Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Xabi Alonso Jadi Manajer Baru Chelsea, Misi Berat Kembalikan The Blues ke Papan Atas

Bayu Shaputra • Senin, 18 Mei 2026 | 09:15 WIB
Xabi Alonso. (Instagram/xabialonso)
Xabi Alonso. (Instagram/xabialonso)

 

RADARSITUBONDO.ID - Chelsea akhirnya resmi menunjuk Xabi Alonso sebagai manajer baru mereka dengan kontrak berdurasi empat tahun.

Penunjukan mantan pelatih Bayer Leverkusen dan Real Madrid tersebut menjadi langkah terbaru klub London Barat dalam upaya membangun stabilitas jangka panjang setelah beberapa musim penuh ketidakpastian.

Baca Juga: Barcelona Vs Real Betis 3-1, Raphinha Cetak Dua Gol di Laga Perpisahan Lewandowski

Pelatih asal Spanyol berusia 44 tahun itu dijadwalkan mulai bekerja pada 1 Juli mendatang. Alonso datang menggantikan Liam Rosenior yang diberhentikan hanya tiga bulan setelah ditunjuk sebagai pelatih permanen. Kehadirannya juga mengakhiri masa tugas pelatih interim Calum McFarlane.

Namun, Alonso datang ke Stamford Bridge dalam situasi yang jauh dari ideal. Kekalahan 1-0 dari Manchester City pada final Piala FA akhir pekan lalu membuat peluang Chelsea tampil di kompetisi Eropa musim depan semakin menipis.

Hingga menyisakan dua pertandingan Liga Premier, The Blues masih tertahan di posisi kesembilan klasemen.

Meski pihak BlueCo kini memberikan jabatan penuh sebagai manajer kepada Alonso, tantangan yang harus dihadapi tetap tidak ringan. Ada sejumlah persoalan besar yang langsung menunggu untuk diselesaikan sejak hari pertama dirinya bekerja di London Barat.

Baca Juga: Hari Libur Waka Polres Situbondo Bukan Rebahan, Kompol Toni Irawan Pilih Rawat Kebun Organik di Rumah Dinas

Salah satu tantangan utama adalah memperbaiki hubungan dengan para pendukung Chelsea yang mulai kehilangan kesabaran.

Atmosfer di sekitar Stamford Bridge dalam beberapa musim terakhir memang terus dipenuhi rasa frustrasi akibat pergantian pelatih yang terlalu sering tanpa hasil signifikan.

Alonso menjadi penunjukan permanen kelima di era kepemilikan BlueCo setelah Graham Potter, Mauricio Pochettino, Enzo Maresca, dan Liam Rosenior. Situasi itu membuat banyak suporter mulai meragukan arah proyek jangka panjang klub.

Meski demikian, nama besar Alonso masih memberi optimisme tersendiri. Reputasinya sebagai mantan pemain elite Eropa serta keberhasilannya membawa Bayer Leverkusen menjuarai Bundesliga tanpa terkalahkan membuat ekspektasi terhadap dirinya tetap tinggi.

Namun, reputasi semata dipastikan tidak cukup. Alonso dituntut segera menghadirkan identitas permainan yang jelas agar kepercayaan publik Stamford Bridge bisa kembali pulih.

Persoalan lain yang tak kalah rumit adalah kondisi skuad Chelsea yang terlalu besar. Klub sebelumnya membangun tim dengan asumsi akan tampil di berbagai kompetisi, termasuk Eropa. Tanpa jadwal tambahan di tengah pekan musim depan, Alonso diperkirakan akan kesulitan mendistribusikan menit bermain secara merata.

Baca Juga: Geger! Kontes Bonsai Nasional di Situbondo Diikuti Peserta Malaysia hingga Kalimantan

Situasi tersebut berpotensi memunculkan ketidakpuasan di ruang ganti, terutama karena banyak pemain mahal kemungkinan lebih sering duduk di bangku cadangan. Karena itu, perampingan skuad diperkirakan menjadi salah satu agenda utama Chelsea pada bursa transfer musim panas nanti.

Alonso bersama jajaran direktur olahraga klub juga harus berani mengambil keputusan penting demi menjaga keseimbangan tim dan menciptakan suasana ruang ganti yang lebih sehat.

Selain masalah skuad, Alonso juga harus beradaptasi dengan sistem transfer Chelsea yang dikenal kompleks. Walaupun kini menyandang status manajer, dirinya tetap tidak memiliki kontrol penuh terhadap aktivitas perekrutan pemain.

Baca Juga: Geger! Kontes Bonsai Nasional di Situbondo Diikuti Peserta Malaysia hingga Kalimantan

Chelsea masih mempertahankan sistem transfer berbasis kolaborasi dengan sejumlah figur penting di balik layar seperti Paul Winstanley, Laurence Stewart, Joe Shields, Sam Jewell, hingga David Fallows yang tetap memiliki pengaruh besar dalam proses perekrutan.

Kondisi itu membuat Alonso harus mampu menyelaraskan kebutuhan taktisnya dengan pendekatan berbasis data yang selama ini digunakan klub. Jika komunikasi tidak berjalan baik, Chelsea berisiko kembali menjalani bursa transfer tanpa arah yang jelas seperti yang terjadi dalam beberapa musim terakhir.

Tantangan berikutnya datang dari sisi personal Alonso sendiri. Sebelum melatih Chelsea, karier kepelatihannya sempat berada di puncak setelah sukses besar bersama Bayer Leverkusen dan dianggap sebagai salah satu pelatih muda terbaik di Eropa.

Namun perjalanan singkatnya di Real Madrid justru berakhir mengecewakan. Alonso meninggalkan Santiago Bernabeu melalui kesepakatan bersama hanya beberapa bulan setelah ditunjuk.

Kini, untuk pertama kalinya dalam karier manajerialnya, Alonso datang ke klub baru dengan tekanan besar untuk membuktikan dirinya kembali.

Dia bukan hanya dituntut membangun ulang Chelsea yang sedang tidak stabil, tetapi juga memulihkan reputasinya sebagai pelatih elite Eropa.

Baca Juga: Tragis! Bocah 5 Tahun Tewas Terjepit Dasbor Usai Truk yang Dikemudikan Ayahnya Tabrak Truk

Tekanan di Stamford Bridge jelas tidak kecil. Chelsea dikenal bukan tempat yang memberi banyak waktu bagi pelatih untuk berkembang. Jika hasil buruk datang dalam waktu singkat, tekanan dari media maupun suporter diperkirakan akan langsung meningkat.

Chelsea memang baru saja mendapatkan salah satu nama pelatih paling menarik di Eropa. Namun seperti yang sudah berulang kali terjadi di klub tersebut, nama besar tidak selalu menjadi jaminan bahwa semuanya akan berjalan mulus.

Editor : Bayu Shaputra
#Xabi Alonso #Chelsea