RADARSITUBONDO.ID - Posisi Presiden FIFA, Gianni Infantino, menghadapi tekanan besar setelah gagalnya rencana penjualan sebagian saham hak komersial Piala Dunia.
Kontroversi yang muncul akibat kebijakan tersebut memicu krisis kepercayaan terhadap kepemimpinan FIFA dan menuai kritik dari sejumlah pihak di dunia sepak bola.
Kepala Liga-Liga Eropa, Claudius Schafer, menilai polemik tersebut menjadi pukulan serius bagi kredibilitas organisasi.
Menurutnya, cara FIFA mengambil keputusan dalam persoalan bisnis berskala besar tanpa melibatkan badan-badan utama organisasi merupakan langkah yang sulit diterima.
Baca Juga: Juventus Resmi Permanenkan Randal Kolo Muani dari PSG, Kontrak hingga 2031
Schafer menegaskan bahwa proses pengambilan keputusan seperti itu semestinya dilakukan secara terbuka dengan melibatkan seluruh unsur penting di dalam FIFA.
Ia menilai tindakan sepihak dalam organisasi sebesar FIFA tidak hanya berisiko memicu penolakan, tetapi juga dapat berdampak pada legitimasi kepemimpinan.
Menurut Schafer, dalam organisasi mana pun, keputusan bisnis dengan nilai dan dampak sebesar rencana penjualan hak komersial Piala Dunia seharusnya melalui mekanisme yang jelas. Karena itu, ia menilai posisi Infantino kini berada dalam tekanan yang semakin besar.
Schafer juga mempertanyakan dugaan bahwa Dewan FIFA tidak dilibatkan secara optimal dalam penyusunan rencana tersebut. Kondisi itu dinilai semakin memperkuat kritik terhadap tata kelola organisasi yang selama ini dipimpin Infantino.
Baca Juga: Timnas Indonesia Bidik Kemenangan atas Vietnam, Rizky Ridho Waspadai Permainan Provokatif Lawan
Sebelumnya, FIFA memutuskan menarik kembali rencana penjualan sebagian hak komersial Piala Dunia setelah mendapatkan penolakan dari sejumlah konfederasi sepak bola.
Keputusan tersebut diambil menyusul meningkatnya keberatan dari berbagai pihak yang menilai kebijakan itu berpotensi mengubah arah pengelolaan kompetisi paling bergengsi di dunia tersebut.
Penolakan paling keras datang dari UEFA dan CONCACAF. Kedua konfederasi itu bahkan menyatakan telah kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan Infantino setelah kontroversi tersebut mencuat.
Meski FIFA akhirnya membatalkan proposal itu, langkah tersebut dinilai belum cukup untuk mengembalikan kepercayaan berbagai pemangku kepentingan. Kekhawatiran mengenai transparansi dan tata kelola organisasi masih menjadi sorotan utama.
Baca Juga: Ramalan Zodiak Hari Ini 3 Agustus 2026, Ada yang Ketiban Rezeki Nomplok, Ada Terancam Kehilangan!
Selain menyoroti aspek tata kelola, Schafer juga mengkritik arah kebijakan FIFA yang dinilai lebih mengutamakan kepentingan finansial dibandingkan perkembangan sepak bola secara menyeluruh.
Menurutnya, kebijakan yang berorientasi pada peningkatan pendapatan berpotensi mengorbankan keseimbangan ekosistem sepak bola.
Ia menilai penambahan berbagai kompetisi internasional hanya akan membuat kalender pertandingan semakin padat.
Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak langsung terhadap liga-liga domestik yang selama ini menjadi fondasi utama perkembangan sepak bola di berbagai negara.
Padatnya jadwal pertandingan juga dinilai dapat meningkatkan beban yang harus ditanggung klub maupun pemain. Situasi tersebut berpotensi memengaruhi kualitas kompetisi domestik sekaligus memperbesar risiko kelelahan pemain sepanjang musim.
Baca Juga: Thom Haye Dinilai Punya Adaptabilitas Tinggi, John Herdman Sebut Sangat Vital bagi Timnas Indonesia
Karena itu, Schafer menekankan bahwa FIFA perlu menempatkan transparansi sebagai prinsip utama dalam setiap pengambilan kebijakan strategis.
Menurutnya, seluruh pemangku kepentingan harus dilibatkan agar setiap keputusan yang diambil benar-benar mencerminkan kepentingan bersama, bukan hanya berorientasi pada aspek komersial.
Editor : Bayu ShaputraSumber : berbagai sumber