RADARSITUBONDO.ID - Rencana pertandingan panas antara Arema FC menghadapi Persebaya Surabaya yang dijadwalkan berlangsung pada 28 April mendatang kini berada dalam situasi belum pasti. Stadion Kanjuruhan yang sebelumnya diproyeksikan menjadi lokasi utama belum mendapatkan persetujuan dari pihak kepolisian.
Kondisi ini langsung menarik perhatian publik, khususnya pecinta sepak bola di Jawa Timur yang sudah menantikan duel penuh gengsi tersebut. Pertemuan kedua tim selama ini selalu menghadirkan tensi tinggi, tidak hanya di dalam lapangan tetapi juga di luar pertandingan.
Hingga kini, rencana laga tersebut masih tertahan lantaran Polres Malang belum mengeluarkan rekomendasi penggunaan Stadion Kanjuruhan. Keputusan itu merupakan hasil dari rapat koordinasi yang digelar di Aula Polres Malang pada Selasa, 15 April 2026, dengan melibatkan sejumlah pihak terkait.
Baca Juga: Jadwal Indonesia U-17 vs Malaysia, Momentum Garuda Asia Kunci Tiket Semifinal
Kapolres Malang AKBP Muhammad Taat Resdi menjelaskan bahwa dalam rapat tersebut dibahas dua agenda pertandingan Arema FC, yakni laga melawan Persis Solo pada 18 April dan pertandingan melawan Persebaya Surabaya pada 28 April. Dari hasil pembahasan tersebut, muncul keputusan berbeda untuk masing-masing laga.
Pertandingan Arema FC melawan Persis Solo dipastikan tetap digelar di Stadion Kanjuruhan. Sebaliknya, duel menghadapi Persebaya Surabaya masih belum mendapatkan kepastian.
“Laga kandang lawan Persis sudah bisa dilaksanakan di Kanjuruhan. Kalau Persebaya, dengan beberapa pertimbangan kami belum siap,” ujar Taat.
Menurutnya, pertandingan melawan Persebaya masuk dalam kategori berisiko tinggi terhadap keamanan dan ketertiban masyarakat. Status tersebut membuat aparat kepolisian harus melakukan pertimbangan secara lebih matang sebelum memberikan izin.
Baca Juga: Gagal Sepakat, AS-Iran Berpotensi Lanjutkan Negosiasi
Sejumlah faktor menjadi perhatian serius, mulai dari potensi gangguan keamanan hingga kondisi sosial yang dinilai belum sepenuhnya kondusif. Salah satu yang menjadi sorotan adalah adanya penolakan dari berbagai pihak.
“Ada penolakan dari keluarga korban, mahasiswa, dan suporter, baik melalui surat maupun media sosial,” jelasnya.
Penolakan tersebut berkaitan dengan trauma yang masih dirasakan pasca Tragedi Kanjuruhan 2022. Luka sosial yang belum sepenuhnya pulih menjadi alasan kuat bagi aparat untuk bersikap lebih berhati-hati.
Selain itu, aktivitas di media sosial juga tidak luput dari perhatian. Kepolisian menilai dinamika yang berkembang berpotensi memicu provokasi hingga penyebaran ujaran kebencian yang dapat berdampak pada situasi di lapangan.
“Kami melihat ada potensi gangguan kamtibmas dari aktivitas di media sosial,” imbuhnya.
Baca Juga: Musim Kemarau Panjang Mengancam! 10 Titik di 6 Desa Situbondo Masuk Daftar Darurat Air Bersih
Meski demikian, keputusan final terkait pertandingan tersebut belum sepenuhnya ditetapkan. Hasil rapat koordinasi masih akan disampaikan ke Polda Jawa Timur untuk mendapatkan arahan lebih lanjut.
Dalam waktu dekat, pihak kepolisian memperkirakan keputusan akhir akan segera keluar. Salah satu opsi yang muncul adalah memindahkan lokasi pertandingan ke stadion lain.
Editor : Bayu Shaputra