RadarSitubondo.id – Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo berkomitmen untuk menjadikan Besuki seperti yang diimpikan oleh Bupati Pertama, Pate Alos. Yakni, Besuki yang tidak hanya memiliki potensi sosial dan ekonomi, tetapi juga menjaga nilai-nilai.
Pernyatan tersebut disampaikan Bupati Rio saat peringatan Hari Jadi Besuki (HJB) ke-261, Minggu (7/9). Berbagai elemen masyarakat Besuki turut hadir untuk memeriahkan kegiatan tahunan tersebut. (HJB) ke-261 diawali dengan melakukan napak tilas dari Desa Demung menuju Besuki. Ini sebagai sebuah simbol historis bahwa tanah Besuki dibabat mulai dari wilayah Demung.
Bupati Situbondo menegaskan, dalam catatan sejarah, Pate Alos merupakan bupati pertama sekaligus tokoh yang membuka wilayah Situbondo, khususnya Besuki. Oleh sebab itu, kegiatan peringatan HJB ini menjadi momentum awal untuk mewujudkan cita-cita besar Pate Alos. "Ke depan, kegiatan seperti ini akan terus dilaksanakan dengan dimensi yang lebih luas dan berdampak sosial bagi masyarakat," ujarnya.
Lebih lanjut, Bupati Rio menambahkan bahwa sesuai harapan Pate Alos, Besuki tidak hanya memiliki potensi sosial dan ekonomi, tetapi juga harus menjaga nilai-nilai yang telah diajarkan oleh Pate Alos. Salah satunya adalah menjaga Besuki dalam segala aspek sebagai tanggung jawab bersama.
"Jadi bukan hanya memperingati hari jadi, tetapi juga memahami apa yang harus dilakukan oleh generasi sekarang agar Besuki benar-benar menjadi seperti yang dicita-citakan oleh Pate Alos," imbuhnya.
Mas Rio sapaan akrab Bupati juga menyoroti persoalan sampah yang dinilai menjadi permasalahan serius di Besuki. Menurutnya, hal kecil seperti menjaga kebersihan lingkungan harus menjadi prioritas.
"Persoalan sampah ini sangat penting. Saya yakin dahulu Pate Alos dan para pembabat tidak ingin lingkungan mereka rusak. Maka, aspek ekologis ini harus kita jaga bersama," tegasnya.
Selain itu, ia menambahkan bahwa Besuki merupakan salah satu wilayah dengan tingkat kemiskinan yang cukup tinggi. Oleh karena itu, pemerintah perlu memberi perhatian serius pada aspek sosial dan ekonomi agar Besuki bisa lebih berkembang.
"Kami sebagai pembuat kebijakan akan menyiapkan instrumen-instrumen struktural. Tapi semua itu tidak akan berhasil jika masyarakat belum memiliki kesadaran kolektif. Ini adalah pekerjaan rumah (PR) kita bersama," jelasnya. (rif/pri/adv)
Editor : Edy Supriyono