RADARSITUBONDO.ID - Alexander Zverev akhirnya menuntaskan penantian panjang yang membayangi kariernya. Petenis Jerman itu resmi meraih gelar Grand Slam pertama setelah menjuarai Roland Garros 2026 usai menaklukkan Flavio Cobolli dalam laga final dramatis di Paris.
Kemenangan tersebut menjadi pencapaian terbesar dalam karier Zverev. Setelah bertahun-tahun berada di jajaran elite tenis dunia, mantan juara ATP Finals dua kali, peraih tujuh gelar ATP Masters 1000, dan medali emas Olimpiade itu kini melengkapi koleksi prestasinya dengan trofi Grand Slam yang selama ini sulit diraih.
Baca Juga: Suami Bunuh Istri di Situbondo, Keluarga Ungkap Sifat Posesif dan Cemburu Berlebihan Pelaku
Zverev mengalahkan Cobolli dengan skor 6-1, 4-6, 6-4, 6-7(5), 6-1 dalam pertandingan yang berlangsung selama empat jam 16 menit di Lapangan Philippe-Chatrier, Roland Garros.
"Pertama-tama, saya tidak percaya bahwa saya menang. Lalu saya melihat tribun penonton, dan mereka semua merayakan kemenangan," kata Zverev seperti dikutip ATP, Senin.
"Saat itulah saya menyadari bahwa saya telah menang. Terutama melihat ayah saya mengangkat kedua tangannya, saat itulah saya menyadari, 'Oke, saya menang'."
Gelar tersebut menjadi jawaban atas berbagai kegagalan yang pernah menghantui perjalanan karier petenis berusia 29 tahun itu.
Pada final US Open 2020, Zverev sempat berada di ambang juara setelah unggul dua set dan satu break atas Dominic Thiem. Namun, ia gagal mempertahankan keunggulan dan harus menyerah dalam lima set.
Dua kekalahan lainnya di partai final Grand Slam semakin memperpanjang penantiannya untuk meraih trofi paling bergengsi di dunia tenis.
Roland Garros juga menyimpan banyak kenangan emosional bagi Zverev. Selain pernah kalah di final, ia juga sempat mengalami cedera serius di lapangan yang sama yang membuat masa depannya di dunia tenis dipertanyakan.
"Kemudian ketika saya tergeletak di lapangan, semua emosi keluar karena lapangan ini sangat, sangat istimewa bagi saya, baik secara positif maupun negatif. Saya pernah mengalami beberapa momen terberat dalam karier tenis saya di sini," ujar Zverev.
"Saya pernah terbaring di lapangan ini dengan cedera yang saya tidak tahu apakah saya akan pulih. Saya kalah di final Grand Slam di sini. Semua kenangan itu bagi saya, tidak terhapus. Kenangan itu masih ada, tetapi kemenangan ini akan mengalahkan semua kemenangan lainnya."
Di final, Zverev tampil dominan pada set pertama dan ketiga. Namun, Cobolli menunjukkan perlawanan sengit hingga mampu memaksakan set penentuan setelah memenangi tie-break dramatis pada set keempat.
Saat tekanan mencapai puncaknya, Zverev justru memperlihatkan mental juara. Ia bangkit dan mendominasi set kelima dengan permainan yang lebih stabil untuk memastikan kemenangan sekaligus mengakhiri penantian panjangnya.
Bagi Zverev, gelar ini bukan sekadar trofi, melainkan simbol ketekunan dan perjuangan yang telah ia jalani selama bertahun-tahun.
"Itu terjadi pada saya sangat awal di turnamen Masters 1000 karena saya memenangi satu turnamen saat berusia 20 tahun. Saya telah memenangi banyak turnamen Masters 1000 setelah itu, dan untuk turnamen utama butuh waktu lebih lama," kata Zverev.
“Sekarang, apa pun yang terjadi, saya akan selalu menjadi juara Grand Slam, dan tidak ada yang bisa mengambilnya dari saya."
Zverev juga memberikan penghargaan khusus kepada tim yang selama ini mendampinginya. Ia menyebut keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja kolektif yang dibangun selama lebih dari satu dekade.
Ayahnya, Alexander Zverev Sr., bertindak sebagai pelatih utama, sementara sang kakak, mantan petenis peringkat 25 dunia Mischa Zverev, menjadi bagian penting dalam tim yang membawanya menuju puncak.
"Dalam skenario saya, ini benar-benar upaya keluarga dan upaya tim. Karena saya sudah memiliki tim yang sama selama setidaknya 12 tahun, dengan pelatih fisik yang sama, bahkan pelatih yang lebih lama lagi," ujar Zverev.
"Saya pikir semua orang pantas mendapatkan trofi ini secara setara."
Editor : Bayu Shaputra