RADARSITUBONDO.ID - Laga uji coba melawan Bulgaria menjadi ujian sesungguhnya bagi Timnas Indonesia setelah kemenangan telak atas St. Kitts and Nevis. Pengamat sepak bola nasional, Justinus Lhaksana, menilai hasil 4-0 sebelumnya belum bisa dijadikan tolok ukur kekuatan tim secara keseluruhan.
Dalam analisis terbarunya, sosok yang akrab disapa Coach Justin itu menyoroti bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh pelatih anyar John Herdman. Ia menilai performa tim belum sepenuhnya sesuai dengan sistem permainan yang diinginkan pelatih.
Menurutnya, tempo permainan Indonesia pada awal laga masih menjadi perhatian utama. Hal tersebut bahkan disebut sudah disoroti langsung oleh Herdman dari area mixed zone.
“John Hartman sudah teriak-teriak karena sistem yang dia inginkan tidak berjalan maksimal. Melawan tim sekelas Bulgaria, jika kita bermain lambat, risikonya adalah dibantai,” ujar Coach Justin dalam kanal YouTube pribadinya.
Baca Juga: Geger Penemuan Mayat di Freezer Kios Ayam Geprek Bekasi, Korban Dikenal Ramah
Ia menegaskan bahwa kecepatan dan intensitas permainan akan menjadi faktor krusial saat menghadapi tim Eropa seperti Bulgaria. Dibandingkan dengan St. Kitts and Nevis, lawan kali ini dinilai memiliki kualitas permainan yang jauh lebih terorganisir dan disiplin.
Selain tempo, Coach Justin juga memberikan perhatian khusus pada lini pertahanan. Ia mendorong agar duet Jay Idzes dan Justin Hubner diprioritaskan sebagai palang pintu utama. Menurutnya, keduanya memiliki chemistry yang dapat memperkuat stabilitas lini belakang.
Di sisi lain, Kevin Diks dinilai lebih efektif jika difokuskan membantu sektor kanan, baik dalam bertahan maupun mendukung serangan. Penyesuaian posisi ini diharapkan mampu memberikan keseimbangan dalam transisi permainan.
Baca Juga: Aksi “No Kings” Meluas di AS, Jutaan Warga Turun ke Jalan
Masalah lain muncul di sektor tengah, terutama dengan absennya Thom Haye dan Marselino Ferdinan. Kehilangan dua pemain kreatif ini membuat Indonesia berpotensi kekurangan ide dalam membangun serangan.
Untuk mengatasi hal tersebut, Coach Justin menjagokan Ragnar Oratmangoen sebagai motor permainan. Ia menilai Ragnar memiliki etos kerja yang tinggi dan mampu menjadi pembeda di lapangan.
“Ragnar itu napasnya seperti paru-paru kuda. Etos kerjanya gila. Di saat kita kalah kualitas secara individu dari Bulgaria, kita harus unggul di etos kerja dan kecepatan,” tambahnya.
Secara peringkat FIFA, Bulgaria yang berada di kisaran peringkat 80 dunia memang lebih unggul dibanding Indonesia. Namun, Coach Justin menekankan bahwa sepak bola tidak hanya ditentukan oleh angka statistik semata. Ia melihat peluang tetap terbuka selama Indonesia mampu bermain disiplin dan efektif.
Baca Juga: Mauro Zijlstra Cedera, PSSI Panggil Jens Raven Jelang Final Indonesia vs Bulgaria
Efektivitas menjadi sorotan utama dalam analisisnya. Selama ini, Timnas Indonesia dinilai masih sering membutuhkan banyak peluang untuk mencetak satu gol. Kondisi tersebut dinilai berbahaya jika terjadi saat menghadapi tim dengan kualitas lebih tinggi.
“Salah satu kekurangan timnas kita adalah efektivitas. Kita butuh banyak peluang hanya untuk satu gol. Lawan Bulgaria, peluang mungkin tidak akan banyak, jadi setiap kesempatan harus benar-benar dimaksimalkan,” tutupnya.
Editor : Bayu Shaputra