RadarSitubondo.id - Ratusan santri Pondok Pesantren Nurul Huda, di Desa Peleyan, Kecamatan Kapongan, Situbondo, Jawa Timur, berebut air Rebo Wekasan, Rabu (4/9).
Warga sekitar ponpes juga banyak yang datang untuk meneguk air khusus yang diyakini bisa menolak turunnya balak itu.
Rabu wekasan merupakan hari Rabu terakhir pada bulan Safar dalam penanggalan Hijriah dan Jawa.
Konon, di hari tersebut Allah menurunkan banyak balak, malapetaka, kesialan dan lain-lain.
Tak heran jika santri Nurul Huda melaksanakan ritual keagamaan untuk memohon perlindungan dan keringanan agar selamat dari segala penyakit yang diturunkan pada Rabu wekasan.
“Memperbanyak amalam di hari Rabu wekasan adalah warisan ulama salaf, lalu dipraktikkan oleh guru-guru kami. Keterangannya juga ada dalam beberapa kitab, seperti dalam kitab Mujarrobat Ad-Dairobi, juga dalam kitab Jawahir Al-khumus,” ucap Jufri, 24, salah satu santri Nurul Huda.
Kata dia, menjelang hari Rabu Wekasan, semua santri Nurul Huda sudah terbiasa melakukan amalan-amalan seperti salat sunah, dan membaca amalan-amaln yang sudah diajarkan oleh guru pesantren.
“Dari malam kita sudah baca amalan-amalan, hingga pada pagi hari minum air yang sudah dikasi tulisan khusus. Air ini bisa diminum untuk umum, santri muapun warga sekitar pesantren,” ucap Jufri.
Diungkapkan, setiap ada ritual Rabu Wekasan, pesantren pasti rame dikunjungi warga yang datang untuk meminum air Rebo Wekasan. Bukan hanya diminum di tempat tapi juga mengambil air untuk dibawa pulang.
“Bukan hanya minum di tempat tapi banyak yang membawa botol untuk diisi air yang sudah didoakan. Kalau santri yang ambil pakai botol ya dibuat minuman tiap hari, kalau warga mungkin dikasi sama keluarga di rumah,” tutup Jufri. (hum/pri)
Editor : Ali Sodiqin