pbnu #budaya #Kiai Azaim #arti nama #lesbumi