Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Batu Cadas Berukir di Desa Jatisari Situbondo Diprediksi Sebagai Tempat Pemujaan Era Megalitik

Moh Humaidi Hidayatullah • Senin, 7 Oktober 2024 | 18:41 WIB
TEMUAN BATU: Salah satu arkeolog musium Balumbung, mengkukur dimensi ODCB struktur batu bata berelief di Dusun Bhnedusa, Desa Jatisari, Kecamatan Arjasa, Minggu (6/10).
TEMUAN BATU: Salah satu arkeolog musium Balumbung, mengkukur dimensi ODCB struktur batu bata berelief di Dusun Bhnedusa, Desa Jatisari, Kecamatan Arjasa, Minggu (6/10).

RadarSitubondoid - Temuan struktur batu berelief  di Dusun Bendusa, Desa Jatisari, Kecamatan Arjasa, Situbondo, semakin menarik untuk dikaji.

Dugaan terbaru, objek diduga cagar budaya (ODCB) tersebut ada hubungannya dengan pemujaan.

Arkeolog Museum Balumbung, Abhiseka Naufal, mengatakan jika dirinya kagum begitu melihat sebaran foto struktur batu berelief di media sosial (medsos) maupun di media massa.

Sehingga, dirinya memutuskan untuk meninjau lokasi secara langsung.

“Hari ini (kemarin) saya ingin mencoba untuk melihat, begitu melihat dari dekat memang benar-benar menarik batu bata yang diduga bekas pahatan manusia,” ujar Naufal yang akrab disapa arkeolog muda Situbondo itu.

Naufal menjelaskan, dengan orientasi hadap tebing ke Gunung Baluran, dimungkinkan objek tersebut ada hubungannya dengan pemujaan.

Namun untuk memastikan dugaan tersebut membutuhkan kajian yang cukup panjang.

“Keberadaan struktur batu berelief dengan jumlah kolom semu kurang lebih sebanyak 43.  Itu tidak disadari oleh masyarakat setempat, dikira hanya batu cadas biasa. Kalau dilihat hadap tebing bisa saja tempat pemujaan agama orang yang dulu menempati,” tegas Naufal.

Disebutkan, tebing yang berornamen tinggalan kebudayaan megalitik, itu harus didalami. Sebab masih ada temuan-temua batu berukir yang tertutup dengan tanah.

“Kalau didalami cukup menarik, apalagi nama dusun itu diambil dari nama peti orang mati milik masayarakat Hindu, yaitu Bendusa. Konon lokasi peti ada di tengah hutan dan sudah hancur. Benda tersebut akan didatangi juga,” pungkas Naufal. (hum/pri)

Editor : Ali Sodiqin
#Gunung Baluran #batu berukir #hindu #pahatan #megalitikum #arkeologi #peninggalan #tempat pemujaan #Relief #budha #megalitik