Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Bukan Hanya Hasil, Konflik Internal Percepat Pemecatan Rosenior

Bayu Shaputra • Kamis, 23 April 2026 | 15:11 WIB
Liam Rosenior.
Liam Rosenior.

 

RADARSITUBONDO.ID - Langkah cepat diambil Chelsea setelah rangkaian hasil buruk yang tak kunjung terhenti. Kekalahan kelima secara beruntun di Premier League saat bertandang ke Brighton & Hove Albion menjadi titik akhir bagi Liam Rosenior di Stamford Bridge.

Hasil tersebut tidak sekadar menambah catatan negatif, tetapi juga memperlihatkan penurunan performa yang signifikan. Bahkan, skor akhir disebut masih “ramah”, karena peluang kekalahan dengan margin lebih besar sangat terbuka sepanjang pertandingan.

Tak butuh waktu lama bagi manajemen untuk bertindak. Kurang dari 24 jam setelah laga, keputusan pemecatan resmi diumumkan. Masa kerja Rosenior pun berakhir cepat, hanya dalam hitungan tiga bulan sejak penunjukan.

Baca Juga: Sidang Putusan Ammar Zoni Digelar Siang Ini

Situasi ini ternyata bukan semata soal hasil di lapangan. Dari dalam tim sendiri, tanda-tanda ketidakpuasan sudah muncul lebih awal. Laporan menyebutkan pendekatan Rosenior dalam mengelola pemain menjadi salah satu sumber utama masalah.

Nama Josh Acheampong menjadi sorotan. Pemain muda yang sebelumnya mendapat kepercayaan justru kehilangan menit bermain secara signifikan. Keputusan-keputusan seperti ini memicu tanda tanya di kalangan internal tim.

Contoh paling mencolok terjadi saat menghadapi PSG dalam laga penting. Ketika Reece James dan Malo Gusto absen, Rosenior memilih Mamadou Sarr untuk mengisi sisi kanan, meskipun Acheampong tersedia. Pilihan tersebut memunculkan keraguan atas konsistensi kebijakan tim pelatih.

Baca Juga: Persebaya Incar Kebangkitan Lawan Malut United, Tavares Bicara Mentalitas

Masalah ini tidak berdiri sendiri. Beberapa pemain lain juga mengalami situasi serupa, yang perlahan memicu ketegangan di dalam skuad. Ketidakpuasan itu kemudian berkembang menjadi isu yang lebih besar, terutama di ruang ganti.

Jurnalis Nizaar Kinsella dan Sami Mokbel menuliskan, “Keputusan untuk merotasi penjaga gawang dan membatasi menit bermain untuk pemain tertentu, termasuk Josh Acheampong, yang sering tampil sebentar dari bangku cadangan, telah menimbulkan ketidakpuasan.”

Mereka juga menambahkan, “Mungkin yang paling terpengaruh adalah suasana di dalam kelompok kepemimpinan. Sebuah sumber di dalam Chelsea mengatakan para pemain senior seringkali diam ketika diminta untuk memberikan pandangan mereka selama pertemuan tim yang hampir setiap hari.”

Kondisi tersebut menjadi indikator serius. Ketika pemain senior memilih tidak bersuara, biasanya ada masalah mendasar yang belum terselesaikan. Dalam sepak bola modern, hilangnya kendali atas ruang ganti sering kali menjadi awal dari akhir seorang pelatih.

Seusai pemecatan Rosenior, Chelsea menunjuk Calum McFarlane sebagai manajer sementara. Ia bukan sosok asing, karena sebelumnya pernah mengisi posisi serupa dalam periode singkat.

Tugas utama McFarlane adalah memulihkan stabilitas tim dalam waktu cepat. Tantangan ini menjadi semakin krusial karena Chelsea masih memiliki peluang di semifinal Piala FA, yang kini menjadi harapan terakhir untuk menyelamatkan musim.

Baca Juga: WhatsApp Uji Coba Layanan Berbayar WhatsApp Plus dengan Fitur Premium

Kemungkinan besar, McFarlane akan memimpin hingga akhir musim sambil manajemen mencari pelatih permanen yang baru. Namun, keputusan ini membawa konsekuensi finansial yang tidak kecil.

Chelsea dilaporkan harus mengeluarkan sekitar £24 juta sebagai kompensasi untuk Rosenior. Angka tersebut terasa besar, mengingat kontraknya baru saja disepakati dalam jangka panjang.

Situasi ini menjadi gambaran klasik dalam dunia sepak bola: keputusan cepat di awal musim yang berujung mahal ketika hasil tidak sesuai ekspektasi.

Baca Juga: Perang AS vs Iran Belum Berujung, Gedung Putih Tegaskan Keputusan di Tangan Trump

Kini muncul pertanyaan besar, apakah sepenuhnya kesalahan Rosenior? Jawabannya tidak sederhana. Ada pandangan yang menyebut manajemen klub turut berperan dalam menciptakan kondisi yang tidak ideal. Namun di sisi lain, Rosenior dinilai gagal memaksimalkan potensi skuad yang dimilikinya.

Yang paling terlihat jelas adalah hilangnya kontrol terhadap ruang ganti. Dan dalam dinamika sepak bola modern, hal itu sering kali menjadi faktor penentu berakhirnya masa jabatan seorang manajer.

Editor : Bayu Shaputra
#Liam Rosenior #Chelsea