radarsitubondo.id - Tari Gandrung Banyuwangi dikenal luas bukan hanya karena gerakannya yang memukau, tetapi juga karena selendang merah menyala yang menjadi simbol utamanya.
Namun, pertanyaan muncul dari sejumlah kalangan muda: bolehkah selendang dalam Tari Gandrung sesekali berwarna putih?
Di tengah geliat kreativitas generasi baru, muncul eksperimen visual yang mempertanyakan pakem estetika tradisi.
Warna merah pada selendang Gandrung secara historis melambangkan semangat perjuangan rakyat Blambangan melawan penjajah, terutama melalui tokoh-tokoh seperti Gandrung Marsan yang merepresentasikan perlawanan lewat seni.
Namun, dalam sebuah pementasan terbatas di sebuah hotel, seorang penari memperkenalkan selendang putih sebagai simbol kesucian dan harapan baru.
Putih bukan untuk menggantikan merah, tapi untuk menyampaikan pesan berbeda.
Dalam konteks modern yang belum mengenal kehadiran jalan tol, ini bisa jadi mengekspresikan fase baru dari perjuangan, perjuangan batin, pencarian identitas, dan perdamaian.
Sementara itu, ada pandangan lain bahwa inovasi seperti ini sah-sah saja selama tidak menghilangkan esensi Gandrung sebagai seni rakyat.
Selendang putih bisa menjadi medium kontemplatif, tapi harus tetap menyadari akar historisnya.
Merah adalah simbol darah perjuangan, sedangkan putih bisa dimaknai sebagai pengingat akan tujuan mulia dari perjuangan itu sendiri.
Meski belum semua pihak menerima gagasan ini, eksperimen selendang putih mulai menarik perhatian kalangan seniman kontemporer.
Seperti halnya perjuangan, seni juga tumbuh melalui dialektika.
Mungkin suatu hari, selendang putih akan memiliki tempat terhormat di antara gemulai Gandrung, bukan sebagai pengganti, tetapi sebagai pelengkap kisah perjuangan yang terus hidup. (*)
Editor : Bayu Saksono