Athaullah Daib, Kiper 16 Tahun PSIM Yogyakarta  yang Naik Kelas ke Tim Senior

Niklaas Andries • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 07:07 WIB
BOCAH AJAIB: Athaullah Daib promosi ke tim seniot PSIM (PSIM)
BOCAH AJAIB: Athaullah Daib promosi ke tim seniot PSIM (PSIM)

RADARBANYUWANGI.ID - Jalan menuju sepak bola profesional tak selalu dimulai dari panggung besar. Bagi Athaullah Daib, langkah itu justru datang ketika usianya baru 16 tahun. PSIM Yogyakarta resmi mengorbitkan kiper muda jebolan Elite Pro Academy (EPA) U-16 ke tim senior untuk menghadapi Super League 2026-2027.

Daib mendapat kesempatan berharga untuk menjalani satu musim penuh bersama skuad utama Laskar Mataram. Ia akan berlatih dalam lingkungan yang jauh lebih kompetitif, berdampingan dengan pemain-pemain senior dan berada di bawah arahan pelatih kepala Jean Paul van Gastel.

Promosi tersebut bukan sekadar keputusan untuk memenuhi komposisi skuad. PSIM melihat ada potensi yang layak dikembangkan dari penjaga gawang kelahiran 9 April 2010 itu.

Van Gastel, yang memiliki pengalaman panjang dalam pembinaan pemain muda saat berada di akademi Feyenoord Rotterdam, menjadi salah satu pihak yang cukup antusias dengan perkembangan Daib.

“Saya sangat senang bekerja dengan talenta-talenta muda. Kami mengundang anak ini berlatih bersama kami karena ia baru berusia 16 tahun dan performanya cukup baik. Jadi, kami memutuskan untuk mempertahankannya dan mencoba mengembangkan potensinya,” kata Van Gastel.

Bukan Sekadar Pelengkap Skuad

Menariknya, Daib tidak langsung diposisikan sebagai pemain muda yang sekadar ikut berlatih dengan tim senior. Perkembangannya mendapat perhatian khusus dari tim pelatih, termasuk pelatih kiper PSIM, Mario Capece.

Capece memberikan porsi latihan khusus selama periode observasi. Van Gastel pun beberapa kali memantau perkembangan sang kiper sebelum akhirnya memberikan lampu hijau untuk promosi.

“Tim pelatih merekomendasikannya kepada kami. Kemudian, Mario melatihnya secara khusus dan saya sempat memantau beberapa kali. Saya melihat anak ini memiliki potensi yang sangat besar,” ujar Van Gastel.

Keputusan itu menunjukkan satu hal penting: PSIM mulai menjadikan jalur akademi sebagai bagian nyata dari pembangunan tim utama. Di tengah tuntutan kompetisi level tertinggi, keberanian memberikan ruang kepada pemain berusia 16 tahun menjadi investasi jangka panjang.

Bagi Van Gastel, keberadaan Daib juga dapat menjadi pemantik bagi pemain muda lain di akademi.

“Hal ini sekaligus menjadi sinyal positif bagi akademi kami bahwa para pemain muda memiliki masa depan yang cerah di klub ini. Kami juga sedang mempertimbangkan apakah ada pemain berbakat lainnya yang dapat kami promosikan ke tim utama,” tegasnya.

Dari Gunungkidul Menuju Tim Senior PSIM

Bagi Daib, promosi tersebut merupakan pencapaian yang jauh melampaui sekadar perubahan status dalam daftar pemain. Remaja asal Gunungkidul itu kini menjadi bagian dari lingkungan yang selama ini hanya hadir dalam mimpinya.

Sebagai pelajar kelas XI SMA Negeri 2 Playen, ia masih menjalani kehidupan sebagai remaja. Namun, di saat bersamaan, ia mulai berhadapan dengan tuntutan sepak bola profesional.

