RADARSITUBONDO.ID – Hadi Prianto merupakan Ketua Umum Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) Kabupaten Situbondo. Tak hanya itu, ia juga dikenal sebagai perintis olahraga dirgantara yang membawahi sejumlah cabang olahraga, seperti paralayang, gantole, aeromodeling, dan paramotor.
Olahraga dirgantara, khususnya paralayang, mulai dirintis dan dikembangkan di Kabupaten Situbondo sejak tahun 2022. Sejak saat itu, olahraga yang menguji adrenalin tersebut mulai diperkenalkan kepada para pemuda di Kota Santri. Pada awalnya, tidak banyak yang tertarik karena olahraga ini membutuhkan keberanian tinggi.
“Menjadi perintis memang penuh tantangan, termasuk soal pendanaan. Tapi kami tetap berusaha agar olahraga ini bisa menjadi kebanggaan Situbondo,” kata Hadi Prianto, mantan anggota DPRD Situbondo.
Pria yang akrab disapa Hadi tersebut mengaku terus menjalani proses tersebut meski harus mengeluarkan biaya dari kantong pribadi demi mendukung para pemuda Situbondo. Mulai dari latihan di luar daerah hingga menyewa peralatan, semua dilakukan agar para atlet mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
“Kami mengikuti pendidikan dan latihan (diklat) pertama di Banyuwangi, kemudian melanjutkan diklat paralayang di Kecamatan Jatibanteng, Situbondo, dengan uji terbang bersama tim dari Banyuwangi,” tambahnya.
Hadi mengungkapkan, dalam kurun waktu satu tahun, olahraga yang dikembangkan, khususnya paralayang, mulai menunjukkan hasil. Pada tahun 2023, untuk pertama kalinya cabang olahraga paralayang Situbondo mengikuti ajang Porprov Jatim VIII dengan mengirimkan tiga atlet, terdiri dari dua atlet putri dan satu atlet putra. “Alhamdulillah, kami berhasil meraih medali perak ganda putri. Itu menjadi prestasi pertama bagi Situbondo di cabang olahraga paralayang,” ujarnya.
Sejak saat itu, olahraga dirgantara mulai diminati dan semakin banyak atlet yang bergabung serta mengikuti berbagai kejuaraan, baik tingkat nasional maupun internasional. Bahkan, pada tahun 2025, cabang olahraga gantole berhasil meraih medali emas pada Porprov Jatim.
Hadi mengaku, motivasinya mengembangkan olahraga ini adalah untuk memberikan wadah positif bagi generasi muda Situbondo, khususnya yang menyukai tantangan adrenalin. Selain itu, Situbondo dinilai memiliki potensi besar sebagai destinasi sport tourism karena banyak bukit indah yang langsung menghadap panorama pantai.
“Sebagai perintis, saya ingin anak muda Situbondo memiliki kegiatan positif, seperti olahraga paralayang, daripada terjerumus ke hal yang tidak bermanfaat. Apalagi, Situbondo punya keindahan luar biasa jika dilihat dari udara,” ungkapnya.
Dia juga mengakui bahwa olahraga ini bukan hal yang mudah. Selain membutuhkan keberanian tinggi, risiko cedera juga cukup besar. Di awal pengembangan, keterbatasan anggaran menjadi kendala utama, sehingga sebagian besar biaya harus ditanggung secara pribadi.
“Tidak semua orang berani. Kadang anaknya berani, tapi orang tuanya yang khawatir. Beberapa atlet kami juga pernah mengalami cedera seperti patah tulang, namun itu bagian dari proses,” katanya.
Seiring dengan prestasi yang diraih, kini mulai ada dukungan, termasuk dari KONI, berupa bantuan peralatan dan pembinaan atlet.
Ke depan, Hadi berharap olahraga dirgantara di Situbondo, seperti paralayang, gantole, aeromodeling, dan paramotor, dapat terus berkembang dan melahirkan lebih banyak atlet berprestasi. “Harapan kami, olahraga ini terus memberikan dampak positif dan menjadi kebanggaan Situbondo. Apalagi jika ke depan ada bandara di Situbondo, itu bisa dimanfaatkan untuk pengembangan latihan atlet,” harapnya.
Hadi juga mengajak generasi muda untuk mengenal lebih dekat dunia dirgantara. Menurutnya, olahraga ini tidak hanya soal keberanian, tetapi juga teknologi dan kecerdasan. “Kedirgantaraan adalah olahraga modern yang membutuhkan teknologi dan kecerdasan. Mari anak-anak muda Situbondo yang memiliki minat di bidang ini, baik paralayang, gantole, paramotor, maupun aeromodeling, untuk ikut bergabung,” pungkasnya. (rif/pri)
Editor : Edy Supriyono