RADARSITUBONDO.ID - Tim nasional futsal Indonesia menatap ASEAN Futsal Championship 2026 dengan pendekatan yang terukur, yakni menjaga identitas permainan yang telah dibangun dalam periode sebelumnya.
Turnamen tersebut dijadwalkan mulai berlangsung pada Senin (6/4) di Nonthaburi Hall, Thailand, dan menjadi panggung awal bagi skuad dengan komposisi mayoritas wajah baru.
Perubahan komposisi pemain menjadi salah satu sorotan utama dalam persiapan tim. Para pemain yang dipanggil didominasi oleh talenta yang tampil menonjol di kompetisi Profesional Futsal League (PFL).
Meski membawa energi baru, situasi ini sekaligus menghadirkan tantangan tersendiri, terutama dalam hal adaptasi terhadap sistem permainan yang sudah dirancang sebelumnya.
Baca Juga: Big Match La Liga, Atletico Madrid Tantang Barcelona di Wanda Metropolitano
Pelatih kepala Hector Souto mengungkapkan bahwa keterbatasan waktu menjadi hambatan paling signifikan dalam proses persiapan. Dengan hanya lima sesi latihan yang tersedia, tim pelatih harus bekerja secara efisien untuk memastikan para pemain memahami konsep permainan yang diinginkan.
"Hal yang paling menantang adalah kami hanya memiliki lima sesi latihan. Jadi, seperti yang bisa Anda lihat, dengan 10 jam latihan dan skuad pemain yang hampir seluruhnya baru, ini sangat menantang," kata Souto dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Minggu.
Meski menghadapi kendala waktu, pelatih asal Spanyol tersebut menegaskan bahwa kualitas individu pemain tidak menjadi persoalan. Ia menilai kompetisi domestik telah membentuk pemain dengan kemampuan yang cukup untuk bersaing di level Asia Tenggara.
Baca Juga: Bertandang ke Mallorca, Real Madrid Incar Tiga Poin untuk Tekan Puncak Klasemen
"Ini (waktu) adalah masalah terbesar kami, bukan kualitas para pemain itu sendiri. Saya pikir mereka semua adalah pemain yang bagus di Asia Tenggara," ujar Souto.
Dalam situasi yang serba terbatas, fokus utama tim pelatih adalah mentransfer sistem permainan yang telah dikembangkan bersama skuad sebelumnya. Sistem tersebut telah dibangun dalam kurun waktu satu setengah tahun dan menjadi fondasi identitas permainan tim nasional.
Souto menyadari bahwa proses transisi dari pemain lama ke pemain baru tidak bisa berjalan instan. Namun, ia tetap menaruh harapan besar agar karakter permainan tim tidak mengalami perubahan signifikan.
"Masalah terbesar yang akan kami hadapi adalah mengingat sistem dan detail-detail yang telah kami kerjakan bersama skuad senior selama satu setengah tahun," kata Souto.
"Sekarang adalah waktunya untuk memperkenalkan pemain baru. Jika mereka bisa mempertahankan identitas kami dan mengingat cara kami bermain, atau cara tim nasional Indonesia harus bermain, itu sudah cukup."
Baca Juga: PSSI Buka Suara Soal Paspoortgate, Status WNI Pemain Timnas Dipastikan Tidak Bermasalah
Ia juga memahami bahwa dalam pertandingan nanti kemungkinan akan ada detail kecil yang terlewat. Namun hal tersebut dinilai sebagai bagian dari proses perkembangan tim yang sedang berlangsung.
"Tapi itu tidak masalah, kami datang ke sini untuk memberi paparan kompetisi bagi para pemain ini. Kami sedang dalam masa evolusi dan kami harus berkembang, kami fokus pada hal itu," ujar Souto.
Timnas futsal Indonesia akan memulai perjalanan mereka dengan menghadapi Brunei Darussalam pada laga pembuka, Senin (6/4).
Pertandingan ini menjadi ujian awal bagi skuad baru dalam menerapkan identitas permainan yang diharapkan tetap terjaga meski dalam kondisi persiapan yang terbatas.
Editor : Bayu Shaputra