RADARSITUBONDO.ID - Kebijakan pergantian pelatih di tubuh Chelsea kembali menuai sorotan tajam. Jika pada masa kepemilikan Roman Abramovich klub dikenal tegas, kini di era Todd Boehly justru dinilai lebih ekstrem.
Mengacu pada statistik empat musim awal kepemilikan Boehly sejak 2022, intensitas pergantian pelatih meningkat signifikan.
Liam Rosenior menjadi korban terbaru dari kebijakan tersebut. Pelatih asal Inggris itu resmi diberhentikan pada 23 April setelah hanya menjabat selama 107 hari. Masa kerjanya bahkan hanya sedikit lebih lama dibanding Thomas Tuchel yang sebelumnya bertahan 101 hari di era yang sama.
Baca Juga: Persib Bandung Masih Puncaki Klasemen, Marc Klok Tekankan Konsistensi Hadapi Sisa Laga
Pemecatan Rosenior memicu kritik dari berbagai pihak. Salah satunya datang dari Gary Neville. Dalam analisisnya, Neville menilai keputusan tersebut mencerminkan kurangnya pemahaman manajemen terhadap proses yang sedang dibangun.
“Owner (Boehly) tidak memahami apa yang telah dilakukan,” ujarnya.
Padahal, Rosenior baru saja ditunjuk sebagai pengganti Enzo Maresca pada Januari lalu dengan kontrak jangka panjang hingga Juni 2032. Penunjukan itu sempat dipandang sebagai upaya membangun stabilitas. Namun, rencana tersebut runtuh setelah performa tim merosot tajam.
Baca Juga: Persib Bandung vs Arema FC: Posisi Puncak Terancam, Hodak Bicara Tekanan
Chelsea menelan lima kekalahan beruntun di Premier League. Kekalahan terakhir terjadi saat takluk 0-3 di markas Brighton & Hove Albion. Hasil itu memperburuk situasi internal tim yang sebelumnya sudah tidak kondusif.
Laporan media Inggris menyebutkan bahwa Rosenior kehilangan kendali di ruang ganti. Ketegangan terlihat ketika asisten pelatih James Walker tidak diindahkan oleh bek tengah Wesley Fofana dalam laga melawan Manchester United yang berakhir kekalahan 0-1.
Situasi semakin rumit dengan adanya indikasi perpecahan di dalam skuad, termasuk pengaruh dari pemain seperti Enzo Fernandez dan Marc Cucurella.
Sebagai solusi sementara, Chelsea menunjuk pelatih akademi Calum McFarlane untuk menangani tim utama hingga akhir musim. Ia sebelumnya juga sempat mengisi masa transisi saat pergantian dari Maresca ke Rosenior.
Jika dibandingkan, pada era Abramovich, Chelsea hanya mengganti dua pelatih dalam periode empat musim awal, yakni Claudio Ranieri dan Jose Mourinho. Perbandingan ini semakin menegaskan perbedaan pendekatan antara dua kepemilikan.
Baca Juga: Gagal Lolos, Italia Diusulkan Tampil di Piala Dunia 2026 Lewat Jalur Khusus
Fenomena ini juga berdampak pada aspek finansial klub. Sejak era Premier League dimulai pada 1992–1993, Chelsea tercatat sebagai klub dengan pengeluaran terbesar untuk kompensasi pemecatan pelatih.
Totalnya mencapai 161,6 juta poundsterling atau sekitar Rp 3,7 triliun dari 18 pelatih yang pernah diberhentikan. Angka tersebut jauh melampaui klub-klub besar lain seperti Tottenham Hotspur, Liverpool FC, hingga Arsenal.
Editor : Bayu ShaputraSumber : berbagai sumber