Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Lebih Dekat dengan Slamet Sugiyono, Pemahat Patung Buyut Cungking di Bangsring Underwater

Redaksi • Rabu, 23 Oktober 2024 | 18:30 WIB
KARYA SUGIYONO: Patung Mas Bagus Wangsakarya (Buyut Cungking) di Bangsring Underwater, dan di petilasan Buyut Cungking Banyuwangi.
KARYA SUGIYONO: Patung Mas Bagus Wangsakarya (Buyut Cungking) di Bangsring Underwater, dan di petilasan Buyut Cungking Banyuwangi.

RadarSitubondo.id – Sugiyono belajar mematung secara otodidak. Karya terakhir Sugiyono adalah patung Mas Bagus Wongsokaryo alias Buyut Cungking yang sekarang berdiri kokoh di tempat wisata Bangsring Underwater, Banyuwangi.

Melalui karya itu, dia menitipkan pesan spirit andhap asor yang disarikan dari Buyut Cungking.

Belasan patung ditenggelamkan di Bangsring Underwater pada Kamis (10/10) lalu. Patung-patung itu adalah replika prajurit Majapahit beserta satu patung Gajah Mada.

Namun, ada satu patung yang tidak ditenggelamkan. Melainkan dijadikan monumen di daratan. Monumen itu adalah patung Mas Bagus Wangsakarya alias Buyut Cungking. Patung tersebut digarap langsung oleh seniman asli Banyuwangi, Slamet Sugiyono.

Giono, panggilan akrabnya, adalah pematung asal Lingkungan Cungking, Kelurahan Mojopanggung, Kecamatan Giri. Dia mulai menekuni seni patung pada tahun 1994. Sebelumnya, dia adalah pelukis. Darah seni pelukis dia dapatkan dari ayahnya yang merupakan pelukis arsitektur rumah.

Sayangnya, seni lukis tidak ramah dengannya. Karya-karyanya jarang diapresiasi.

”Saya waktu ngelukis itu ikut pameran tidak pernah lolos, jarang terapresiasi. Lukisan sebagus apa pun tidak dihargai,” ungkap seniman berusia 51 tahun ini.

Sambil melukis, Giono bekerja di bidang yang lain seperti menjadi kuli dan sales. Itu dilakukan untuk membeli peralatan lukis. Namun, kemudian dia mendapat kenalan-kenalan baru, yaitu pemahat ukiran Jepara. Dia diminta untuk melukis pola yang akan diukirkan di kayu.

”Di dunia seni patung ini saya merasa dihargai. Apalagi, sebelumnya saya juga sudah memiliki keahlian mematung dengan bahan semen. Jadi, tidak perlu waktu banyak untuk belajar mematung dengan cara memahat,” jelasnya.

Giono mengaku belajar mematung secara otodidak. Bahan yang digunakan pertama kali untuk menekuni belajar patung adalah semen.

Dia juga sempat mendirikan sebuah sanggar yang dia kelola bersama dua temannya. Sanggar itu sukses membuat patung-patung produksinya mendapatkan penghargaan.

Namun, sanggar itu pada akhirnya tutup juga karena sebuah persoalan. Giono tak patah arang. Dia bangkit lagi menjadi pematung independen yang terus berusaha mengembangkan kemampuannya.

Beberapa waktu lalu, Giono mendengar akan ada program dari Pemprov Jatim mengenai penenggelaman patung di Bangsring Underwater.

Dia sudah berusaha memberikan saran untuk memberdayakan pematung lokal. Namun rupanya, urusan tersebut sudah dihandel oleh pihak pemprov.

Giono kemudian diundang Dewan Kesenian Blambangan (DKB) untuk hadir di sebuah forum. Sebuah usulan dilontarkan di forum mengenai ketidaksetujuan adanya penenggelaman patung Gajah Mada dan pasukan Majapahit di lautan Bangsring.

”Kenapa harus Majapahit? Ini kan Blambangan. Harusnya ya istilahnya harus kulo nuwun,” ucapnya menceritakan usulan di forum tersebut.

Akhirnya, jalan tengah ditemukan. Patung-patung tersebut tetap ditenggelamkan dengan syarat harus ada yang merepresentasikan Blambangan.

Dipilihlah Mas Bagus Wangsakarya alias Buyut Cungking. Tokoh ini dipilih karena dia adalah yang paling tua dari 8 pakraman (semacam penasihat raja) yang ada di Kerajaan Blambangan.

”Apalagi, kalau melihat dari ceritanya, beliau yang mengawal perjalanan bahari Patih Gajah Mada di lautan Blambangan.

 Oleh karena itu, diletakkan di daratan. Tidak ikut ditenggelamkan. Juga dihadapkan ke Baluran, sebab di sana ada situsnya juga,” tutur Giono.

Giono sendiri yang berani mengambil tugas untuk mematung leluhur kampungnya itu. Menurut Giono, sebelum mematung, dia meminta izin terlebih dahulu kepada Buyut Cungking.

”Ya saya istilahnya kulo nuwun sama beliau. Melakukan beberapa ritual di petilasannya. Sebenarnya memohon doa kepada Tuhan,” ujarnya.

Giono juga tidak menjamin bentuk patung yang dibuatnya selama 3 pekan ini sama persis dengan gambaran Buyut Cungking.

Yang jelas, menurut dia, patung tersebut dibuat berdasarkan spirit dan filosofi yang dibawa tokoh tersebut.

”Ketika mematung, yang saya kuatkan adalah spirit dan filosofisnya. Yang penting pesannya sampai,” tegasnya.

Yang dimaksud Sugiono dengan spirit adalah perilaku andhap asor alias rendah hati. Menurutnya, hal tersebut didasarkan pada cerita saat Buyut Cungking diremehkan ketika menghadiri pasewakan agung.

”Beliau hanya menggenggam kerisnya, kemudian pamit untuk pulang. Tapi, orang yang meremehkan Buyut Cungking justru tiba-tiba meninggal,” tuturnya.

Oleh karena itu, kata Giono, di bawah patung tersebut terdapat sebuah teks dari Babad Tawangalun 4 Pupuh Pangkur 10 yang berbunyi, ”Kudratè Yang Maha Luhung Kudu sira melèhna wong kang ujubira kibir wahu”. Artinya, takdir Yang Maha Kuasa pasti meleburkan orang-orang yang berlaku takabur.

”Nah, dengan bentuk patung yang sedemikian rupa beserta teks yang ada di sana, saya harap itu bisa menetralkan arogansi orang-orang yang datang ke Bumi Blambangan,” pungkasnya. (Rizqi Hasan/aif/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#banyuwangi #bangsring underwater #pematung #patung #Buyut Cungking #pemahat relief