UEFA, Concacaf, dan AFC Kompak Pertanyakan Kepemimpinan Gianni Infantino

Bayu Shaputra • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 12:15 WIB
Presiden FIFA, Gianni Infantino
Presiden FIFA, Gianni Infantino

 

RADARSITUBONDO.ID - Tekanan terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino semakin menguat. UEFA, Concacaf, dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) secara bersama-sama mengeluarkan surat terbuka yang mempertanyakan arah kepemimpinan organisasi sepak bola dunia tersebut.

Surat itu menjadi perkembangan terbaru dalam konflik yang mulai mencuat di internal FIFA.

Perselisihan tersebut berkaitan dengan proposal FIFA Forward Enterprise (FFE), tetapi persoalannya kini berkembang lebih jauh karena menyentuh aspek kepercayaan, transparansi, hingga tata kelola organisasi.

Dalam surat terbuka tersebut, tiga konfederasi menilai persoalan FFE tidak dapat dipandang hanya sebagai kesalahan prosedural.

Mereka mempertanyakan proses pengambilan keputusan FIFA dan bagaimana organisasi tersebut menjalankan mandatnya terhadap seluruh anggota keluarga sepak bola.

Baca Juga: AS dan Kanada Kritik Tata Kelola FIFA, Sikap Berseberangan dengan Meksiko

FFE merupakan rencana FIFA untuk membentuk perusahaan baru yang bertugas mengelola hak komersial dan tiket sejumlah kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia.

Dalam proposal tersebut, sekitar 21 persen kepentingan perusahaan direncanakan untuk dijual kepada investor swasta.

Rencana itu kemudian mendapat penolakan dari sejumlah konfederasi. UEFA menjadi salah satu pihak yang paling keras menyampaikan keberatan terhadap proposal tersebut.

Penolakan bahkan berkembang hingga muncul ancaman kemungkinan boikot terhadap kompetisi yang berada di bawah FIFA.

Proposal FFE pada akhirnya dibatalkan. Namun, keputusan tersebut tidak serta-merta menghentikan persoalan. UEFA, Concacaf, dan AFC kini justru meminta adanya evaluasi lebih mendalam terhadap proses yang melatarbelakangi munculnya proposal tersebut.

Baca Juga: Gempa Kolombia Magnitudo 7,4 Tewaskan 111 Orang, Ribuan Rumah Rusak

Dalam surat terbuka terbaru, ketiga konfederasi menegaskan bahwa kepemimpinan sepak bola seharusnya dijalankan sebagai bentuk pelayanan kepada seluruh keluarga sepak bola.

Kepemimpinan, menurut mereka, tidak semestinya digunakan sebagai sarana untuk mempertahankan kekuasaan.

Meskipun nama Gianni Infantino tidak disebut secara langsung dalam surat tersebut, pesan yang disampaikan dinilai cukup jelas. Isi pernyataan itu menjadi bentuk kritik serius terhadap kepemimpinan Presiden FIFA tersebut.

Sejumlah sumber yang dikutip BBC Sport bahkan menggambarkan pernyataan tersebut sebagai dorongan agar Infantino mempertimbangkan untuk meninggalkan jabatannya.

Persoalan tidak berhenti pada proposal FFE. Pertemuan yang digelar Infantino di Rabat, Maroko, pekan lalu juga menjadi sorotan.

UEFA, Concacaf, dan AFC mempertanyakan keputusan FIFA yang tidak melibatkan anggota Dewan FIFA maupun asosiasi anggota dalam pertemuan tersebut.

Baca Juga: Aturan Penebusan Pupuk Subsidi Berubah, Petani Situbondo Diminta Perbarui KTP

Bagi ketiga konfederasi, proses pengambilan keputusan menjadi bagian penting dari persoalan yang sedang dihadapi FIFA. Mereka menilai komunikasi dan keterlibatan anggota seharusnya menjadi bagian dari tata kelola organisasi.

Ketiga konfederasi juga menilai pengakuan FIFA mengenai adanya kesalahan dalam proses FFE belum menyelesaikan masalah. Mereka menginginkan pengakuan yang lebih mendasar bahwa proposal tersebut sejak awal merupakan keputusan yang keliru.

Rencana untuk menjual sebagian kepentingan komersial yang berkaitan dengan Piala Dunia kepada pihak swasta bahkan dipandang sebagai kegagalan serius dalam proses pengambilan keputusan.

FIFA sendiri diperkirakan akan menyampaikan laporan mengenai persoalan tersebut dalam pertemuan Dewan FIFA yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober.

Laporan itu nantinya diharapkan memberikan gambaran mengenai proses yang terjadi di balik proposal FFE dan keputusan pembatalannya.

Namun, UEFA, Concacaf, dan AFC meminta pemeriksaan dilakukan oleh pihak independen. Mereka menilai keterlibatan pihak luar diperlukan agar proses evaluasi berlangsung secara transparan dan dapat dipercaya oleh seluruh pihak.

Konflik yang semakin terbuka ini juga memunculkan kemungkinan terbentuknya kompetisi di luar struktur FIFA. BBC Sport melaporkan bahwa pembicaraan awal mengenai kemungkinan menghadirkan kompetisi tandingan telah dilakukan oleh ketiga konfederasi.

Belum ada kepastian mengenai bentuk kompetisi tersebut. Jadwal, format, maupun peserta juga belum diketahui.

Akan tetapi, munculnya pembicaraan mengenai kompetisi tandingan menunjukkan bahwa perselisihan antara sejumlah konfederasi dan FIFA telah memasuki fase yang lebih serius.

Baca Juga: Harga Plastik Naik, Omzet Pengrajin Tas Anyaman Sumberkolak Tergerus

Posisi AFC menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan konflik tersebut. Dari total 46 anggota AFC, baru delapan negara yang secara terbuka menyatakan dukungan kepada Infantino.

Negara-negara tersebut adalah Uni Emirat Arab, Qatar, Sri Lanka, Lebanon, Kuwait, Mongolia, Filipina, dan Bhutan.

Infantino masih memiliki dukungan dari sejumlah kawasan lain, termasuk Amerika Selatan dan Afrika. Kondisi tersebut membuat peta dukungan terhadap Presiden FIFA belum sepenuhnya berubah.

Namun, apabila UEFA, sebagian besar anggota Concacaf, dan sejumlah anggota AFC bergerak dalam posisi yang sama, keseimbangan kekuatan di FIFA berpotensi mengalami perubahan.

Situasi tersebut membuat masa depan Infantino menjadi salah satu perhatian utama dalam konflik yang sedang berkembang di tubuh sepak bola dunia.

Belum ada kepastian mengenai apakah tekanan dari sejumlah konfederasi akan berdampak langsung terhadap posisinya sebagai Presiden FIFA.

Yang jelas, penolakan terhadap kebijakan FIFA kini tidak lagi datang secara terpisah. UEFA, Concacaf, dan AFC telah menunjukkan sikap bersama dengan mempertanyakan proses pengambilan keputusan, transparansi, dan tata kelola organisasi.

Perkembangan ini berpotensi menjadi salah satu ujian kepemimpinan terbesar bagi Gianni Infantino sejak memimpin FIFA.

Perselisihan yang bermula dari proposal FIFA Forward Enterprise kini telah berkembang menjadi pertarungan mengenai arah kepemimpinan dan tata kelola sepak bola dunia.

Editor : Bayu Shaputra
Sumber : berbagai sumber
Gianni Infantino Concacaf afc uefa fifa