RADARSITUBONDO.ID - Di setiap bulan Rabiul Awal, seluruh Indonesia merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan nuansa sakral dan kegembiraan.
Suara sholawat mengalun dari masjid, langgar, dan rumah warga. Tradisi ini adalah warisan budaya yang menjadi identitas Indonesia di dunia.
Tradisi Maulid Nabi di Indonesia dimulai pada abad ke-13 saat Islam masuk ke Nusantara. Para wali dan ulama memadukan nilai-nilai Islam dengan kearifan lokal untuk menciptakan tradisi unik. Sunan Kalijaga menggunakan budaya dalam dakwahnya, termasuk peringatan Maulid Nabi.
Di Jawa, dikenal sebagai "Garebeg Mulud" di Yogyakarta dan Surakarta "Sekaten" dengan gamelan dan prosesi gunungan. Di Aceh, tradisi ini melibatkan pembacaan Barzanji dan tarian Saman. Di Kalimantan, ada "Madihin Maulid" yang menggabungkan syair Islami dengan pantun Banjar.
Baca Juga: Ratusan Siswa SMA 1 Panji Keracunan MBG?, Tim Ahli Gizi MBG Tunggu Hasil Lab untuk Komentar
Keunikan tradisi Maulid Nabi di Indonesia terletak pada keberagamannya. Tiap daerah memiliki ciri khas dalam perayaannya. Di Betawi, "Maulid Betawi" diiringi dengan ketupat sayur dan kerak telor serta kasidah Betawi.
Di Minang, "Maulid Baganduang" menjadi ajang reuni keluarga, dibarengi pembacaan riwayat Nabi dan hidangan seperti rendang. Di Papua, komunitas Muslim merayakan dengan musik tradisional dan sholawat.
Baca Juga: Bakal Ganti Nama, Proyek Tol Probolinggo–Situbondo Sudah 80 Persen Rampung!
Tradisi Maulid Nabi Indonesia menarik perhatian internasional. UNESCO mengakui beberapa tradisi Maulid sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia. Tarian Saman dari Aceh menjadi duta budaya Indonesia.
Festival Maulid di Jakarta, Surabaya, dan Makassar kini menjadi tujuan wisata religi yang menarik ribuan wisatawan asing untuk menyaksikan perayaan dan memahami harmoni Islam dengan budaya lokal.
Baca Juga: Sudah Disampaikan ke Bupati Rio, Nama Jalan Probowangi di Situbondo Resmi Diubah
Tradisi Maulid Nabi di Indonesia mengandung nilai-nilai luhur yang universal. Semangat kebersamaan terlihat saat masyarakat bergotong-royong menyiapkan acara.
Nilai toleransi tercermin saat masyarakat non-Muslim turut merayakan dan membantu persiapan. Di beberapa daerah, Maulid menjadi momen dialog antar umat beragama yang memperkuat persaudaraan.
Tradisi ini membuktikan bahwa warisan budaya dapat menjembatani nilai-nilai agama dan kearifan lokal, serta antara tradisi dan modernitas. Ini adalah kekayaan bangsa yang harus dilestarikan untuk generasi mendatang.
Ikuti terus berita ter-update Radar Situbondo di Google News
Editor : Ali Sodiqin