Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Mengenang RAA Soedibjo, Bupati Besuki yang Tewas Dibantai Jepang Gegara Keras Menolak Warga Jadi Romusha

Edy Supriyono • Jumat, 12 April 2024 | 21:00 WIB
PEMBERANI: Foto RAA Soedibjo bersama istrinya yang masih kerabat RA. Kartini.
PEMBERANI: Foto RAA Soedibjo bersama istrinya yang masih kerabat RA. Kartini.

RadarSitubondo.id – Sosok RAA. Soedibjo tercatat sebagai Bupati Besuki yang fenomenal dalam sejarah. Dia tidak menuruti perintah Jepang yang menyengsarakan rakyat.

Akibatnya fatal, dia tewas dibantai tentara Jepang bersama 29 bawahannya.

Ada pemandangan yang berbeda jika datang ke kompleks pemakaman Bupati Besuki di Desa Bloro, Kecamatan Besuki.

Semua batu nisan makam di tempat tersebut bertulisan nama orang yang meninggal. Nah, ada sejumlah makam yang di batu nisannya kosong tidak tertulis nama.

Makam-makam tersebut berada di satu lokasi dan dibatasi pagar. Di tengahnya berdiri sebuah tugu. Di tugu itulah tertulis nama-nama.

“Di tugu itu tertulis nama-nama yang meninggal. Tapi kita tidak tahu makamnya yang mana. Yang pasti, orang-orang yang meninggal tersebut makamnya ada di sini,” terang Sutomo, salah satu pemuda Besuki.

Azzam Hariyomo, sesepuh masyarakat Situbondo mengungkapkan, RAA. Soedibjo merupakan cicit Bupati Besuki pertama, Pangeran Adipati Ario Prawiro Adhieningrat.

Bupati kedelapan tersebut dibunuh tentara Jepang bersama lima wedana, 13 asisten wedana (camat), tujuh pegawai staf, empat pegawai swasta, dan seorang pensiunan wedana.

Mereka bernama R. Soedarsono (Wedana Situbondo), R. Abdul Kadir (Wedana Panarukan), R. Abdoel Kadir (Wedana Panarukan), R. Soerjadi (Wedana Sumberwaru/Asembagus), RM. Tajri (pensiunan wedana), R. Mohammad Saleh (Wedana Besuki), R. Abdoel Ghani (Camat Situbondo),  R. Soeprijadi (Camat Jangkar), M. Tajuddin (Camat Mangaran), M. Moestafa (Camat Banyuputih), R. Marjoso (Camat Kendit), dan M. Soerowidjojo (Camat Arjasa).

Selain itu, R. Soekirno (Camat Asembagus), R. Soepangkat (Camat Panji), M. Djoko Soedikno (Camat Kapongan), M. Darsin (Camat Besuki), M. Moh. Djoesoep (Camat Jatibanteng), MNG. Soemosipoerno (Camat Suboh),  AZ. Soemardjo (Camat Mlandingan), M. Zainoeddin (Pol PP Karesidenan Sumberwaru), R. Soetjipto (com redaktur Situbondo). M. Hanafi (Kades Mangaran), M. Tajjidin (Kepala Pasar Situbondo), Soedarsono (Kepala PTT Situbondo); M. Santoso (Kepala Opas Situbondo), Mohammad Zaenal (Kepala SR Trebungan), M. Abdoel Madjid (Kepala Jineman LP Situbondo), R. Poenidjan (Anemer Hotel Situbondo), Go Kiem Ho (Tionghoa Situbondo), dan AN. Tjwan Khing (Tionghoa Panarukan).

“Tahun kejadiannya 1943. Tanggal dan bulannya, saya kesulitan melacak hingga saat ini. jumlah yang meninggal 30 orang.” Terang Azzam Haroyomo saat dihubungi Jawa Pos Radar Banyuwangi kemarin.

SITUS: Kompleks makam Bupati Besuki RAA Soedibjo di Besuki, Situbondo.
SITUS: Kompleks makam Bupati Besuki RAA Soedibjo di Besuki, Situbondo.

Pria yang kini tinggal di Kelurahan Dawuhan, Kecamatan Situbondo, tersebut mengungkapkan, 30 pahlawan tersebut dibunuh karena menolak kerja sama dengan bala tentara Jepang.

RAA. Soedibjo tidak mau para wedana mengerahkan rakyat menjadi romusha.

“Demikian juga para wedana, mereka tidak mau memerintah para camat. Para camat tidak mau memerintah kepala desa. Kepala desa juga tidak mau mengumpulkan dan mengerahkan wargamenjadi romusha,” ungkap laki-laki yang rambutnya sudah didominasi warna putih tersebut.

RAA. Soedibjo sangat beralasan melawan perintah Jepang. Sebab, menjadi romusha sangatlah melecehkan martabat manusia, bahkan lebih rendah daripada hewan.

Romusha bekerja sepanjang waktu, tanpa bayaran, tanpa makan dan minum. Rakyat yang menjadi romusha, jarang sekali bisa pulang karena mereka mati kelaparan atau disiksa.

“Jadi, begitu mendengar istilah romusha, maka perasaan takut dan mengerikan akan muncul di benak warga,“ terangnya.

RAA. Soedibjo sebenarnya sudah dirayu bangsa Jepang. Namun, dia tetap menolak mengorbankan rakyat. Puncaknya, dia bersama 29 bawahannya ke Surabaya.

Di suatu tempat, mereka dibantai dengan cara dicacah. Kemudian, jenazah mereka dikubur dalam satu lubang di sebuah kawasan di Surabaya.

Jenazah ke-30 pahlawan tersebut kini berada di Desa Bloro, Kecamatan Besuki, karena sekitar 1950 dilakukan pemindahan.

“Saat itu bupatinya RPA. Ahmad Shaleh Koesomo Winoto dan patihnya Mas Ngabai Saleh Koesomo Dirdjo. Jadi, yang dipindah kerangkanya saja,” imbuh Hariyomo.

Makam RAA. Soedibjo yang terpisah dari 30 makam, sebenarnya hanya merupakan simbol. Sebab, makam tersebut di dalamnya tidak ada jenazah. Kalaupun ada yang dikubur, itu hanya pakaian kebesaran RAA. Soedibjo.

“Kalau kerangkanya RAA Soedibjo bercampur 30 pahlawan yang lain. Tapi yang mana, tidak ada yang tahu,” katanya.

Menurut pria yang peduli sejarah Kabupaten Situbondo tersebut, perjuangan dan pengabdian RAA. Soedibjo melindungi rakyat dari kekejaman penjajah patut diteladani masyarakat.

Sebab, dia dengan ikhlas mengesampingkan kepentingan pribadi dan mengabaikan keselamatan pribadi dan keluarganya.

Kata Hariyomo, tidak ada bupati kabupaten lain di Indonesia yang menjadi korban Jepang. Dengan kata lain, bisa jadi daerah lain memilih kompromi dengan Jepang dan mengirim masyarakat menjadi romusha. (pri/bay)

Editor : Ali Sodiqin
#ROMUSHA #Fenomenal #dibantai #sejarah #jepang #besuki #bupati