“Pertama-tama, saya mengucapkan Alhamdulillah karena sudah bisa masuk ke dalam tim senior pada usia 16 tahun ini,” kata Daib.

Mimpi itu, menurut Daib, telah muncul sejak dirinya mulai menekuni sepak bola. Kini, mimpi tersebut perlahan berubah menjadi kenyataan.

“Dahulu hal ini selalu terbawa ke dalam mimpi. Saya sering bermimpi bisa bermain di tim senior, dan alhamdulillah sekarang mimpi tersebut sudah menjadi kenyataan,” ujarnya.

Menariknya, sosok yang menjadi panutannya bukan sembarang penjaga gawang. Daib mengidolakan Thibaut Courtois, kiper asal Belgia yang dikenal dengan postur tinggi, kemampuan membaca permainan, serta ketenangannya dalam situasi tekanan.

Pengalaman baru di tim senior PSIM pun menjadi kesempatan bagi Daib untuk memperkaya pengetahuan. Ia tidak hanya belajar dari pemain yang lebih matang secara usia dan pengalaman, tetapi juga dari pendekatan kepelatihan yang dibawa Van Gastel.

“Bagi saya pribadi, saya cukup senang bisa dilatih oleh pelatih asing asal Eropa yang membawa budaya sepak bola Eropa ke Indonesia,” ucapnya.

Pengalaman Swedia dan Target Timnas

Daib sebenarnya sudah memiliki pengalaman internasional di level usia muda. Pada 2023, ia pernah mengikuti perjalanan ke Swedia bersama Tim Barati.

Pengalaman tersebut menjadi modal penting untuk membangun mental dan memperluas perspektifnya mengenai sepak bola di luar Indonesia.

Kini, targetnya pun mulai berkembang. Masuk tim senior PSIM bukan dianggap sebagai garis akhir, melainkan pijakan berikutnya untuk mengejar level yang lebih tinggi.

“Iya, kalau target untuk masuk tim nasional itu pasti ada,” kata Daib.

Target tersebut memang masih panjang. Namun, keberanian PSIM memberi ruang kepada pemain seusianya menjadi fondasi penting. Sebagai kiper, Daib memiliki waktu untuk berkembang, belajar mengelola tekanan, sekaligus memahami tuntutan sepak bola senior sejak usia dini.

Tetap Bisa Membela EPA

Promosi ke tim senior tidak serta-merta memutus hubungan Daib dengan kelompok usia. PSIM tetap membuka kemungkinan bagi sang pemain untuk tampil bersama EPA apabila dibutuhkan.

“Saya didaftarkan di tim senior, tetapi tetap bisa bermain untuk tim EPA juga,” tegasnya.

Situasi itu justru bisa menjadi keuntungan. Daib dapat memperoleh pengalaman latihan bersama pemain senior sekaligus tetap mendapatkan menit bermain di kelompok umur.

Bagi seorang penjaga gawang muda, kombinasi tersebut sangat penting. Latihan bersama pemain senior membentuk mental dan pemahaman permainan, sedangkan pertandingan di kelompok usia memberikan ruang untuk mendapatkan pengalaman kompetitif.

PSIM pun kini memiliki dua pekerjaan sekaligus: menjaga agar Daib tidak terburu-buru dibebani ekspektasi, tetapi pada saat yang sama memastikan potensinya terus berkembang.

Promosi Athaullah Daib akhirnya bukan hanya cerita tentang kiper berusia 16 tahun yang naik kelas. Ini juga menjadi gambaran bagaimana PSIM mulai membuka pintu lebih lebar bagi produk akademinya.

Jika proses pembinaannya berjalan tepat, Daib bisa menjadi salah satu investasi masa depan Laskar Mataram. Dan perjalanan itu kini resmi dimulai dari ruang ganti tim senior. (*)

Editor : Niklaas Andries
Sumber : Radar Situbondo
Athaullah Daib kiper muda PSIM Elite Pro Academy PSIM Super League 2026-2027 PSIM Yogyakarta