RADARSITUBONDO.ID- Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur Zeiniye menggelar acara saresehan Budaya dengan menggandeng Dewan Kesenian Situbondo (DKS), Minggu (30/08). Acara yang diikuti pegiat seni, siswa dan mahasiswa tersebut mengambil tema “Peran Strategis Pegiat Seni dalam Menguatkan Identitas dan Daya Tarik Wisata Lokal"
Dalam Pemaparannya Zeiniye menerangkan sebagai anggota yang duduk di Komisi E DPRD Jawa Timur bidang seni juga merupakan leading sektornya dalam menjalankan tugas sebagai wakil rakyat. “Empat periode menjadi anggota DPRD mulai dari Situbondo hingga Jawa Timur saya punya file banyak tentang seni, khususnya di Kabupaten Situbondo,” terangnya.
Menurut dia, Jika berbicara seni sebagai sebuah identitas maka Situbondo kaya akan hal tersebut. Sehingga, semua potensi seni yang ada di Kabupaten Situbondo. “Tidak perlu latah dengan seni atau budaya tetangga, Situbondo juga kaya seni, tinggal bagaimana tugas kita sekarang bersama-sama terus mengkreasikan, memodif lagi menyesuaikan dengan perkembangan zaman,” tandasnya.
Zeiniye menegaskan bahwa Kabupaten Situbondo memiliki kesenian yang tidak ada didaerah lain. Misalnya, Hodo, ritual pemanggil hujan di Kecamatan Asembagus. “Semua pihak punya tugas untuk melestarikan kesenian yang ada, agar bisa terus tumbuh dan berkembang dalam setiap pergantian generasi,” imbuhnya.
Perempuan berjilbab tersebut mencontohkan, dirinya tidak gengsi mendatangkan kesenian Tetet untuk mengiringi anaknya yang sedang diarak dalam salah satu prosesi melangsungkan pernikahan. “Saya bangga karena saya orang sopet ini identitas saya. Saya juga mendatangkan tabbuwan. Makanya kita harus bangga sebagai orang Situbondo,” ungkap Zeiniye.
Dia mengaku mengapresiasi kerja-kerja yang selama ini dilakukan DKS. Sebab, salah satu tugas dan fungsinya adalah menggali potensi-potensi seni tradisional yang ada di Kabupaten Situbondo.
Sementara itu, Ketua DKS, Edy Supriyono menerangkan bahwa salah satu penyebab Kabupaten Situbondo belum memiliki identitas seni yang kuat adalah tidak adanya kesadaran bersama untuk menentukan satu kesenian yang akan dijadikan identitas kolektif masyarakat Situbondo. “Semua diangkat, ya akhirnya kabur. Terlalu banyak narasi,” imbuhnya. (rif/pri)
Editor : Edy SupriyonoSumber : Radar Situbondo