radarsitubondo.id - Di tengah derasnya arus globalisasi dan maraknya budaya pop asing, kesenian tradisional Jaranan Banyuwangi justru menunjukkan napas panjangnya.
Tak hanya bertahan, seni pertunjukan yang sarat magis ini justru kian digemari oleh kalangan muda bahkan anak-anak.
Di sebuah lapangan terbuka di Kecamatan Banyuwangi kota, ratusan warga tumpah ruah menyaksikan penampilan kelompok Seni Jaranan untuk hiburan warga yang sedang hajatan selamatan khitanan anaknya di wilayah Kelurahan Pengantigan sore itu.
Tak sedikit dari penonton yang masih duduk di bangku sekolah dasar terlihat antusias menirukan gerakan penari, lengkap dengan sorak-sorai mengikuti irama gamelan yang menghentak sambil sesekali berlari kencang ibarat mobil melaju di jalan tol Probolinggo - Banyuwangi (Tol Probowangi).
"Awalnya cuma lihat dari YouTube, terus jadi pengin nari Jaranan beneran," ujar seorang siswa kelas 5 SD yang sedang membeli peluat seharga Rp 2.000 untuk meramaikan pawai seni Jaranan tersebut.
Seni Jaranan Banyuwangi berbeda dengan varian Jaranan dari daerah lain seperti daerah Probolinggo, Gending, Kraksaan, Paiton, Besuki, Situbondo hari ini.
Ia tidak hanya mengandalkan elemen tari dan musik, tapi juga kental dengan unsur spiritual.
Menurut seorang seniman Jaranan, meningkatnya minat generasi muda terhadap kesenian ini adalah fenomena yang menggembirakan.
"Dulu, orang bilang Jaranan itu kuno dan serem. Tapi sekarang banyak anak muda yang justru bangga bisa ikut tampil. Mereka lihat ini sebagai warisan yang keren dan unik," ungkap pemuda yang juga pemain gamelan tersebut.
Daya tarik Jaranan juga mendapat dukungan dari inovasi para pelaku seni.
Beberapa kelompok kini mulai memodifikasi tampilan visual, seperti kostum warna-warni yang lebih modern serta sentuhan koreografi yang adaptif dengan selera anak muda, tanpa menghilangkan unsur tradisionalnya.
Strategi tersebut terbukti efektif menghidupkan kembali semangat anak-anak terhadap budaya daerah.
Bagi masyarakat Banyuwangi, seni Jaranan lebih dari sekadar tontonan.
Dan ketika anak-anak mulai tertarik belajar gerak tari kuda lumping sambil mengingat mantra-mantra leluhur, di sanalah tradisi ini menemukan masa depannya.
Dengan semangat muda yang membara dan dukungan komunitas yang solid, seni Jaranan Banyuwangi tampaknya tak akan kehilangan panggungnya.
Justru, ia kini memasuki babak baru: tradisi yang disulut kembali oleh generasi yang dulu dianggap terlalu jauh dari akar budayanya. (*)
Editor : Bayu Saksono