RADARSITUBONDO.ID - UEFA menegaskan bahwa ancaman boikot terhadap berbagai kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia, belum dicabut meskipun badan sepak bola dunia itu telah membatalkan rencana penjualan sebagian saham komersial turnamen tersebut kepada investor swasta.
Sikap itu menunjukkan hubungan antara UEFA dan FIFA masih berada dalam ketegangan yang cukup serius.
Dalam pernyataan terbarunya, UEFA menyatakan bahwa pembatalan proposal belum memenuhi syarat yang mereka ajukan sebelumnya.
Organisasi sepak bola Eropa tersebut menegaskan bahwa sikap mereka tetap sama sampai FIFA memberikan jaminan yang dianggap memadai.
"Bagi kami, tidak ada yang berubah (ancaman boikot). Pertama, proposal penjualan kompetisi utama harus dibatalkan sepenuhnya. Kedua, harus ada jaminan bahwa upaya yang dapat merusak sepak bola seperti itu tidak akan pernah dilakukan lagi. Syarat-syarat tersebut belum dipenuhi," demikian pernyataan UEFA.
Baca Juga: Maarten Paes Bermain 90 Menit, Ajax Kantongi Modal Besar Menuju Leg Kedua Liga Conference
Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa pencabutan proposal belum otomatis mengembalikan kepercayaan UEFA kepada Presiden FIFA Gianni Infantino.
Sebelumnya, UEFA telah secara terbuka menyampaikan bahwa mereka kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan Infantino dalam menangani rencana pembentukan FIFA Forward Enterprise.
FIFA Forward Enterprise sebelumnya disiapkan sebagai perusahaan yang akan mengelola penjualan sekitar 20 persen saham komersial Piala Dunia. Nilai transaksi yang direncanakan disebut mencapai 20 miliar dolar AS atau sekitar Rp325 triliun dengan kurs saat ini.
Rencana itu memicu penolakan dari berbagai federasi dan pemangku kepentingan sepak bola internasional. UEFA menjadi salah satu pihak yang paling keras mengkritik proposal tersebut karena dianggap disusun secara tertutup dan tidak melalui proses konsultasi yang transparan.
Menurut UEFA, struktur dan mekanisme yang dirancang dalam FIFA Forward Enterprise berpotensi mengubah arah pengelolaan sepak bola internasional menjadi terlalu berorientasi pada kepentingan komersial. Kekhawatiran itu yang kemudian mendorong munculnya ancaman boikot terhadap kompetisi-kompetisi FIFA.
Baca Juga: Vivo S2 Resmi Rilis di India, Simak Fitur Unggulan dan Harganya Disini
Tekanan yang terus meningkat akhirnya membuat FIFA mengakui adanya kekeliruan dalam proses penyusunan proposal tersebut.
Dalam surat resmi yang dikirimkan kepada Dewan FIFA dan seluruh asosiasi anggota, FIFA menyampaikan permohonan maaf atas cara penanganan rencana tersebut.
FIFA mengakui bahwa proses penyusunan dan komunikasi proposal seharusnya dilakukan dengan pendekatan yang berbeda. Pengakuan itu disampaikan setelah gelombang penolakan terhadap rencana penjualan saham komersial Piala Dunia semakin meluas.
Setelah menerima berbagai keberatan, FIFA akhirnya memutuskan untuk membatalkan proposal penjualan saham tersebut. Langkah itu sempat diperkirakan dapat meredakan ketegangan dengan UEFA dan sejumlah federasi Eropa lainnya.
Baca Juga: Warga Terdampak Tolato PG Panji Mengaku Tak Pernah Terima Kompensasi, Keluhan Polusi Kembali Mencuat
Namun perkembangan terbaru menunjukkan situasinya belum sepenuhnya mereda. UEFA menilai pembatalan proposal hanyalah langkah awal dan belum menyentuh persoalan utama yang mereka soroti, yaitu jaminan tata kelola yang transparan dan perlindungan terhadap integritas sepak bola internasional.
Organisasi tersebut menegaskan bahwa mereka tetap menunggu tindakan konkret dari FIFA. Selama tuntutan yang telah disampaikan belum dipenuhi, ancaman boikot terhadap kompetisi FIFA masih tetap berada di atas meja.
Ketegangan ini menjadi salah satu tantangan terbesar bagi hubungan antara FIFA dan UEFA dalam beberapa tahun terakhir.
Kedua organisasi merupakan aktor paling berpengaruh dalam sepak bola dunia, sehingga perbedaan pandangan mengenai arah pengelolaan kompetisi global memiliki dampak yang sangat besar terhadap ekosistem sepak bola internasional.
Sampai saat ini belum ada indikasi bahwa UEFA akan segera mencabut ancaman tersebut. Pernyataan terbaru mereka justru memperlihatkan bahwa hubungan dengan FIFA masih membutuhkan proses pemulihan kepercayaan yang panjang sebelum ketegangan benar-benar dapat diselesaikan.
Editor : Bayu ShaputraSumber : berbagai sumber