Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Pop Culture Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling ZodiPedia

Perebutan Tempat Ketiga Piala Dunia 2026: Mbappe, Kane, dan Bellingham Masih Berpeluang Raih Golden Boot

Bayu Shaputra • Sabtu, 18 Juli 2026 | 09:01 WIB
Kylian Mbappe, Harry Kane dan Jude Bellingham. (Ilustrasi AI)
Kylian Mbappe, Harry Kane dan Jude Bellingham. (Ilustrasi AI)

 

RADARSITUBONDO.ID - Inggris dan Prancis sama-sama menganggap pertandingan perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2026 bukan sebagai laga utama.

Meski demikian, duel yang berlangsung di Hard Rock Stadium, Miami, Florida, Amerika Serikat, Minggu (19/7) pukul 04.00 WIB tetap menyimpan kepentingan besar bagi kedua tim, terutama bagi Prancis yang masih memiliki peluang membawa pulang penghargaan individu paling bergengsi, Golden Boot.

Les Bleus datang ke pertandingan ini dengan motivasi yang sedikit lebih besar dibandingkan Three Lions.

Selain ingin menutup perjalanan di Piala Dunia dengan finis di posisi ketiga, Prancis juga berupaya mengantarkan kapten sekaligus striker andalannya, Kylian Mbappe, menjadi pencetak gol terbanyak turnamen.

Baca Juga: Dua Tahun BPR Syariah Situbondo Tak Setor PAD, Kredit Macet Jadi Biang Kerok

Persaingan Golden Boot masih terbuka hingga pertandingan terakhir. Mbappe telah mengoleksi delapan gol, jumlah yang sama dengan Lionel Messi.

Dengan mempertimbangkan peluang Argentina menghadapi pertahanan solid Spanyol di partai final, kesempatan Mbappe untuk menambah koleksi gol dinilai lebih terbuka.

Sementara itu, Inggris masih memiliki dua pemain yang dapat mengubah persaingan tersebut.

Harry Kane dan Jude Bellingham sama-sama telah mengemas enam gol. Keduanya masih berpeluang merebut Golden Boot apabila mampu mencetak hattrick saat menghadapi Prancis, dengan syarat Mbappe dan Messi gagal menambah gol.

Pelatih Prancis Didier Deschamps menegaskan bahwa perebutan posisi ketiga tetap memiliki arti penting. Menurutnya, mengakhiri turnamen di peringkat ketiga tentu lebih baik dibandingkan harus puas di posisi keempat.

Namun, terdapat motivasi lain yang juga mengiringi langkah Deschamps. Pelatih yang akan mengakhiri masa baktinya bersama Prancis itu berpeluang mempersembahkan penghargaan Golden Boot kepada negaranya melalui Mbappe.

Dalam situasi ketika gelar juara dunia sudah tidak mungkin diraih, penghargaan individu tersebut menjadi prestasi prestisius yang masih bisa diperebutkan.

Kondisi itu membuat kemungkinan Deschamps tidak akan melakukan banyak perubahan di lini depan. Mbappe diperkirakan tetap menjadi andalan sejak menit pertama bersama Michael Olise agar peluang menambah gol tetap terbuka.

Baca Juga: Kredit Rp1,53 Miliar Berujung Korupsi, Negara Rugi Rp1,2 Miliar

Sebaliknya, perubahan diprediksi terjadi di sektor tengah dan belakang. Cedera yang dialami William Saliba memaksa Deschamps melakukan penyesuaian komposisi pemain setelah kekalahan 0-2 dari Spanyol pada babak semifinal.

Sejumlah pemain seperti Rayan Cherki, Marcus Thuram, Maghnes Akliouche, Jean-Philippe Mateta, N'Golo Kante, hingga Warren Zaire-Emery berpeluang mendapatkan menit bermain lebih banyak, baik sebagai starter maupun pemain pengganti.

Kedalaman skuad yang dimiliki Prancis membuat proses rotasi tidak menjadi persoalan besar. Deschamps hanya perlu mengembalikan identitas permainan Les Bleus yang dinilai tidak terlihat saat menghadapi Spanyol akibat terlalu mengikuti ritme permainan La Roja.

Finis di posisi ketiga juga akan menjadi pencapaian penting bagi Prancis. Jika berhasil, Les Bleus akan menutup tiga edisi Piala Dunia secara beruntun di tiga besar setelah menjadi juara pada 2018 dan runner-up pada 2022.

Baca Juga: Ojol Situbondo Terima Order Ambil Rp10 Juta, Tak Tahu Uang Hasil Penipuan

Di kubu Inggris, situasinya berbeda. Thomas Tuchel justru menghadapi tekanan besar menyusul berbagai kritik yang mengiringi penampilan Three Lions sepanjang turnamen.

