Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Marquinhos Sebut Gelar Kedua PSG Lebih Sulit, Arsenal Dipaksa Menyerah di Final

Bayu Shaputra • Senin, 1 Juni 2026 | 11:02 WIB
Marquinhos raih gelar kedua Liga Champions. (Instagram/marquinhosm5)
Marquinhos raih gelar kedua Liga Champions. (Instagram/marquinhosm5)

 

RADARSITUBONDO.ID - Paris Saint-Germain kembali menegaskan statusnya sebagai kekuatan utama sepak bola Eropa.

Setahun setelah meraih trofi Liga Champions pertama dalam sejarah klub, wakil Prancis tersebut sukses mempertahankan gelar usai menundukkan Arsenal melalui drama adu penalti pada partai final yang berlangsung di Puskas Arena, Minggu (31/5) dini hari WIB.

Kemenangan ini menjadi pencapaian penting bagi Les Parisiens. Setelah bermain imbang 1-1 selama waktu normal dan babak tambahan, PSG akhirnya keluar sebagai pemenang dengan skor 4-3 dalam adu penalti.

Hasil tersebut mengantarkan mereka masuk ke dalam kelompok elite klub Eropa yang mampu mempertahankan mahkota Liga Champions secara beruntun.

Baca Juga: Uruguay Umumkan Skuad Piala Dunia 2026, Luis Suarez Dicoret Marcelo Bielsa

Prestasi tersebut semakin istimewa karena PSG menjadi tim kedua pada era Liga Champions modern yang berhasil mempertahankan gelar setelah Real Madrid melakukannya dalam periode 2016 hingga 2018.

Keberhasilan ini menunjukkan bahwa dominasi PSG di kompetisi tertinggi antarklub Eropa bukanlah hasil sesaat, melainkan buah dari proses pembangunan tim yang berjalan konsisten dalam beberapa musim terakhir.

Kapten PSG Marquinhos mengaku gelar kali ini memberikan kesan yang lebih mendalam dibandingkan trofi pertama yang mereka raih musim lalu. Menurutnya, mempertahankan gelar membutuhkan perjuangan yang jauh lebih berat dibandingkan saat pertama kali meraihnya.

“Kami mengatakan bahwa yang pertama bersejarah, tetapi yang kedua akan menjadi legenda,” ujar bek asal Brasil tersebut.

Baca Juga: BMKG Prediksi Hujan Lebat dan Angin Kencang di Banyak Kota Besar

Perjalanan PSG menuju trofi musim ini memang tidak semulus tahun sebelumnya. Pada final musim lalu, mereka tampil dominan ketika menghancurkan Inter Milan dengan skor telak 5-0.

Namun situasi berbeda terjadi saat menghadapi Arsenal. Tim asuhan Luis Enrique dipaksa bekerja keras sepanjang pertandingan sebelum akhirnya memastikan kemenangan melalui adu penalti.

Laga berjalan ketat sejak menit awal. Arsenal memberikan tekanan besar dan mampu mengimbangi permainan PSG sepanjang 120 menit. Intensitas pertandingan yang tinggi membuat kedua tim harus menguras energi hingga batas maksimal.

Tanda-tanda kelelahan bahkan terlihat jelas menjelang adu penalti. Bek kanan Achraf Hakimi beberapa kali tampak mengalami kram dan berusaha tetap bertahan di lapangan.

Sementara itu, Vitinha yang terpilih sebagai Man of The Match justru tidak mampu menyelesaikan pertandingan akibat gangguan pada kaki kirinya menjelang berakhirnya babak tambahan.

Baca Juga: Warga Kalianget Geruduk Polres Situbondo, Ketakutan Usai Dengar 3 Kali Tembakan Saat Konflik HGU

Meski berada dalam kondisi fisik yang tidak ideal, para pemain PSG tetap mampu menunjukkan mental juara. Saat adu penalti berlangsung, Goncalo Ramos, Desire Doue, Achraf Hakimi, dan Lucas Beraldo berhasil menjalankan tugas dengan sempurna.

