RADARSITUBONDO.ID - Setiap Rabiul Awal, aroma hio dan lantunan sholawat menyatu di kampung. Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia adalah manifestasi filosofi hidup yang mengakar dalam masyarakat.
Saat matahari terbenam di hari kedua belas Rabiul Awal, ribuan lilin dinyalakan di masjid. Cahaya ini melambangkan nur Muhammad yang menerangi dunia. Dalam filosofi Jawa, "cahaya" melambangkan pencerahan batin dan kebijaksanaan menuju kebenaran.
Pembacaan kitab Barzanji secara berjamaah mencerminkan nilai komunalisme Indonesia. Suara yang harmonis menggambarkan keselarasan sosial, di mana individualitas hilang dalam harmoni kolektif. Setiap bait adalah pujian kepada Rasulullah dan doa untuk kesejahteraan umat.
Aspek kuliner dalam Maulid juga mengandung makna filosofis. Bubur suro, kue apem, dan kolak candil melambangkan syukur dan berbagi kebahagiaan. Makanan yang dibagikan disebut "berkah" yang berarti penyebaran kebaikan dan penguatan ikatan sosial.
Prosesi kirab dalam Maulid mengandung filosofi perjalanan spiritual. Setiap langkah melambangkan tahapan mencapai kesempurnaan akhlak sesuai ajaran Rasulullah. Umbul-umbul dan rebana mewakili kegembiraan jiwa dalam pencarian Tuhan.
Baca Juga: The Conjuring: Last Rites Tayang Tanggal Berapa di Indonesia? Jadwal Rilis & Tayang Perdana
Tradisi Maulid di Indonesia menyinkronkan nilai Islam dengan kearifan lokal. Konsep "nguri-uri" dalam budaya Jawa harmonis dengan ajaran Nabi Muhammad. Ini menghasilkan praktik spiritual yang autentik yang tetap berakar dalam budaya dan setia pada ajaran agama.
Melalui Maulid, masyarakat Indonesia merayakan kelahiran kembali nilai kemanusiaan. Filosofi ini mengajarkan bahwa spiritualitas sejati menyentuh realitas sosial, menyebarkan kasih sayang, dan membangun peradaban.
Ikuti terus berita ter-update Radar Situbondo di Google News
Editor : Ali Sodiqin