Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Tradisi Maulid Nabi di Indonesia, Dari Sejarah, Makna, dan Perkembangannya

Bayu Shaputra • Jumat, 5 September 2025 | 21:43 WIB
Tradisi Sekaten di Yogyakarta untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad.
Tradisi Sekaten di Yogyakarta untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad.

RADARSITUBONDO.ID - Tradisi perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia sudah menjadi bagian penting dari budaya Islam Nusantara selama berabad-abad. Perayaan ini diperkenalkan oleh ulama dan pedagang Arab antara abad ke-13 dan ke-15 saat penyebaran Islam di Indonesia.

Para wali songo, penyebar Islam di Jawa, mengadaptasi tradisi Maulid dengan kearifan lokal. Sunan Bonang menciptakan tembang Jawa tentang kehidupan Nabi Muhammad dengan irama gamelan, mempermudah penyampaian ajaran dan menciptakan seni spiritual yang unik.

 Baca Juga: Wakil Bupati Situbondo, Ulfiyah, Lakukan Peninjauan Terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di Desa Klatakan dan Kelurahan Mimbaan

Makna spiritual Maulid di Indonesia memberi kesempatan kepada umat Muslim untuk merenungkan akhlak Rasulullah dan menginternalisasi nilai-nilai kebaikan.

Membaca Qasidah Burdah karya Imam Al-Bushiri menjadi ritual sakral yang menyentuh jiwa para jamaah. Lantunan sholawat di masjid menciptakan atmosfer khusyuk, sering kali mengundang air mata kebahagiaan saat nama Muhammad diucapkan.

Beragam cara merayakan Maulid Nabi mencerminkan kekayaan budaya Indonesia. Di Jawa Tengah dan Yogyakarta, tradisi "Sekaten" menggabungkan ritual keagamaan dengan pameran budaya. Gamelan sekaten dimainkan khusus untuk peringatan ini, menciptakan harmoni antara spiritualitas dan seni.

 Baca Juga: Ratusan Siswa SMA 1 Panji Keracunan MBG?, Tim Ahli Gizi MBG Tunggu Hasil Lab untuk Komentar

Di Jakarta, tradisi Betawi "Marhaban" menampilkan grup Marawis dengan rebana dan kasidah, menyanyikan pujian kepada Nabi Muhammad. Di Sumatera Barat, "Maulid Adat" menggabungkan riwayat Nabi dengan adat Minangkabau.

Di Indonesia Timur, seperti Sulawesi dan Maluku, perayaan Maulid diwarnai tarian dan musik lokal yang menggunakan lirik islami, menunjukkan bahwa Islam memperkaya identitas budaya lokal.

Masuk abad ke-21, tradisi Maulid Nabi mengalami transformasi. Media sosial dan teknologi digital membawa nilai-nilai Maulid ke generasi milenial dan Z melalui podcast dan platform streaming.

Organisasi Islam seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah memiliki pendekatan berbeda, dengan NU lebih pada ritual, sementara Muhammadiyah fokus pada substansi ajaran. 

Di tengah globalisasi, tradisi Maulid Nabi menghadapi tantangan untuk relevansi bagi generasi muda. Namun, kreativitas para da’i dan seniman Muslim mencari cara inovatif untuk menjaga tradisi ini melalui konser spiritual, festival seni Islam, dan aplikasi tentang sirah nabawiyah.

Tradisi Maulid Nabi di Indonesia adalah ungkapan cinta kepada seorang teladan. Dalam perayaan ini, umat Muslim Indonesia mengenang sejarah dan membangun masa depan yang lebih baik berdasarkan nilai kemuliaan akhlak Rasulullah SAW.


Ikuti terus berita ter-update Radar Situbondo di Google News

Editor : Ali Sodiqin
#Maulid Nabi Muhammad SAW 2025