Sebaliknya, Arsenal gagal memaksimalkan peluang mereka. Dua eksekutor, Eberechi Eze dan Gabriel, tidak mampu mengonversi tendangan menjadi gol sehingga membuka jalan bagi PSG untuk kembali mengangkat trofi Liga Champions.

Marquinhos menilai keberhasilan mempertahankan gelar menjadi bukti kekuatan mental skuad PSG sepanjang musim. Menurutnya, perjalanan kompetisi yang panjang dan penuh tantangan justru membuat tim semakin matang ketika memasuki fase-fase krusial.

“Gelar kedua bahkan lebih sulit. Musim ini sangat panjang. Kami bekerja keras, kami banyak menderita. Tetapi tim ini menemukan ritmenya pada saat yang tepat,” kata Marquinhos.

Baca Juga: Rumah Zakat Sembelih 102 Kambing dan 4 Sapi di Situbondo, 3.000 Bungkus Daging Kurban Dibagikan ke Pelosok

Di balik keberhasilan tersebut, peran pelatih Luis Enrique kembali menjadi sorotan. Arsitek asal Spanyol itu dinilai sebagai figur sentral dalam transformasi PSG selama tiga tahun terakhir.

Menariknya, saat pertama kali mendapatkan pendekatan dari PSG pada 2023, Enrique sempat tidak tertarik menerima tawaran tersebut. Ia menilai klub ibu kota Prancis itu terlalu identik dengan kumpulan pemain bintang dan belum memiliki identitas permainan yang benar-benar kuat.

Pandangan tersebut berubah setelah manajemen klub memberikan ruang dan kepercayaan penuh kepada Enrique untuk membangun proyek jangka panjang.

Ia mendapatkan kebebasan untuk membentuk budaya baru di dalam tim sekaligus menciptakan filosofi permainan yang lebih jelas dan berkelanjutan.

Keputusan tersebut kini terbukti menjadi langkah tepat. Dalam kurun tiga tahun, Enrique berhasil membawa PSG meraih dua gelar Liga Champions secara beruntun. Selain itu, ia juga tercatat sebagai pelatih tersukses dalam sejarah klub dengan koleksi 12 trofi di berbagai kompetisi.

Baca Juga: Willy Klaim Jadi Kunci Masuknya Investor Asing ke Situbondo, Sebut Konflik Tampora Dipicu Segelintir Warga

Pelatih berusia 56 tahun itu mengaku bangga atas pencapaian yang diraih anak asuhnya. Baginya, mempertahankan gelar Liga Champions merupakan salah satu tantangan terbesar dalam sepak bola modern karena setiap tim akan datang dengan motivasi lebih besar untuk mengalahkan sang juara bertahan.

“Mempertahankan gelar adalah sesuatu yang luar biasa dan sangat sulit dicapai. Kami sangat bangga,” kata Enrique.

Keberhasilan meraih dua trofi Liga Champions secara berturut-turut kini memunculkan pertanyaan baru mengenai target PSG berikutnya. Klub yang selama bertahun-tahun mengejar supremasi Eropa kini telah membuktikan kemampuannya berada di puncak kompetisi paling bergengsi antarklub dunia.

Meski demikian, para pemain PSG menegaskan bahwa kesuksesan saat ini tidak boleh membuat mereka cepat puas. Ambisi untuk terus memenangkan trofi menjadi bagian penting dari budaya baru yang dibangun dalam beberapa tahun terakhir.

Baca Juga: Kevin Diks dan Emil Audero Tiba di Jakarta, Siap Perkuat Timnas Indonesia Lawan Oman dan Mozambik

Marquinhos menegaskan bahwa PSG harus mempertahankan standar tinggi yang telah mereka capai. Menurutnya, pengalaman dalam menghadapi pertandingan besar menjadi modal berharga untuk terus bersaing di level tertinggi.

“Kami harus tetap lapar (gelar). Kami sudah menemukan cara untuk mencapai momen-momen besar seperti ini. Kami harus terus mempertahankan standar tersebut.”

Editor : Bayu Shaputra
#Marqquinhos #liga champions #PSG