RADARSITUBONDO.ID - Pemecatan dari Real Madrid menjadi pengalaman paling berat dalam perjalanan karier kepelatihan Xabi Alonso.
Meski demikian, mantan gelandang tim nasional Spanyol itu menegaskan dirinya telah bangkit dari kekecewaan dan siap membuka lembaran baru bersama Chelsea dengan ambisi membangun kembali budaya juara di Stamford Bridge.
Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Santiago Bernabeu, Alonso berbicara secara terbuka mengenai masa sulit yang dialaminya.
Pelatih berusia 44 tahun tersebut mengakui pemecatan itu sempat meninggalkan luka mendalam. Namun, ia memastikan pengalaman tersebut kini telah menjadi bagian dari proses yang membuatnya berkembang sebagai pelatih.
Baca Juga: iPhone Air 2 Dirumorkan Meluncur Awal 2027, Ini Spesifikasi yang Mulai Terungkap
Alonso hanya menjalani masa jabatan selama 233 hari setelah dipercaya menangani Real Madrid pada Mei 2025.
Masa kerjanya berakhir lebih cepat meski mampu mencatat persentase kemenangan di atas 70 persen dan hanya menelan enam kekalahan selama memimpin Los Blancos.
Tingginya standar yang diterapkan klub membuat hasil tersebut belum cukup untuk mempertahankan posisinya sebagai pelatih.
Alih-alih terus terpuruk, Alonso memilih menjadikan pengalaman itu sebagai pelajaran berharga dalam perjalanan kariernya.
"Untungnya tidak banyak luka dalam karier saya. Memang ada satu luka, tetapi itu sudah sembuh. Sekarang saya sangat termotivasi menikmati langkah baru ini seperti saat pertama kali melatih Real Madrid," ujar Alonso.
Setelah meninggalkan Real Madrid, Alonso memanfaatkan waktunya untuk beristirahat sekaligus melakukan evaluasi terhadap pekerjaannya. Ia mengaku sengaja mengambil jarak dari dunia sepak bola agar dapat kembali dengan kondisi mental yang lebih segar.
Selama masa jeda tersebut, Alonso lebih banyak melakukan refleksi terhadap berbagai keputusan yang diambil selama menangani Real Madrid. Menurutnya, sikap kritis terhadap diri sendiri menjadi bagian penting dalam proses berkembang sebagai seorang pelatih.
"Saya sangat kritis terhadap diri sendiri. Saya memikirkan apa yang bisa dilakukan lebih baik karena hasilnya memang tidak sesuai harapan," katanya.
Baca Juga: Pengisian Instrumen Tes MPLS Ramah 2026 Diperpanjang hingga 7 Agustus, Cek Info Lengkapnya
Alonso menilai kegagalan justru memberikan pembelajaran yang jauh lebih berharga dibandingkan keberhasilan. Pengalaman di Madrid membuatnya memahami berbagai aspek yang perlu diperbaiki untuk menghadapi tantangan berikutnya
"Tentu saja saya menjadi pelatih yang lebih baik. Dari kekecewaan kita belajar dan berharap hasil berikutnya akan lebih baik," ucapnya.
Kini, seluruh perhatian Alonso tertuju kepada Chelsea. Ia melihat The Blues masih memiliki fondasi yang cukup kuat untuk kembali bersaing di papan atas Liga Inggris meski musim sebelumnya berakhir di bawah ekspektasi.
Menurut Alonso, membangun tim tidak hanya bergantung pada kualitas taktik. Ia menilai budaya di ruang ganti dan hubungan antarpemain memiliki peran yang sama penting dalam menciptakan kesuksesan sebuah klub.
"Semangat tim sama pentingnya dengan taktik. Setelah itu baru bermain bagus dan memenangkan pertandingan," jelasnya.
Baca Juga: Diduga Tertekan Masalah Ekonomi dan Keluarga, Warga Jangkar Ditemukan Meninggal Dunia
Keyakinan Alonso menerima tawaran Chelsea juga didasarkan pada kesamaan pandangan dengan jajaran manajemen klub.
Ia merasa seluruh pihak memiliki visi yang sejalan mengenai langkah-langkah yang perlu dilakukan agar Chelsea kembali menjadi penantang serius dalam perebutan gelar.
"Saya melihat potensi besar di sini. Situasinya tidak seburuk yang terlihat pada akhir musim lalu. Kami memiliki analisis yang sama mengenai apa yang harus diperbaiki," ujarnya.
Pengalaman panjang Alonso sebagai pemain turut membentuk cara pandangnya dalam melatih.
Sepanjang kariernya, ia pernah bekerja di bawah sejumlah pelatih papan atas dunia, seperti Pep Guardiola, Carlo Ancelotti, Jose Mourinho, Vicente del Bosque, hingga Rafael Benitez.
Dari seluruh nama tersebut, Guardiola menjadi sosok yang memberikan pengaruh paling besar terhadap perkembangan filosofi kepelatihannya.
Saat memperkuat Bayern Munchen, Alonso mengaku sering berdiskusi secara langsung mengenai pendekatan taktik, strategi pertandingan, hingga berbagai detail permainan.
Baca Juga: Pemotor Ditemukan Tewas di Jurang Enam Meter di Arjasa, Diduga Terjatuh Lalu Tertimpa Motornya
Kebiasaan tersebut perlahan menumbuhkan minat Alonso untuk menekuni dunia kepelatihan setelah gantung sepatu.
Ia mulai memahami bahwa sepak bola tidak hanya soal memainkan pertandingan, tetapi juga bagaimana merancang sebuah sistem yang mampu mengeluarkan potensi terbaik setiap pemain.
"Saya selalu penasaran bukan hanya soal bermain, tetapi mengapa sesuatu dilakukan di lapangan. Dari situ saya mulai berpikir bagaimana suatu hari nanti saya akan melatih dengan karakter saya sendiri," ungkapnya.
Karier Alonso sebagai pelatih dimulai bersama tim U-14 Real Sociedad sebelum namanya melejit ketika menangani Bayer Leverkusen.
Bersama klub Bundesliga itu, ia mencatatkan prestasi luar biasa dengan membawa Leverkusen meraih gelar Bundesliga dan DFB Pokal 2024 tanpa menelan satu kekalahan pun sepanjang musim.
Editor : Bayu ShaputraSumber : berbagai sumber