RADARSITUBONDO.ID - Ketua Umum PSSI Erick Thohir menyatakan dukungan terhadap rencana Presiden FIFA Gianni Infantino yang mengusulkan pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE).
Sikap tersebut berbeda dengan sejumlah konfederasi sepak bola dunia yang menolak gagasan tersebut.
Erick menegaskan, dukungan PSSI tidak terlepas dari besarnya kontribusi FIFA terhadap perkembangan sepak bola Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Menurutnya, hubungan baik yang terjalin dengan FIFA telah membantu menjaga keberlangsungan sepak bola nasional, terutama setelah Indonesia menghadapi masa-masa sulit pascatragedi Kanjuruhan.
Baca Juga: Tyrone Mings Bagikan Kunci Sukses Jadi Pesepak Bola Profesional kepada Anak-anak Indonesia
Sebelumnya, Gianni Infantino mengusulkan pembentukan perusahaan baru bernama FIFA Forward Enterprise.
Perusahaan tersebut nantinya akan mengelola berbagai aset komersial FIFA, mulai dari hak siar, sponsor, penjualan tiket, hingga lisensi kompetisi, termasuk Piala Dunia.
Melalui FIFA Forward Enterprise, FIFA juga berencana menawarkan sebagian kepemilikan saham yang berkaitan dengan penyelenggaraan Piala Dunia kepada investor swasta. Langkah tersebut memicu pro dan kontra di kalangan asosiasi sepak bola dunia.
UEFA dan CONCACAF menjadi dua konfederasi yang secara terbuka menyatakan penolakan terhadap proposal tersebut.
Bahkan, keduanya sempat mengancam akan memboikot Piala Dunia apabila rencana itu tetap dijalankan. Sikap serupa kemudian mendapat dukungan dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC).
Di tengah penolakan tersebut, PSSI justru mengambil sikap berbeda. Erick Thohir menilai Indonesia memiliki pengalaman yang membuat hubungan dengan FIFA memiliki arti penting bagi keberlangsungan sepak bola nasional.
Baca Juga: H. Yoyok Dorong Sumur Bor Jadi Solusi Kekeringan Situbondo-Bondowoso, Petani Butuh Pasokan Air
Menurut Erick, pencapaian sepak bola Indonesia saat ini merupakan hasil kerja sama berbagai pihak, mulai dari masyarakat, pemerintah, hingga FIFA.
Karena itu, ia menilai sudah sepantasnya Indonesia memberikan apresiasi kepada badan sepak bola dunia tersebut.
“Gini konteksnya. Bahwa sepak bola kita hari ini bisa meraih banyak prestasi seperti sekarang karena masyarakat, pemerintah, dan FIFA hadir bersama-sama. Kita harus berterima kasih, terutama kepada FIFA,” kata Erick di Kantor Kemenpora kepada wartawan, Jumat (31/7), dikutip dari JawaPos.
Erick kemudian mengingatkan kembali situasi yang dihadapi Indonesia setelah tragedi Kanjuruhan.
Menurutnya, saat itu sepak bola Indonesia berada dalam posisi yang tidak mudah karena berpotensi menerima sanksi berat apabila tidak tercapai kesepahaman dengan FIFA.
Baca Juga: Pelayaran Pelabuhan Jangkar Kembali Normal Usai Tertunda Tiga Hari, Empat Rute Kembali Beroperasi
Ia mengatakan komunikasi yang baik antara pemerintah, masyarakat, PSSI, dan FIFA menjadi faktor penting sehingga Indonesia dapat menghindari hukuman yang lebih berat serta menjaga kompetisi dan tim nasional tetap berjalan.
“Kalau kita bicara mengenai peristiwa Kanjuruhan, apabila waktu itu masyarakat, pemerintah, dan FIFA tidak bersepakat, tidak akan ada tim nasional seperti hari ini karena kita bisa disanksi selama delapan tahun. Kami menyampaikan bahwa Indonesia membutuhkan bantuan menghadapi situasi tersebut,” ujarnya.
Erick menjelaskan, pada masa itu dirinya memang belum menjabat sebagai Ketua Umum PSSI. Namun, ia menilai Indonesia membutuhkan dukungan nyata dari FIFA, bukan sekadar dipandang sebagai pasar sepak bola yang besar dari sisi komersial.
Menurutnya, harapan tersebut kemudian diwujudkan FIFA melalui pembukaan kantor perwakilan di Jakarta. Kehadiran kantor tersebut dinilai menjadi bukti keseriusan FIFA dalam mendukung pengembangan sepak bola Indonesia.
“Apalagi Indonesia merupakan negara sepak bola, dengan sekitar 73 persen masyarakat menyukai sepak bola. Kalau bicara jumlah, bahkan lebih besar daripada Brasil,” terangnya.
Baca Juga: Perjuangan Empati Guru di Era Digital: Ketika Kasih Sayang Tak Bisa Digantikan AI
Ia juga menyoroti besarnya basis penggemar sepak bola Indonesia yang terlihat dari aktivitas di berbagai platform media sosial. Erick menyebut pengikut klub-klub besar dunia di TikTok, Instagram, hingga YouTube banyak berasal dari Indonesia.
Kondisi tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam ekosistem sepak bola global.
Karena itu, ia berharap Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi industri sepak bola internasional, tetapi juga memperoleh manfaat nyata melalui berbagai program pengembangan.
“Kalau dilihat dari media sosial, hampir semua klub besar dunia memiliki pengikut terbanyak dari Indonesia, baik di TikTok, Instagram, maupun YouTube. Artinya, jangan sampai Indonesia hanya dijadikan pasar. Karena itulah kami meminta FIFA hadir di Indonesia. Terbukti sekarang sudah ada kantor FIFA di Indonesia,” tambah Erick.
Selain membuka kantor di Indonesia, Erick menyebut FIFA juga terus menyalurkan investasi untuk mendukung berbagai program pengembangan sepak bola nasional. Dana tersebut digunakan untuk sejumlah kegiatan yang langsung dijalankan FIFA setiap tahunnya.
Baca Juga: Karyawan PT Truba Ditemukan Tewas di Mess Banyuglugur, Polisi Selidiki Penyebab Kematian
Ia mengungkapkan, terdapat sekitar 13 hingga 15 program yang didukung FIFA setiap tahun dengan nilai investasi mencapai 1 hingga 2 juta dolar Amerika Serikat.
Dana tersebut, kata Erick, disalurkan langsung oleh FIFA sebagai bentuk komitmen dalam membangun sepak bola Indonesia, termasuk kawasan Asia Tenggara dan Oseania.
“FIFA juga berinvestasi melalui sekitar 13 hingga 15 kegiatan setiap tahun dengan dana sekitar 1 sampai 2 juta dolar AS yang langsung mereka salurkan, bukan melalui kami. FIFA serius membangun sepak bola Indonesia dan kawasan Asia Tenggara serta Oseania,” paparnya.
Atas dasar pengalaman tersebut, Erick menegaskan PSSI memilih mendukung langkah FIFA dalam membentuk FIFA Forward Enterprise.
Menurutnya, kontribusi FIFA terhadap sepak bola Indonesia telah memberikan dampak nyata sehingga hubungan kemitraan yang baik perlu terus dijaga.
“Karena itu saya mengucapkan terima kasih. Kalau tidak ada kesepakatan saat itu, hari ini kita mungkin tidak memiliki tim nasional maupun kompetisi sepak bola seperti sekarang,” pungkas Erick.
Editor : Bayu ShaputraSumber : berbagai sumber