Meski berhasil membawa Inggris menembus semifinal tanpa menelan kekalahan pada fase sebelumnya, banyak pihak menilai proyek Tuchel belum memenuhi harapan.

Kekalahan menyakitkan dari Argentina pada semifinal semakin memperbesar sorotan terhadap keputusan-keputusan sang pelatih.

Pemilihan pemain menjadi salah satu sasaran utama kritik. Salah satu keputusan yang paling banyak dipertanyakan adalah minimnya kesempatan bermain bagi Kobbie Mainoo, yang tampil impresif bersama Manchester United hingga membantu klubnya kembali lolos ke Liga Champions.

Tuchel telah mengisyaratkan Mainoo akan memperoleh kesempatan bermain saat menghadapi Prancis. Selain itu, Marcus Rashford, Ollie Watkins, Noni Madueke, serta Ivan Toney juga berpotensi memperoleh durasi bermain lebih panjang.

Meski demikian, Harry Kane diperkirakan tetap dipercaya sebagai starter bersama Jude Bellingham.

Selain masih memiliki peluang merebut Golden Boot, Kane juga menjadi pemain Inggris yang paling banyak menciptakan peluang sepanjang turnamen dengan total 23 peluang.

Baca Juga: 104 Siswa Baru SMAN 1 Panarukan Deklarasi Anti-Rokok, Belajar Hadapi Bencana

Di sisi lain, Mbappe memimpin produktivitas peluang Prancis dengan 33 peluang, hanya terpaut satu dari Lionel Messi yang telah menciptakan 34 peluang.

Secara keseluruhan, Prancis tampil lebih agresif sepanjang turnamen. Les Bleus mencatatkan total 120 peluang, sedangkan Inggris menghasilkan 99 peluang.

Namun efektivitas penyelesaian akhir Inggris sedikit lebih baik. Three Lions mampu mengonversi 14 persen peluang menjadi gol, sedangkan Prancis berada di angka 13 persen. Meski begitu, nilai expected goals (xG) Prancis tetap lebih tinggi dengan catatan 13,79 dibandingkan Inggris yang membukukan 12,7.

Pertandingan ini juga menjadi kesempatan penting bagi Tuchel untuk meredakan tekanan publik. Kemenangan atas Prancis dapat menjadi modal positif menjelang masa depan tim nasional Inggris, sementara kekalahan berpotensi memperbesar tekanan terhadap posisinya sebagai pelatih.

Baca Juga: Wapres Gibran ke Situbondo, Tim Medis IHC RS Elizabeth Siaga Penuh

Tantangan lain datang dari catatan sejarah. Inggris belum pernah memenangi pertandingan perebutan tempat ketiga Piala Dunia. Pada edisi 1990, Three Lions kalah 1-2 dari Italia, sedangkan pada Piala Dunia 2018 mereka kembali gagal setelah takluk 0-2 dari Belgia.

Pada dua kesempatan tersebut, motivasi Inggris dinilai tidak berada pada level terbaik. Kekalahan dari Italia disebut dipengaruhi minimnya semangat pemain menjalani pertandingan yang dianggap tidak terlalu penting.

Situasi serupa juga terjadi pada 2018 ketika Gareth Southgate secara terbuka menyebut laga perebutan tempat ketiga sebagai pertandingan yang tidak diharapkan.

Kondisi psikologis kedua tim menjelang pertandingan kali ini pun berbeda. Prancis dinilai lebih cepat menerima kekalahan dari Spanyol yang memang tampil lebih baik pada semifinal.

Sebaliknya, Inggris masih harus menghadapi kekecewaan setelah gagal mempertahankan keunggulan dan akhirnya kalah 1-2 dari rival lamanya, Argentina. Kekalahan tersebut meninggalkan beban mental yang diyakini masih memengaruhi suasana tim.

Perbedaan kondisi psikologis itu dapat menjadi salah satu faktor yang menentukan jalannya pertandingan. Meski demikian, Inggris memiliki catatan cukup baik saat menghadapi Prancis dalam beberapa pertemuan di ajang Piala Dunia.

Persaingan memperebutkan posisi ketiga diperkirakan tetap berlangsung sengit. Selain mempertaruhkan gengsi kedua negara, duel ini juga menjadi panggung terakhir bagi para kandidat Golden Boot.

Apabila Harry Kane dan Kylian Mbappe sama-sama tampil dengan ambisi besar untuk menambah koleksi gol, intensitas pertandingan diperkirakan tidak akan jauh berbeda dengan partai final.

Perebutan Golden Boot berpotensi menjadi faktor utama yang menjaga tensi pertandingan tetap tinggi hingga peluit akhir dibunyikan.

Editor : Bayu Shaputra
Sumber : berbagai sumber
Prancis Mbappe Harry Kane Piala Dunia 2026 Inggris