RADARSITUBONDO.ID - Ketika bulan purnama berubah merah, peradaban kuno di seluruh dunia merasakan ketakutan. Fenomena ini, yang dikenal sebagai gerhana bulan, telah menjadi sumber cerita dan mitos selama ribuan tahun sebelum penjelasan ilmiah muncul.
Nenek moyang kita menciptakan berbagai narasi untuk menjelaskan bulan "menghilang" atau berubah warna. Masyarakat Tiongkok kuno percaya naga langit memakan bulan, sehingga mereka memukuli gong dan menyalakan petasan untuk mengusirnya.
Dalam mitologi Norse, serigala raksasa Sköll dan Hati mengejar bulan dan matahari, gerhana terjadi saat salah satu dari mereka menangkap mangsanya.
Peradaban Maya percaya jaguar langit menyerang bulan, yang berubah merah seperti darah. Masyarakat Inca meyakini jaguar raksasa menyerang bulan, dan jika berhasil, akan turun untuk memangsa manusia.
Baca Juga: Mengapa Tubuh Sering Kedutan? Penyebab, Pertanda, dan Cara Mengatasinya
Gerhana bulan dianggap pertanda spiritual yang kuat. Banyak budaya melihatnya sebagai momen transformasi atau waktu untuk ritual penyembuhan.
Dalam tradisi Hindu dan Buddha, gerhana dianggap tidak menguntungkan untuk aktivitas penting, tetapi baik untuk meditasi.
Suku asli Amerika percaya energi spiritual kuat selama gerhana, dan sering melakukan upacara khas dengan api suci, nyanyian, dan doa hingga bulan kembali normal.
Baca Juga: Arti Kedutan di Tubuh Menurut Primbon Jawa dan Psikologi Modern
Gerhana bulan terjadi saat Bumi berada di antara Matahari dan Bulan, menutupi permukaan bulan. Bulan berubah merah kecoklatan karena atmosfer Bumi membiaskan cahaya matahari.
Proses ini melibatkan hamburan Rayleigh, yang membuat matahari terbenam tampak oranye kemerahan. Atmosfer Bumi menyaring cahaya biru dan ungu, sementara cahaya merah melewati atmosfer menuju bulan.
Baca Juga: Tips Cara Membuat Bibir Cerah Alami dalam 7 Hari
Durasi gerhana bulan total bisa mencapai 1 jam, lebih lama daripada gerhana matahari. Intensitas warna merah bervariasi tergantung kondisi atmosfer Bumi, dengan debu dan partikel dari letusan gunung berapi atau kebakaran hutan membuat bulan tampak lebih gelap.
Astronot di Stasiun Luar Angkasa Internasional dapat melihat gerhana ini dengan cara unik, menyaksikan bayangan Bumi bergerak di bulan dan cincin merah dari matahari terbit dan terbenam secara bersamaan.
Gerhana bulan menunjukkan indahnya evolusi pemahaman manusia. Dari ketakutan awal hingga apresiasi ilmiah, fenomena ini tetap menakjubkan dan mengingatkan kita akan posisi kita di alam semesta.
Baik melalui mitologi kuno atau sains modern, gerhana bulan tetap menjadi spektakel langit yang menawan dan bermakna bagi manusia.
Ikuti terus berita ter-update Radar Situbondo di Google News
Editor : Ali Sodiqin